SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Selepas Bapakku Hilang

| | |
Adikku sayang, menangislah sejadimu. Luapkan segala emosimu. Tapi jangan kau tanya di mana ayah kita. Karena kakak tak tahu di mana ia berada. Adikku sayang, inilah nasib kita. Janganlah pusus asa. Apa yang kau inginkan dari anak-anak lain? Mereka bisa sekolah, kau pun juga bisa. Mereka bisa mainkan drum dan gitar, kau pun juga bisa.”

Fitri Nganthi Wani membaca puisi itu di sebelah Fajar Merah. Sang adik diam, menunduk, dan tetap khusyuk memetik dawai-dawai gitar.

Wani kembali berpuisi.”Apa pun yang kau inginkan dari mereka, kau pun bisa miliki semuanya. Namun, jangan kau tanya, mengapa kita tak punya ayah. Karena ibu pernah berkata, ayah kita bukan hanya ayah kita. Ia kini milik banyak orang. Karena ia putuskan menjadi pejuang. Dari itu semua, adikku, janganlah lemah walau ayah tidak ada. Jadikanlah semua ini awal dari perjalanan hidupmu, untuk menjadi lelaki sejati dan pemberani.”

Puisi ”Rindu Adik Pada Ayah” itu dibacakan Fitri Nganthi Wani dalam peluncuran buku Selepas Bapakku Hilang di Graha Bhakti, Taman Ismail Marzuki (16/6). Wani yang sudah terpisah dari ayahnya sejak kelas II SD ini adalah anak pertama Wiji Thukul, penyair yang hilang akibat kekejaman penguasa Orde Baru. Thukul dihilangkan karena puisinya dinilai terlalu keras menyuarakan jeritan rakyat dan menumbuhkan perlawanan.

Mewarisi bakat sang ayah, Wani menceritakan potret ketidakadilan melalui puisi-puisinya. Poligami, ketidakadilan gender, sampai susahnya mendapatkan keadilan dari negeri yang katanya demokratis, tidak luput dari perhatiannya. Termasuk berbagai stigma negatif yang sudah mulai ia rasakan sejak di bangku kelas II sekolah dasar.

Berbagai alasan selalu keluar dari mulut sang ibu ketika dirinya mulai menanyakan keberadaan ayahnya. Teman sekolah, yang kebanyakan anak pegawai negeri sipil, pelan-pelan menjauhinya, karena isu Wani anak seorang penjahat. Memasuki kelas IV SD, semangat berangkat ke sekolah mulai berubah menjadi ketakutan.

”Wani, sori ya, aku tidak boleh dekat dengan kamu. Kalau ayahku tahu, aku akan dimarahi.” Demikian kata teman dekatnya ketika itu. Praktis, di kelas IV SD Wani sama sekali tidak mempunyai teman. Hanya wali kelas dan kepala sekolah yang ”berani” mendekati dan menjadi temannya.

”Akhirnya aku bilang, ’Ibu aku tidak mau sekolah’. Dari situ akhirnya Ibu cerita bahwa Bapak tidak sejahat seperti yang diomongin teman sekolah. Lambat laun aku tahu sendiri bapak memang tidak pernah pulang,” katanya.

Keberanian dan semangat perlawanan yang ditanamkan Wiji Thukul masih terus dipegang. Salah pesan bapaknya yang masih diingat Wani adalah berteriak sekencang-kencangnya jika ada polisi mendatangi rumahnya. ”Katanya, biar semua tetangga mendengar dan menganggap ada maling,” ujarnya.

Dalam puisi ”Berikan Aku Keadilan”, Wani menceritakan betapa tidak adil negeri ini terhadap keluarganya. Rumahnya digerebek polisi, bukan karena ayahnya seorang penjahat, melainkan karena puisi ayahnya. ”Kini sekian tahun sudah, bapakku menghilang. Keluargaku tidak lengkap. Aku pun, teringat adikku. Ia relakan sepedanya untuk modal ibu. Namun, selalu ceria hadapi masa kanak-kanaknya. Tuhan, aku tahu inilah cobaan. Lewat penguasa yang kikir dan hidup senang. Keluargaku terinjak penuh kesedihan. Tuhan bisikkan kepada nurani mereka, tuk berikan keluargaku keadilan yang sempurna.”

Impunitas
Impunitas seakan menjadi kata yang mujarab untuk menjawab pelanggaran HAM di masa lalu. Mereka yang bertanggung jawab tidak pernah dimintai pertangggungjawaban. Lantas siapa yang bertanggung jawab untuk mencari mereka? Siapa pula yang harus bertanggung jawab untuk mencari siapa yang bertanggungjawab?

Bagaimana pula dengan kerusuhan Mei 1998 yang menewaskan Gun, putra ibu Ruminah? ”Tuhan, belum lama rasanya anak saya bermain. Gunawan, dipanggil Gun. Tidak terduga, kerusuhan pembakaran di kota. Tuhan, biarlah saya menjadi ibu, bersama ibu yang kehilangan anak. Setelah itu anak saya tidak kembali sampai sekarang,” kata Ruminah, yang dikemas dalam puisi.

Peluncuran buku ini diawali aksi teatrikal beberapa orang memegang senter, berusaha menembus ruang dan waktu yang dipenuhi kegelapan. Para keluarga korban pelanggaran HAM terus meneriakkan nama-nama yang dihilangkan oleh penguasa.

Peluncuran buku Selepas Bapakku Hilang dikemas rapi dengan dekorasi panggung yang begitu detail, bahkan dilengkapi kamera standar broadcast. Penyanyi dan musisi seperti Opi Andaresta, Dodi Katamsi, dan Iwan Fals membawakan puisi-puisi Wani dalam bentuk lagu, diiringi musik semi-orkestra. Terbilang mewah untuk sebuah peluncuran buku.

Ayah Wani, Wiji Thukul, merupakan salah satu dari korban penghilangan paksa rezim Orde Baru, yang hingga kini belum ditemukan. Korban lain adalah Munir, bapak dua anak yang mencoba menemukan orang-orang yang dihilangkan. Sampai kini juga tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab di balik kematian Munir. Kasus mahasiswa yang ditembaki sampai mati pada tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II seperti dibiarkan tanpa penyelesaian.

Ibu yang kehilangan anak, istri yang kehilangan suami, dan anak yang kehilangan bapak, dianggap bukan apa-apa. Mengapa penguasa hanya diam? Kisah klasik negeri ini, seperti dalam puisi-puisi Nganti Wani, masih selalu menghamba pada ketakutan. Sudah saatnya hak asasi tidak dipandang sebagai racun yang mematikan oleh negeri yang katanya jaya sakti ini. Sebab, Indonesia sangat merindukan keadilan. Keadilan bagi semua. (E6)
Foto: VHRmedia / Kurniawan TY

0 komentar:

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?