SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Ironi dan Ilusi Jawa

| | | 0 komentar
Bahasa menjadi penentu Jawa. Mantra kekuasaan kolonial membuat Jawa terbuka untuk dibongkar-dibentuk. Jawa sebagai pengetahuan juga memungkinkan para Javanalog mengurusi Jawa dalam intimitas dengan politik kolonial. Jawa mirip adonan ganjil dari ulah ”tuan” dan ”tukang masak” dalam geliat modernitas abad XX dan utopia mendikte nostalgia. Kisah pelik ini kerap terlupakan oleh klaim-klaim kultural dan afirmasi identitas eksklusif.

Solo merupakan ruang fenomenal untuk membentuk Jawa. Kekuasaan tradisional dan modern hidup dalam ketegangan kultural-politik. Raja merasa memiliki otoritas secara simbolis dan riil untuk mengantarkan rakyat mencapai utopia. Pemerintah kolonial Belanda melalui agen dan institusi intensif memaknai Jawa dalam jeratan bahasa, sastra, seni, ilmu pengetahuan, arsitektur, politik, pakaian, ekonomi, dan gaya hidup.

Gelagat perubahan dikisahkan dengan apik oleh Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997). Intervensi kolonial tampak dari pembentukan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) sejak abad XIX. Lembaga ini bermetamorfosis menjadi ruang eksperimen dan pembakuan Jawa melalui perangkat pengetahuan dengan pengesahan akademik di Universitas Leiden, Belanda. Bahasa Jawa model Solo pun menjadi ukuran baku.

Ironi bahasa

Legitimasi kultural oleh Javanalog dari Belanda dan pemerintah kolonial mengakibatkan Jawa abad XX adalah bentukan fenomenal. Shiraishi secara eksplisit memberi konklusi: ”Javanalog Belanda-lah yang ’menemukan’, ’mengembalikan’, dan membentuk serta memberikan makna terhadap masa lalu Jawa.” Konsekuensi dari takdir ini adalah kajian Jawa terpusat di Leiden. Orang Jawa belajar Jawa untuk menemukan ”harta karun” justru harus pergi ke sarang Javanalog di Belanda.

Ki Padmasusastra (1843- 1926) juga membenarkan ironi kultural itu dengan contoh bahasa. Tokoh ini terlibat dan sadar risiko. Ki Padmasusastra lantang mengungkapkan bahwa telah berlangsung ironi ketika pengelolaan bahasa Jawa dilakukan oleh ahli linguistik Belanda atau elite sarjana di bawah restu politik kolonial. Bahasa sebagai operasionalisasi kekuasaan dan kultural telah luput dari orang Jawa sendiri. Kolonial menjadi tuan. Bahasa bisa digunakan untuk menundukkan Jawa biar tak mengekspresikan resistensi atau revolusi.

Proyek membentuk Jawa mendapati sokongan dari keraton, priayi, dan elite politik. Anak-anak dari Raja dikirim belajar ke Belanda dengan risiko membenarkan ulah kolonial. Institusi pendidikan, media massa, penerbitan, dan perpustakaan menjadi agen sistematis.

Agenda yang menafikan

Jawa terus bergerak sampai hari ini dengan lupa dan luka. Bahasa Jawa tertinggal. Sastra Jawa tanpa sapaan. Tradisi Jawa dalam balutan ilusi kolonial merana. Keprihatinan ini pun secara intensif dilaporkan pada negara, lalu disodorkan pada publik agar menjadi beban.

Agenda-agenda untuk penyelamatan atau menghidupkan kembali Jawa digulirkan dengan modal besar, kebijakan politik, dan seruan. Salah satu agenda besar adalah rutinitas pelaksanaan Kongres Bahasa Jawa yang tidak memperlihat geliat kemajuan.

Rekomendasi dari perhelatan prestisius ini sedikit sekali teraplikasi atau mengindikasikan pencerahan pikiran. Karena beberapa kesalahan mendasar, seperti ditempatkannya sastra Jawa hanya sebagai wacana pinggiran atau catatan kaki. Peminggiran peran ini menciptakan resistensi di kalangan para pekerja sastra Jawa. Mereka yang kemudian merancang Kongres Sastra Jawa, dengan modal seadanya dan dengan perhatian nol dari penguasa. Negara menjadi salah satu pelupa terbesar, dengan mengabsenkan sastra Jawa dari perhatiannya.

Dan kritik pantas terus diajukan karena nasib bahasa dan sastra Jawa masih sekarat. Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah tampak setengah hati. Penerbitan buku-buku sastra Jawa macet. Kejawaaan pun terimpit oleh keindonesiaan dan kosmopolitanisme. Jawa terkapar dalam sandiwara penyelamatan para birokrat dan kaum akademisi.

BANDUNG MAWARDI Pengelola Balai Sastra Kecapi Solo


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/01/22/09234927/Ironi.dan.Ilusi.Jawa

Pesawat Supersonik Komersil Pertama

| | | 0 komentar
Pada 35 tahun yang lalu, dua pesawat jet supersonik Concorde terbang untuk pertama kali melayani rute komersial. Dua pesawat Concorde tersebut masing-masing lepas landas dari Bandara Heathrow, London, dan Bandara Orly, Paris.

Penerbangan dari London akan membawa penumpang ke Bahrain melalui Teluk Persia. Sedangkan pesawat dari Paris akan terbang ke Rio de Janeiro melalui Senegal.

Laman stasiun televisi The History Channel mengungkapkan, dengan kecepatan rata-rata, pesawat inovatif Concorde mampu terbang 1.350 mil per jam, melebihi perintang bunyi (sound barrier), dan mengurangi lebih dari setengah waktu perjalanan udara. Pesawat Concorde adalah pencapaian dari 12 tahun upaya Inggris-Prancis untuk menciptakan pesawat komersial supersonik pertama di dunia.

Namun, Concorde bukan pencapaian luar biasa. Pada akhirnya, penerbangan Concorde dibatasi hanya untuk penerbangan transatlantik dari London dan Paris ke New York.

Pada Juli 2000, pesawat Concorde milik maskapai Air Franca jatuh 60 detik setelah lepas landas dari Paris dan menewaskan 109 penumpang dan empat orang di darat. Kecelakaan disebabkan salah satu ban pesawat meledak dan membuat tank bahan bakar bocor, sehingga menyebabkan kebakaran yang memicu kegagalan mesin.
Kecelakaan fatal yang merupakan insiden pertama dalam sejarah Concorde tersebut menunjukkan penurunan kualitas. Pada 24 Oktober 2003, Concorde melakukan penerbangan komersial reguler terakhir.
• VIVAnews

Ota Benga

| | | 0 komentar
Setelah Darwin menyatakan dalam bukunya The Origin of Species bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama, pencarian fosil-fosil guna mendukung skenario ini pun dimulai.

Tetapi sejumlah evolusionis meyakini bahwa makhluk "separuh kera separuh manusia" dapat ditemukan tidak hanya pada catatan fosil, tetapi juga dalam keadaan masih hidup di berbagai belahan dunia. Di awal abad ke-20, pencarian guna menemukan "mata rantai yang hilang" tersebut menjadi penyebab munculnya berbagai tindakan biadab. Salah satunya adalah kisah tentang pigmi atau manusia kerdil asal Afrika bernama Ota Benga.

Ota Benga ditangkap di Kongo oleh seorang peneliti evolisionis bernama Samuel Verner pada tahun 1904. Warga pribumi ini, yang namanya berarti "teman" dalam bahasanya, telah menikah dan memiliki dua orang anak. Tetapi ia diikat dengan rantai layaknya binatang, dimasukkan dalam kandang, dan dikirim ke Amerika Serikat. Di sana, para ilmuwan evolusionis memasukkannya ke dalam kandang bersama dengan berbagai jenis kera pada Pekan Raya Dunia St. Louis dan mempertontonkannya sebagai "mata rantai yang terdekat dengan manusia".

Dua tahun kemudian mereka membawanya ke kebun binatang Bronx di New York. Di tempat ini, Ota Benga bersama dengan beberapa simpanse, seekor gorila bernama Dinah dan seekor orang utan bernama Dohung dipertontonkan sebagai "nenek moyang manusia yang paling tua". Direktur kebun binatang tersebut, seorang evolusionis bernama Dr.William T. Hornaday, memberikan sambutan panjang tentang rasa bangga yang diterimanya karena memiliki "mata rantai yang hilang". Para pengunjung kebun binatang memperlakukan Ota Benga di dalam kandangnya seperti seekor binatang. Sebuah edisi New York Times yang dicetak waktu itu menggambarkan perilaku para pengunjung tersebut:



Ota Benga adalah penduduk asli Afrika. Oleh para peneliti evolusionis, ia ditangkap layaknya seekor binatang, ditempatkan dalam kandang, dan dipertontonkan bersama sejumlah monyet di kebun binatang.

Terdapat 40.000 pengunjung kebun binatang pada hari Minggu. Hampir setiap pria, wanita dan anak-anak dari kerumunan ini mendatangi rumah kera untuk melihat pertunjukan sang bintang di kebun binatang - yakni manusia liar dari Afrika. Mereka mengejar-ngejarnya sepanjang hari, bersorak, tertawa, dan berteriak. Beberapa dari mereka menyodok tulang rusuknya, yang lain membuatnya tersandung, semua orang menertawakannya.37

New York Journal edisi 17 September 1906 menyatakan hal ini dilakukan demi membuktikan kebenaran evolusi, disamping mengecamnya sebagai kedzaliman dan kebiadaban sebagaimana berikut:

Orang-orang ini, tanpa pemikiran dan kearifan telah mempertontonkan seorang manusia kerdil dari Afrika dalam sebuah kandang monyet. Gagasan mereka, mungkin, adalah untuk menanamkan pemahaman yang benar tentang evolusi.

Namun kenyataannya, satu-satunya hasil yang didapat hanyalah pembenaran untuk mencaci-maki ras Afrika, yang selayaknya mendapatkan, paling tidak, rasa simpati dan perlakuan baik dari warga kulit putih negeri ini, setelah segala kebiadaban yang dideritanya di sini.....

Sungguh memalukan dan menjijikkan bahwa seorang manusia yang kurang beruntung, yang memiliki kekurangan jasmani, yang diciptakan oleh Kekuatan yang sama sebagaimana yang menempatkan kita semua di sini dan melengkapi kita dengan perasaan dan ruh yang sama, harus dikurung dalam sebuah kandang bersama sejumlah kera dan dijadikan bahan olok-olokan masyarakat.38

New York Daily Tribune juga menurunkan berita tentang Ota Benga yang diperton-tonkan di kebun binatang dengan tujuan membuktikan kebenaran evolusi. Sanggahan dari direktur kebun binatang yang Darwinis tersebut sama sekali tidak senonoh:

Pertunjukan seorang pigmi Afrika dalam kandang yang sama dengan seekor orang utan di kebun binatang New York minggu lalu menimbulkan kecaman hebat. Sejumlah orang menyatakannya sebagai upaya sang direktur Hornaday untuk menunjukkan hubungan dekat antara orang Negro dan kera.

Dr. Hornaday menyanggahnya. "Jika orang kerdil tersebut di dalam kandang," ujar Dr. Hornaday, "hal itu disebabkan ia merasa paling nyaman berada di sana, dan karena kami tidak mengetahui apa lagi yang harus kami perbuat terhadapnya. Ia bukanlah seorang tawanan, kecuali jika tak seorangpun mengatakan adalah hal yang bijaksana untuk membiarkannya berjalan-jalan mengelilingi kota tanpa seorangpun yang mengawasinya."

Pertunjukan Ota Benga di kebun binatang bersama-sama dengan gorila layaknya seekor binatang telah memicu keresahan berbagai kalangan. Sejumlah lembaga mengusulkan ke pihak-pihak yang berwenang untuk menghentikan pertunjukan tersebut dengan menyatakan bahwa Ota Benga adalah seorang manusia biasa dan perlakuan terhadapnya semacam ini merupakan perbuatan yang sangat biadab.

http://www.harunyahya.com/indo/buku/bencana03.htm

Pemusnahan Warga Aborigin

| | | 0 komentar
Penduduk asli benua Australia dikenal dengan sebutan Aborigin. Orang-orang yang telah mendiami benua tersebut selama ribuan tahun mengalami salah satu pemusnahan terbesar sepanjang sejarah seiring dengan penyebaran para pendatang Eropa di benua tersebut. Alasan ideologis pemusnahan ini adalah Darwinisme. Pandangan para ideolog Darwinis tentang suku aborigin telah memunculkan teori kebiadaban yang harus diderita mereka.

Pada tahun 1870, Max Muller, seorang antropolog evolusionis dari London Anthropological Review, membagi ras manusia menjadi tujuh tingkatan. Aborigin berada di urutan terbawah, dan ras Arya, yaitu orang kulit putih Eropa, di urutan teratas. H.K. Rusden, seorang Darwinis Sosial terkenal, mengemukakan pendapat-nya tentang suku aborigin pada tahun 1876 sebagaimana berikut:

Kelangsungan hidup bagi yang terkuat memiliki arti: kekuatan adalah kebenaran. Dan dengan demikian kita gunakan hukum seleksi alam yang tidak pernah berubah tersebut dan menerapkannya tanpa perasaan belas kasih ketika memus-nahkan ras-ras terbelakang Australia dan Maori...dan kita rampas warisan leluhur mereka tanpa merasa bersalah. 32

Pada tahun 1890, Wakil Presiden Royal Society of Tasmania, James Barnard, menulis: "proses pemusnahan adalah sebuah aksioma hukum evolusi dan keberlangsungan hidup bagi yang terkuat." Oleh sebab itu, ia menyimpulkan, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa "ada tindakan yang patut dicela" dalam pembunuhan dan perampasan terhadap warga aborigin Australia.33

Akibat pandangan rasis, yang tak mengenal belas kasih, dan biadab yang dikemukakan Darwin, pembantaian dasyat dimulai dengan tujuan memusnahkan warga aborigin. Kepala orang-orang aborigin dipasang menggunakan paku di atas pintu-pintu stasiun. Roti beracun diberikan kepada para keluarga aborigin. Di banyak wilayah di Australia, areal pemukiman aborigin musnah dengan cara biadab dalam waktu 50 tahun.34

Kebijakan yang ditujukan terhadap aborigin tidak berakhir dengan pembantaian. Banyak dari ras ini yang diperlakukan layaknya hewan percobaan. The Smithsonian Institute di Washington D.C. menyimpan 15.000 sisa mayat manusia dari berbagai ras. Sejumlah 10.000 warga aborigin Australia dikirim melalui kapal ke Musium Inggris dengan tujuan untuk mengetahui apakah benar mereka adalah "mata rantai yang hilang" dalam peralihan bentuk binatang ke bentuk manusia.

Musium tidak hanya tertarik dengan tulang-belulang, pada saat yang sama mereka menyimpan otak orang-orang aborigin dan menjualnya dengan harga mahal. Terdapat pula bukti bahwa warga aborigin Australia dibunuh untuk digunakan sebagai bahan percobaan. Kenyataan sebagaimana dipaparkan di bawah ini adalah saksi kekejaman tersebut:

Sebuah catatan akhir hayat dari Korah Wills, yang menjadi mayor Bowen, Queensland pada tahun 1866, secara jelas menggambarkan bagaimana ia membunuh dan memotong-motong tubuh seorang anggota suku setempat pada tahun 1865 untuk menyediakan bahan percobaan ilmiah.

Edward Ramsay, kepala Musium Australia di Sydney selama 20 tahun sejak 1874, terlibat secara khusus. Ia menerbitkan sebuah buku saku Musium yang memasukkan aborigin dalam golongan "binatang-binatang Australia". Buku kecil tersebut itu juga memberikan petunjuk tidak hanya tentang cara bagaimana merampok kuburan, namun juga bagaimana menutup luka akibat peluru pada "spesimen" yang baru terbunuh.

Evolusionis Jerman, Amalie Dietrich (yang dijuluki 'Angel of Black Death' atau 'Malaikat Kematian si Hitam') datang ke Australia untuk meminta kepada para pemilik areal pertanian sejumlah orang Aborigin untuk ditembak dan digunakan sebagai spesimen, terutama kulitnya untuk diisi dengan bahan tertentu untuk kemudian dipajang, untuk diberikan kepada atasannya di Museumnya. Meskipun barang-barangnya telah dirampas, ia dengan segera balik ke negaranya sambil membawa sejumlah spesimennya.

Misionaris New South wales adalah saksi yang merasa ngeri terhadap pembantaian yang dilakukan oleh polisi berkuda terhadap sekelompok yang beranggotakan lusinan orang aborigin, perempuan dan anak-anak. Empat puluh lima kepala kemudian direbus dan 10 tengkorak terbaiknya dibungkus dan di kirim ke luar negeri. 35

Pemusnahan suku aborigin berlanjut hingga abad ke-20. Di antara cara yang dipergunakan dalam pemusnahan ini adalah pengambilan paksa anak-anak aborigin dari keluarga mereka. Kisah baru oleh Alan Thornhill, yang muncul di Philadelphia Daily News edisi 28 April 1997, mengisahkan perlakuan terhadap suku aborigin sebagai berikut:

KISAH PENCULIKAN KELUARGA ABORIGIN

Associated Press - Warga aborigin yang tinggal di gurun pasir terpencil Australia di sebelah barat laut terbiasa mencorengkan arang pada kulit anak-anak mereka yang berwarna terang, dengan maksud mencegah para petugas kesejahteraan negara membawa mereka pergi. "Para petugas kesejahteraan tersebut menangkap anda begitu saja ketika mereka menemukan anda," ujar seorang anak yang pernah diculik, bertahun-tahun kemudian. "Warga kami akan menyembunyikan kami dengan mewarnai kami menggunakan arang."

"Saya dibawa ke Moola Bulla", ucap salah seorang pekerja yang diculik ketika masih kanak-kanak. "Saat itu kami berusia sekitar 5 atau 6 tahun." Kisahnya ini adalah satu di antara ribuan yang didengar oleh Australia's Human Rights And Equal Opportunity Commission (Komisi Hak Asasi Manusia Australia) selama pemeriksaan yang memilukan tentang "generasi yang dicuri". Dari tahun 1910 hingga 1970-an sekitar 100.000 anak-anak aborigin diambil dari para orang tua mereka... Anak-anak berkulit terang dirampas dan diserahkan kepada keluarga kulit putih untuk dijadikan anak angkat. Anak-anak berkulit gelap ditempatkan di panti asuhan. 36

Bahkan kini, penderitaan tersebut begitu pedih sehingga kebanyakan kisah tersebut dicetak tanpa pencantuman nama dalam laporan akhir komisi yang berjudul "Bringing Them Home" ("Memulangkan Mereka ke Rumah") tersebut. Komisi tersebut mengatakan bahwa tindakan para pemegang kekuasaan masa itu dapat disamakan dengan kejahatan pemusnahan etnis menurut pengertian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemerintah telah menolak mengikuti saran dari hasil penyelidikan untuk membentuk suatu pengadilan guna mempertimbangkan pembayaran ganti rugi bagi anak-anak aborigin yang pernah diculik.

Seperti yang telah kita saksikan, perlakuan tidak manusiawi, pembantaian, kekejaman, kebiadaban, dan pemusnahan yang dilakukan ini semuanya dibenarkan oleh teori Darwinisme tentang "seleksi alam", "pertarungan untuk mempertahankan hidup", dan "keberlangsungan hidup bagi yang terkuat".

Semua pengalaman pahit dan mengenaskan yang diderita penduduk asli Australia ini hanyalah sebagian kecil dari bencana yang ditimbulkan Darwinisme terhadap dunia.

http://www.harunyahya.com/indo/buku/bencana03.htm

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?