SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Bocah SMP Tewas Diterkam Ular Phiton di Medan

| | | 0 komentar
Seorang siswa kelas II SMP PGRI Tembung, Medan, Sumatera Utara bernama M Zakaria (13 tahun) ditemukan tewas diterkam seekor ular sawah berukuran raksasa.

Korban diterkam ular bertubuh sebesar tiang listrik yang dikenal dengan sebutan ular phiton itu di pinggir sungai Tembung, Kamis (18/3) malam.

"Saat itu, ia bersama lima orang temannya naik dari sungai ke darat melalui aliran lorong pembuangan air limbah,” tutur Jahri Sihombing, salah seorang warga yang menyaksikan peristiwa tersebut, Sabtu (20/3).

Namun, kata dia, tiba tiba muncul ular phiton dari dalam lorong tersebut dan menerkamnya. Zakaria sempat melawan ular itu.

“Tetapi karena kaki kanannya telah digigit, ia tidak bisa melawan lagi dan diseret ke semak-semak," ujarnya.

Korban sendiri bersama kelima temannya bermain rakit dan mandi di sungai tersebut sejak sore. Setelah azan Magrib, mereka pun beranjak ke tepian.

Karena lokasi pinggiran sungai sangat curam, mereka pun naik melalui pembuangan air limbah salah satu pabrik di sana. Saat itulah korban yang lebih tua dari teman-temannya itu diterkam oleh ular phiton tersebut.

Jahri Sihombing yang juga merupakan keluarga korban, segera berlari menuju lokasi setelah mendapat informasi dari teman-teman korban sekira 15 menit kemudian. Kebetulan Jahri saat itu sedang berada tidak jauh dari lokasi.

Ia memukuli kepala ular itu dengan bambu berkali-kali, sehingga kaki kanan korban yang sudah ditelan ular itu pun akhirnya dilepaskan.

Namun, ular tersebut tak juga kabur. Tubuh korban malah dililit dan diputar-putar di dalam semak-semak tersebut hingga terjatuh ke pinggiran sungai.

Jahri kembali memukuli kepala ular yang saat itu sudah hendak menerkam kepala korban. Karena merasa kesakitan dipukuli dengan bambu, ular itu pun akhirnya lilitannya dan kabur ke dalam air sungai.

Sayangnya, ketika tubuh korban diangkat ke darat dan akan dibawa ke rumah sakit, ia sudah tidak bernyawa lagi. Diduga, korban mati lemas akibat dililit dan diputar-putar oleh ular tersebut hampir sekitar setengah jam.

Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Pasar VIII Gambir, Dusun VI, Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan, korban pun langsung dimakamkan, Jumat (19/3) sore. (abe)

Kepincut Mobil Mewah, Agus Tjondro Terima Cek

| | | 0 komentar
Sidang kasus cek perjalanan atau travellers cheque saat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) di Komisi IX pada 2004, dengan terdakwa mantan anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Dudhie Makmun Murod kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (19/3/2010). Sidang mendengarkan kesaksian dari tiga orang mantan anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Agus Tjondro, Max Moein, dan Engelina A Pattiasina.
Agus Tjondro mengungkapkan bahwa dia menerima cek senilai Rp 500 juta langsung dari tangan Dudhie di ruang kerja Emir Moeis. Penerimaan cek yang juga disaksikan Emir Moeis itu terjadi usai Miranda Swaray Goeltom terpilih. "Satu hari setelah itu, saya lagi nongkrong, dan diberi tahu oleh Williem Tuttuarima untuk naik ke ruang Emir Muis. Di situ ada Dudhie, Rusman, pak Ikbal. Pak Dudhie bilang, ini dananya, coba dihitung," ungkap Agus Tjondro.
Namun, ada yang lucu dari kesaksian Agus Tjondro.
Pria asal Pekalongan itu mengaku tidak terpikirkan untuk menolak uang ratusan juta, karena memang bercita-cita memiliki mobil mewah, yang baru. "Enggak ada kepikiran (maksud pemberian cek). Karena pejabat, maklum ingin punya mobil baru, tinggal beli yah beli," ucap Agus dengan polos, yang mengundang gelak tawa para pengunjung sidang.
Keinginan Agus membeli mobil cocok dengan keinginan sopirnya. Sebelum ganti mobil, sopir Agus sering mengeluh dengan kondisi mobil lamanya. "Karena sopir saya sering ngomong, mas mobilnya tolong diganti. Kata sopir, kalau datang ke hotel naik mobil itu, seperti tidak dihargai sama tukang parkir. Ini harus dipenuhi, agar jaga gengsi gitu," papar Agus yang kembali mengundang tawa pengunjung sidang.
Ia menceritakan penggunaan dana Rp 500 juta yang diterimanya. Satu hari setelah menerima, Agus mencairkan 4 lembar cek senilai Rp 200 juta dan langsung menuju show room mobil bekas di Jakarta. Di show room itu, ia membeli mobil Mercy seharga Rp 170 juta. Hari-hari berikutnya ia mudik ke kampung halaman, Pekalongan.
Di kampungnya, Agus kembali mencairkan enam lembar cek senilai Rp 600 juta. Seolah belum puas dengan Mercy yang sudah dibeli, di sana ia kembali membeli mobil baru Hyundai Trajet seharga Rp 130 juta.
Sisa pencairan cek, Agus gunakan untuk membuka sebuah LSM yang bergerak di bidang pengawasan antikorupsi. Selain itu, uang sisa ia pinjamkan ke sejumlah temannya untuk bisnis kecil-kecilan, yang ternyata ujung-ujungnya bangkrut. "Sisanya dipinjam teman, untuk bisnis kapling, bisnis cabe merah, yang tidak jelas, akhirnya bangkrut bisnisnya," ujarnya.
Dari Rp 500 juta yang telah dipakai, Agus Tjondro belum sama sekali mengembalikan uang negara itu kepada KPK. Ia berkilah, pengembalian akan dilakukan jika apartemennya laku dijual. "Yah, nanti tunggu kalau apartemen saya laku. Kalau sekarang belum bisa," kilahnya.
Ia menduga pemberian cek tersebut berhubungan dengan pemenangan Miranda Goeltom sebagai pejabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Pasalnya, sebelum pemilihan ketua fraksi PDI Perjuangan saat itu, Tjahjo Kumolo sudah memerintahkan agar anggotanya memilih Miranda. Hal itu disampaikan Tjahjo dalam dua pertemuan, yakni di Gedung DPR dan Hotel Dharmawangsa. "Sekitar awal Juni, seluruh anggota fraksi dikumpulkan oleh pimpinan fraksi oleh Tjahjo Kumolo dan Panda di ruang fraksi. Dia bilang, teman-teman anggota Komisi IX diinstruksikan untuk memilih Miranda Goeltom," ujarnya.

Kisah Usep Si Pedagang Asongan dan Tuduhan Kepemilikan ganja

| | | 0 komentar
Seperti halnya kisah pemulung Chaerul Saleh yang dituduh memiliki beberapa gram ganja, nasib sama juga menimpa seorang pedagang asongan yang bernama Usep Cahyono (20).

Pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini harus merasakan dinginnya lantai penjara di rumah tahanan Cipinang, Jakarta Timur karena dituduh sebagai pemilik dan pengedar ganja oleh Polres Jakarta Utara.

"Usep dituduh sebagai pemilik dan pengedar ganja, tanpa dasar dan dengan modus rekayasa oleh oknum polisi dari Polres Jakarta Utara," ujar Kuasa hukum Usep, John I.M Pattiwael di kantornya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron, Jl. Kelapa Gading Raya, Jakarta Utara, Rabu (17/3/2010).

Berdasarkan pengakuan Usep kepada John, pada tanggal 20 Januari 2010, sekitar pukul 16.00 WIB, Usep yang saat itu duduk di pinggir Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara didatangi oleh seorang pria yang berpakaian preman.

"Pria tersebut datang untuk meminjam korek api. Tiba-tiba dari jaket pria itu jatuh selembar uang Rp 50 ribu dan sebuah bungkusan koran yang dilipat kecil," jelasnya.

ketika bungkusan tersebut jatuh, pria itu menyuruh Usep untuk mengambilnya. "Ketika Usep mengambil barang itu, pria tersebut langsung menarik tangan Usep dan membekap lehernya," katanya.

Usep yang juga buta huruf ini, akhirnya di gelandang menuju Polres Jakarta Utara. "Belakangan diketahui, koran yang dilipat tersebut ternyata berisi ganja. Usep pun disuruh menandatangani BAP tanpa tahu isi BAP tersebut," tuturnya.

"Jangankan menandatangai BAP, membaca dan menulis saja Usep tidak bisa karena ia tidak lulus sekolah dan buta huruf," tambahnya.

Rencananya, Kamis (18/3/2010) besok, Usep akan menjalani sidang perdana kasus narkoba golongan I di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

"Baru sebulan di Jakarta, Usep harus menjalani sidang yang tak pernah dilakukannya," ucapnya.

sumber detiknews.com

Bukan Peperangan Orang Aceh....

| | | 0 komentar
Sebuah pesan pendek berbunyi, ”Tandzim Al Qoidah Indonesia Cabang Serambi Mekah telah bertahan untuk melanjutkan jihad terhadap musuh-musuh Allah: kaum Yahudi, Salibis, dan Murtadin serta meminta musuh-musuh Allah untuk segera meninggalkan tanah Serambi Mekah”.

Pesan lewat SMS itu dikirim Abu Yusuf dari Pegunungan Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kepada seseorang di Solo, Jawa Tengah, pada 27 Februari 2010. Abu Yusuf alias Mustaqim adalah lelaki asal Lampung yang memimpin pelatihan menembak dan membaca peta kelompok bersenjata itu. Dia disebut-sebut sebagai lulusan akademi militer Jemaah Islamiyah Hudaibiyah di Mindanao, Filipina.

Ancaman dari Abu Yusuf itu terbukti bukan gertak sambal. Sepanjang Kamis (4/3/2010), belasan kali ambulans milik Kepolisian Daerah (Polda) NAD bolak-balik Banda Aceh-Lamkabeu, Aceh Besar, untuk mengantar anggota polisi yang tertembak dalam pengejaran kelompok bersenjata yang dipimpin Abu Yusuf itu.

Hingga tengah malam, 11 anggota Satuan Brimob Polda NAD dirawat. Empat di antaranya harus menjalani operasi karena mengalami cedera serius. Kontak tembak itu juga menewaskan seorang warga sipil, dua anggota Brimob Polda NAD, dan seorang anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Esoknya, Mabes Polri menyatakan, kelompok bersenjata itu sangat menguasai medan. Mayat tiga polisi yang tewas itu pun baru bisa diambil dua hari kemudian karena aparat tak berani mendekat ke lokasi kontak tembak.

Seorang anggota Brimob Polda NAD yang ikut dalam pengepungan itu sejak 22 Februari 2010 mengisahkan, pergerakan kelompok itu di pegunungan cukup sulit untuk diikuti. Mereka, katanya, sangat mengetahui seluk-beluk kawasan perbukitan itu dan mahir menggunakan senjata api.

Tajudin (35), mantan panglima pasukan elite Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Gajah Keng wilayah Aceh Besar, mengatakan, tanpa penguasaan medan, sulit mengejar kelompok bersenjata itu. "Tempat tertembaknya anggota Densus 88 dan Brimob seperti mangkuk. Waktu ditembak, mereka berada di dasar mangkuk itu, sedangkan kelompok bersenjata itu ada di atas. Tak perlu senjata api, orang yang berada di bawah bisa mati cukup dilempari batu dari atas," kata Tajudin yang belasan tahun bergerilya di wilayah itu.

Medan geografis di Aceh memang mendukung untuk peperangan gerilya. Kontur tanahnya berbukit, dinaungi hutan hujan tropis, dengan sungai-sungai yang mengalir di lembahnya, yang merupakan tempat berlindung yang sempurna.

Memanfaatkan medan itu, para pejuang Aceh bertahan menghadapi gempuran penjajah Belanda. Tradisi gerilya itu yang kemudian diteruskan Darul Islam (DI) hingga gerakan Aceh Merdeka (AM) dan terakhir oleh GAM.

Romantisisme sejarah

Romantisisme perang Aceh yang sudah banyak dikisahkan ini agaknya telah menginspirasi kelompok teroris untuk mencoba membangun basisnya di sana.

Ditemui secara terpisah, Yudi Zulfahri dan Sofyan Tsauri, dua tersangka yang menjadi kunci untuk menyiapkan pelatihan kelompok Tandzim Al Qoidah Indonesia Cabang Serambi Mekah, mengatakan, faktor alam menjadi alasan utama mereka.

Selain itu, mereka juga menilai Aceh sebagai etalase penting bagi tegaknya syariat Islam di Indonesia. "Tapi, sayangnya, syariah yang ditegakkan di sini sekarang belum sepenuhnya tegak. Itu yang mengecewakan," kata Yudi, pegawai negeri sipil di Pemerintah Kota Banda Aceh yang ditangkap dalam penggerebekan di Janto.

Latar belakang kekecewaan pribadi yang dirasakan Yudi itu menjadi salah satu pendorong untuk "mempromosikan" Aceh sebagai basis pelatihan kepada jaringan kelompok asal Jawa. Dengan pertimbangan itulah, para anggota jaringan lama, termasuk Dulmatin, menyetujui Aceh dijadikan basis persiapan kekuatan bagi gerakan mereka. Yudi dan Sofyan pun diserahi tugas-tugas persiapan, mulai dari mencari senjata dan amunisi, mencari lokasi yang cocok, hingga persiapan logistik.

Yudi pun memanfaatkan orang-orang lokal yang bisa membantu, salah satunya Munir alias Abu Rimba. Meski Abu Rimba diakui Yudi bukan sosok yang ideologis, seperti yang diyakini kelompoknya, ia dinilai memahami medan di pegunungan. Apalagi Yudi mengenal Abu Rimba sebagai mantan anggota pasukan khusus GAM Gajah Keng yang kecewa dengan kondisi Aceh pasca-perdamaian. Belakangan, mantan Panglima GAM Gajah Keng Tajudin menyatakan, Abu Rimba bukan mantan anggota pasukannya.

Hal itu dikuatkan dengan keterangan Abu Jihad. Lelaki asal Samalanga, Bireuen, ini beberapa kali dihubungi oleh Sofyan Tsauri untuk bergabung dengan kelompoknya. Abu Jihad yang bernama asli Yusuf Al Qardhawi adalah Ketua Front Pembela Islam wilayah NAD. Dia adalah inisiator perekrutan calon mujahidin ke Palestina di wilayah Aceh.

Yusuf mengatakan, ada beberapa alasan yang disebutkan Sofyan kenapa memilih Aceh. Selain medan tempur yang dinilai strategis, penduduk Aceh juga disebutkan 99 persen Muslim, yang diperkirakan akan mendukung penegakan syariat Islam. Apalagi Aceh memiliki sejarah pernah mendukung pergerakan Darul Islam (DI) yang diproklamasikan oleh SM Kartosuwiryo di Jawa Barat.

"Dengan faktor itu, mereka yakin akan didukung masyarakat Aceh, terutama oleh mantan anggota GAM yang kecewa dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Namun, mereka ternyata keliru membaca situasi," kata Yusuf.

Pendapat yang sama disampaikan Tajudin. "GAM sangat berbeda dengan mereka," ujar Tajudin, "karena bagi kami syariat Islam hanya omong-omong. Jelas ini bukan peperangan kami."

Abu Rimba

Omongan Tajudin itu dibuktikan pada Rabu (17/3) tengah malam dengan mengantarkan Abu Rimba ke Kepolisian Resor Aceh Besar. "Setelah dibujuk keluarga, Abu Rimba akhirnya mau menyerah. Dia itu masih anak-anak, memakai senjata juga belum bisa. Hanya ikut-ikutan," katanya.

Yusri (28), kakak kandung Abu Rimba, mengatakan, selama pelarian, adiknya sebenarnya tak jauh dari rumahnya yang berbatas hutan di Lamtamot, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. "Dia hanya ikut-ikutan karena mengira ini masih kelanjutan dari latihan untuk dikirim ke Palestina beberapa waktu lalu," ujarnya.

Ditemui setelah hampir sebulan dalam pelarian, sosok Abu Rimba (25) terlihat jauh berbeda dengan foto sangarnya di selebaran daftar pencarian orang (DPO) yang disebarkan polisi. Rambutnya yang semula panjang tergerai dicukur tipis. Dengan tinggi sekitar 150 sentimeter dan tubuh kurus, dia lebih menyerupai anak-anak yang baru saja pulang dari main perang-perangan bersama kawan-kawannya. Tak ada sama sekali raut ketegangan sepulang dari sebuah medan pertempuran hidup-mati.

Dia menutupi mukanya dan berusaha bersembunyi dari kamera sebelum kemudian mengatakan, sambil tersenyum malu, "Kalau mau ambil foto berdua juga boleh." Lalu, dia kembali bercanda dengan mengatakan, "Bagi uangnya, ya. Kalian wartawan mendapat uang dari memotret saya...." (AIK/SF/LAS/MHD)

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?