SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Kapuk Jawa, Keunggulan yang Terlupakan

| | |
Jika pohon randu mulai berbunga, dulu kebanyakan orang melihatnya sebagai pertanda hadirnya musim hujan. Demikian juga hadirnya musim kemarau ditandai dengan pecahnya kulit buah pohon randu saat angin akan menerbangkan kapuk yang halus dan lembut ke udara.

Namun, pertanda alam itu saat ini mulai sulit diandalkan. Tiba-tiba saja di tengah masa kemarau, pertengahan Agustus lalu, hujan deras mengguyur Kota Semarang, air menggenang di sudut-sudut kota.

Alam telah berubah. Dulu di banyak tempat dengan mudah ditemukan pohon randu di pinggir jalan menuju pedesaan. Kemurahan alam itu pernah menorehkan nama besar Java Kapok di seantero dunia. Sekarang, di beberapa daerah yang dulu dikenal sebagai pusat tumbuhnya komoditas itu, seperti Pati, Kudus, dan Jepara, pun pohon-pohon randu juga tak semarak dulu. ”Dulu pegunungan Muria penuh ditumbuhi randu,” kata Mustaqim, warga Desa Terban, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Pada masa pemerintahan kolonial, komoditas itu diekspor, menjadi nomor satu di dunia. Tak hanya kapuknya, minyak biji kapuk pun diekspor. Hutan randu pun terjaga. Sebaliknya, saat ini lereng pegunungan di kawasan Pati dan sekitarnya tampak gundul.

Menurun

Dalam data statistik diketahui, dalam tiga tahun terakhir jumlah tanaman di Pati terus menurun. Tentu saja berkurangnya jumlah tanaman itu berpengaruh terhadap jumlah produksi.

Pada tahun 2004, jumlah luasan tanaman kapuk mencapai 17.870 hektar dengan produksi mencapai 8.370,71 ton. Tingkat produktivitasnya mencapai 554 kilogram per hektar. Pada tahun berikutnya jumlah lahan produksi turun 1.386 hektar hingga hanya tersisa 16.484 hektar. Berkurangnya luas lahan berpengaruh juga jumlah produksi tahun 2005 dengan hanya mencapai 8.344,15 ton. Pada tahun 2006 luasan tanam kapuk di Pati kembali turun hingga hanya 16.330 hektar. Penurunan itu juga memengaruhi tingkat produksi yang juga turun sebanyak 119,31 ton.

Menurut Santoso, pengusaha kapuk asal Desa Karaban, Pati, salah satu penyebabnya adalah banyaknya pohon kapuk yang ditebang dan digunakan sebagai bahan bangunan. Berkurangnya pasokan membuat para pengusaha mencampur kapuk mereka dengan kapuk yang didatangkan dari Thailand.

Tidak hanya itu, pabrik minyak klentheng (biji kapuk) di Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, sudah dua tahun berhenti akibat kelangkaan bahan baku. Semasa jaya dan bahan baku melimpah, pabrik itu bisa mengolah 24 ton biji kapuk per hari. Karena kelangkaan bahan baku, pemilik perusahaan Tio Hien Thwan (THT) pun menutup produksinya sejak dua tahun lalu. Pabrik pun terbengkalai. Bahkan, 10 mesin pengolah menjadi sarang laba-laba. Padahal, pabrik tersebut pada saat masih berproduksi menyerap sedikitnya 30 pekerja.

Semula pabrik yang berdiri tahun 1937 itu memproduksi minyak kacang. Sejak 1971 mereka mulai memproduksi minyak klentheng. Dukungan bahan baku masih bagus karena hampir di seluruh lereng Muria dipenuhi kapuk.

Bahkan, di sepanjang jalan dulu banyak dipenuhi tanaman randu yang menghasilkan kapuk, seperti di Trungkal, Tayu, atau Bangsri. ”Tetapi, kini banyak tanaman yang ditebang untuk dibuat papan perlengkapan pengecoran. Dan kini yang masih bertahan justru pabrik pengolahan kapuk berbentuk industri rumahan, seperti di Desa Karaban,” kata Agus Pramukajaya, yang dulu menangani bagian produksi minyak klentheng di THT.

Agus menuturkan, pasokan bahan baku mulai tersendat sejak lima tahun lalu. Pasokan bahan baku turun akibat produksi kapuk menurun setelah banyak pohon kapuk ditebang. ”Masyarakat memilih menanam ketela pohon. Kalau pohon randu tidak ditebang, itu akan menghambat pertumbuhan ketela karena sinar matahari terhalang. Masyarakat memilih tanam ketela karena lebih bisa cepat dipanen,” kata Agu.

Menurut Agus, pabrik minyak klentheng di THT dulunya bisa mengolah 24 ton klentheng per hari. Yang menjadi minyak hanya 14 persen, sisanya berupa bungkil. Bungkilnya bisa diekspor untuk pakan ternak dan media pembiakan jamur merang. Minyak klentheng diekspor ke Jepang sebagai bahan insektisida dan pelumas mi basah agar tidak mudah apek. Adapun abu klothok dari kulit randu bisa menjadi soda kristal untuk bahan baku sabun. ”Sebetulnya, semua bagian kapuk bisa digunakan. Kalau pasokan biji kapuk masih ada, mesin kami masih bisa mengolah minyak biji kapuk,” kata Agus.

Potensi

Menurut teknisi Perkebunan Percobaan Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Sata Yoga (47), meski sebagian besar perkebunan kapuk sudah berkurang, pengembangan plasma nutfah di perkebunan kapuk percobaan tetap dipertahankan dan saat ini sudah memiliki 155 nomor. ”Kami juga sudah melepas lima nomor. Bibit paling tua di sini tahun 1934 yang didatangkan dari Bogor,” kata Sata.

Hanya saja, para pengusaha industri kapuk randu hingga saat ini belum berencana membudidayakan lagi tanaman tersebut. Mereka masih menggantungkan pasokan kapuk dari daerah lain atau bertahan dengan produksi alam yang jumlahnya terus menurun.

Padahal, menurut beberapa pengusaha di Karaban, pasar untuk semua hasil turunan kapuk randu besar. Menurut Santoso, selain pasar dalam negeri, pasar luar negeri, seperti Malaysia, siap menampung komoditas tersebut. Hanya saja, selain keterbatasan sumber bahan baku, keterbatasan dana juga menjadi kendala lainnya. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk pengembangan komoditas kapuk randu dan kelangsungan industri berskala menengah yang mengolah komoditas tersebut.

Menghutankan kembali sebagian wilayah pegunungan yang gundul dengan tanaman randu bukanlah hal yang buruk. Selain mempertahankan bahan baku, reboisasi dengan randu juga mampu mempertahankan wilayah dari ancaman bencana. (jos/las/aci/gal/nel)

sumber http://www.kompas.com/lipsus082008/daendels_read/2008/08/26/01494669/Kapuk.Jawa..Keunggulan.yang.Terlupakan

0 komentar:

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?