SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Rambutan, Bajaj, dan Sri Lanka

| | | 0 komentar
Oleh Jafar Sidik

Jika bukan karena penduduknya yang dipenuhi wajah-wajah Asia Selatan dan mirip Arab Hadrami, belum lagi dominasi tulisan Sanskerta di papan-papan reklame, Anda pasti menyangka Colombo, Maskeliya, Galle, Kandy, atau daerah lain di Sri lanka adalah Indonesia.

Bagaimana tidak, alam, kosa kata, dan atmosfer sosialnya mirip di Indonesia. Bahkan suasana perumahan-perumahannya seperti di kota-kota Indonesia, dengan tukang sayur berteriak-teriak menjajakkan dagangannya.

Teriakan "sayur" atau "cakwe" yang umum didengar warga Kota Bandung setiap pagi, misalnya, terdengar pula di setiap pagi di Colombo. Tentu saja pedagang Sri lanka menggunakan bahasa Sinhala atau Tamil.

Jika di Bali ada Singaraja, maka di Sri lanka pun ada kota bernama itu. Anda orang Garut? Jangan anggap hanya Anda yang mempunyai kecamatan Wanaraja karena di Sri lanka pun ada Wanaraja.

Nama buah-buahan dan sayuran mereka pun mirip, bahkan dinamai sama dengan bahasa Indonesia.

"Itu rambutan," kata Sanjaya, pria Sinhala yang mengantarkan penulis menyusuri beberapa sudut kota yang sudah ribuan tahun dikenal manusia itu.

Sanjaya menyebut kata "rambutan" untuk buah yang memang di Indonesia bernama "rambutan."

"Orang Indonesia juga menggunakan kata 'dirgahayu' untuk 'selamat' ya?" tanya Indira Priyadarshini Nawagamuwa, produser Sri Lanka Broadcasting Commission. "Kami juga menyampaikan selamat dengan kata itu," sambungnya.

Lain hal, banyak sudut kota yang mirip-mirip Indonesia, seperti area Galle Face yang menyerupai Pantai Losari dan kawasan Benteng Makassar di Sulawesi Selatan.

Jalanan dalam kotanya pun selebar dan seeksotis kawasan Ijen di Kota Malang atau daerah Cipaganti di Bandung.

Yang agak mengganggu dari Colombo dan Sri Lanka adalah terlalu banyak tentara menyandang senapan Kalashnikov atau AK-47 versi China (Tipe 56) menjaga daerah-daerah tertentu.

"Mengapa sih tentara ada di mana-mana?" tanya penulis kepada Priyantha Wedamula, produser program pada TV Rupavahini.

Priyantha hanya mengangkat bahu sambil tersenyum, seolah ingin mengatakan, "Ya begitulah."

Meskipun terlihat garang dengan pakaian tempur, dan sebagian di antaranya siap setiap saat di pos-pos kecil dikelilingi kantong-kantong pasir, tentara-tentara itu cukup ramah.

Seorang sersan beridentitas Sinhala mengumbar senyum ketika penulis menyapa dan meminta izin untuk mengambil gambarnya.

"Saya special force (pasukan khusus)," akunya sambil menggenggam erat Kalashnikov dengan senyum penuh kebanggaan menjadi anggota pasukan elite Sri Lanka.

Si sersan menjaga satu sudut Galle Face Road, dekat Gedung Mahkamah Sri Lanka.

Jika Anda mempelajari rangkaian panjang konflik Sri Lanka, maka Anda akan memaklumi kehadiran tentara dan polisi bersenjata di banyak tempat di Colombo, dan sejumlah daerah bekas konflik lainnya, seperti Jaffna di Sri Lanka utara.

Ketika itu teror di mana-mana, entah tembakan sporadis, bom, atau bahkan serangan pesawat udara. Biasanya serangan menyasar situs-situs keramaian atau tempat orang-orang Sri Lanka berkumpul.

Mungkin itu yang membuat warga Sri Lanka segan membuat kumpulan-kumpulan. Jadi, jangan heran kalau Anda sulit menemukan pasar atau tempat jajanan terbuka. Walau demikian, itu tidak terjadi di kota-kota kecil di daerah tengah dan selatan Sri Lanka.

Cara orang Sri Lanka berkendara pun unik, seakan selalu terburu-buru atau menghindari ditembak orang yang memang kerap terjadi di waktu lalu.

Hampir semua orang Sri Lanka mengendarai kendaraan kencang-kencang, seolah mereka sedang mengendarai kendaraan mainan, "srantal sruntul" seperti pengemudi motor dan bajaj di Indonesia.

Bajaj

Warna dominan yang mengecat kehidupan warga Colombo adalah three wheeler (bajaj) atau sering juga disebut "tuk-tuk". Kalau di Indonesia bajaj-bajaj itu hanya untuk wilayah dalam kota, maka di Sri Lanka, kendaraan roda tiga itu dipakai di seluruh daerah.

Bajaj-bajaj Jakarta tak pernah membawa penumpang jauh-jauh, misalnya ke Bandung. Namun di Sri Lanka, tuk tuk bisa dipakai untuk perjalanan jarak jauh, misalnya dari Maskeliya ke Colombo, yang jaraknya sekitar 220 km.

Lantas, berapa ongkosnya?

"5.000 rupee (sekitar Rp 400.000)!" jawab Tayub Ali, sopir bajaj di Maskeliya, Sri Lanka tengah, sigap sekali.

Dia menyangka penulis serius hendak "berbajaj" dari Maskeliya ke Colombo sehingga terus berharap mau menawar harga itu, laksana Macan Tamil berunding dengan Pemerintah Sri Lanka.

Penulis hanya ingin tahu apakah tuk tuk juga dipakai untuk pergi jauh, mengingat kendaraan mungil itu ada di mana-mana, sampai ke desa-desa di bawah perbukitan kuno Seven Virgins yang merenggut 182 haji Indonesia 36 tahun silam.

Faktanya, tuk tuk atau bajaj adalah kendaraan umum paling kerap berkeliaran di Sri Lanka, di samping bus kota Tata buatan India yang pernah merajai kota-kota besar Indonesia pada 1970-an dan awal 1980-an.

Mengenai statistik tuk tuk atau bajaj ini, berdasarkan catatan tahun 2007, ada sekitar 400.000 unit di Sri Lanka.

Kalau penduduk negara itu 20 juta orang, maka untuk setiap 50 orang tersedia satu bajaj. Sopir-sopir bajaj di Jakarta mungkin tercengang mengetahui statistik ini.

Satu lagi yang mirip antara "dunia perangkotan" Sri Lanka dengan dunia sejenis di Tanah Air adalah kegemaran para sopir menuliskan kata-kata mutiara pada bajajnya.

Beberapa kalimat itu kalau dialihkan ke bahasa Indonesia bisa berarti "Cinta Pertama Itu Abadi", "Senyum Itu Harta Tak Ternilai", dan banyak lagi. Kata-kata yang dituliskan rata-rata filosofis, mungkin diambil dari ajaran Buddha.

Namun, jangan harap mereka menuliskan kata atau relief-relief cenderung porno pada bajaj mereka seperti biasa dilakukan sopir-sopir angkot dan truk pengangkut barang di Indonesia.

Kota-kota Indonesia memang lebih bersih dan asri dari Sri Lanka, tapi tampaknya mulut orang-orang Sri Lanka lebih bersih dari mulut sebagian orang Indonesia yang gemar mengumbar kata dan pesan-pesan cabul di ruang publik.

Pada September 2009, tuk tuk pernah dipakai untuk kampanye pariwisata guna mempromosikan Sri Lanka aman pascaperang saudara.

Waktu itu 50 tuk tuk mengikuti safari keliling negeri dengan jarak tempuh 1.200 km.

"Meski perang saudara telah berakhir, Sri Lanka tetap dianggap tidak layak dikunjungi, padahal negeri ini indah," kata Abbie Lingwood, pegiat pariwisata asal Australia yang mempromotori acara itu.
Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

Masih Adakah Semangat Bung Tomo?

| | | 0 komentar
Oleh Abdul Hakim

Istilah "Merdeka atau Mati" itu Bung Tomo (Sutomo, red) yang pertama kali menyerukannya, begitu kata salah seorang pengamat sejarah dan sekaligus ketua Pancasila Center, Syafaruddin.
Begitu semangatnya istilah tersebut, sehingga menjadikan Bung Tomo adalah sosok yang tidak bisa ditawar, memiliki sifat tegar, keras, dan punya kepribadian yang kuat.

Bung Tomo yang lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920 pantas mendapatkan gelar pahlawan, karena memang dialah yang tampil sebagai pemimpin perlawanan terhadap Ultimatum Tentara Sekutu (Inggris) yang dikeluarkan Mayor Jenderal Mansergh dan memicu pertempuran selama lebih kurang satu bulan (27 Oktober ? 20 November 1945).
Perang yang sebagaimana diketahui tidak dapat dipisahkan dari asal usul dijadikannya 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Perang yang menimbulkan korban tidak sedikit di kedua belah pihak, Indonesia 16.000 dan Inggris 2.000.

Dalam perang tersebut ada seorang tokoh yang tentunya semua mengetahui mempunyai peran yang sangat penting membakar semangat para pemuda (arek-arek Suroboyo) saat itu, membakar semangat juang para pejuang untuk mempertahankan Tanah Air tercinta, Indonesia.

Menurut salah seorang pengamat Politik dan Sosial Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi, ada beberapa hal yang menarik dari figur Bung Tomo yang patut diteladani oleh semua orang.

"Pertama, Bung Tomo adalah sosok yang memiliki karakter nasionalis religius yang sangat kuat, bahwa pembelaan beliau untuk berjuang mempertahankan keutuhan republik adalah manifestasi dari keimanannya kepada keyakinan agama," paparnya.
Faktor ini, lanjut dia, patut diteladani ketika saat ini mulai muncul fenomena fanatisme keagamaan yang antinasionalis dan eksklusif. Kedua, figur Bung Tomo adalah elite politik yang sangat dekat di hati rakyatnya, ada interaksi yang intens antara Bung Tomo dan rakyat, di mana hal ini terlihat mulai menghilang dalam perilaku elite politik saat ini.

"Terakhir adalah kesederhanaan hidupnya dan keluarganya, yang khas dari banyak karakter para pendiri republik, patut diteladani di tengah maraknya budaya koruptif di kalangan elit politik saat ini," ucapnya.

Hal sama juga diungkapkan pengamat komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo. Ia mengatakan bahwa Bung Tomo, adalah sosok yang langka khususnya pada saat membebaskan belenggu kolonialisme pada saat penjajahan Belanda dan Jepang.

"Keberaniannya menentang kolonialisme patut diacungi jembol. Bahkan dia juga mampu menggerakkan arek-arek Suroboyo (para pemuda, red) untuk bersama-sama melawan penjajah," ujarnya.

Sifat kesederhanaan dan kesalehan Bung Tomo patut ditiru oleh generasi muda saat ini, yakni tidak memilih hidup di istana layaknya para presiden dan pejabat pemerintahan lainnya. Padahal Bung Tomo sendiri merupakan pahlawan besar yang sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan yang layak. "Namun, Bung Tomo lebih memilih untuk hidup sederhana di Surabaya berkumpul dengan masyarakat," katanya.
Sikap egaliternya tersebut yang jarang ditemukan pada saat ini. Bahkan rasa memahami dan menghargai sesama manusia saat ini sudah mulai menurun. "Kalau di Surabaya, urusanmu, ya, urusanmu. Urusanku, ya, urusanku. Faktor ’fair’ sudah tidak ada," katanya.

Nyaris Tanpa Pahlawan
Meskipun sejak 10 November 1945 Surabaya terkenal sebagai Kota Pahlawan, tidak banyak yang tahu bahwa kota ini tidak mempunyai pahlawan nasional yang diakui pemerintah.

Setidaknya, ketiadaan pahlawan itu berlangsung sampai 7 November 2008, ketika pada akhirnya pemerintah mengakui dan menyatakan bahwa Bung Tomo, tokoh penting perlawanan arek-arek Suroboyo melawan Sekutu, adalah pahlawan nasional.
Sungguh penantian amat lama. Dengan demikian, sekarang Surabaya sempurna disebut sebagai Kota Pahlawan karena sudah memiliki pahlawan nasional yang diakui pemerintah.
Proses untuk bisa mendapat gelar pahlawan nasional bagi Bung Tomo cukup lama. Lebih terasa aneh karena untuk mendapat gelar pahlawan nasional harus ada "yang meminta" atau mengajukan dengan sejumlah prosedur yang ruwet.

Tampaknya, para birokrat di Departemen Sosial (saat ini Kementerian Sosial) yang dipimpin Menteri Bachtiar Chamsyah saat itu berpendapat, semakin sulit dan rumit semakin baik. Akibatnya, Bung Tomo yang peranannya dalam berjuang melawan sekutu sudah sangat jelas kesulitan mendapat pengakuan tersebut.

Di zaman Presiden Soeharto, pengajuan pengakuan kepahlawanan Bung Tomo pernah ditolak karena syarat-syarat "administratifnya" tidak lengkap. Namun, akhirnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pengakuan kepada Bung Tomo sebagai pahlawan nasional.

Memang, di Indonesia ini sangat aneh. Untuk diakui sebagai pahlawan nasional perlu "sponsor". Tim yang menjadi sponsor inilah yang mengurus segala macam tetek bengek agar tokoh yang disponsorinya diakui sebagai pahlawan.

Dengan demikian, memang bukan urusan mudah untuk memperjuangkan gelar kepahlawanan nasional, meski perjuangannya sudah sangat terang benderang seperti Bung Tomo.
Misalnya, perlu ada seminar, penerbitan buku hasil penelitian bahwa seseorang yang diusulkan itu mempunyai nilai kepahlawanan dalam perjuangannya. Selain itu, harus mampu meyakinkan DPRD setempat agar mengeluarkan rekomendasi kepahlawanan seseorang.


Namun semua itu akhirnya bisa dilalui, sehingga warga Kota Surabaya pantas bersyukur dan bergembira dengan keputusan pemerintah itu. Sebab, dengan demikian, perjuangan berdarah yang penuh pengorbanan dan air mata almarhum Bung Tomo secara resmi diakui negara.

Biografi
Sutomo pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, ia menjadi staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahaan ekspor-impor Belanda.

Ia juga pernah bekerja sebagai polisi di kota Praja dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor untuk perusahaan mesin jahit "Singer".

Pada usia 12 tahun, Sutomo meninggalkan pendidikannya di MULO karena ia harus melakukan berbagai pekerjaan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan HBS melalui korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat "Pandu Garuda".

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ia terpilih pada tahun 1944 menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru.

Bulan Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat pada saat Surabaya diserang oleh tentara NICA dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radio yang penuh dengan emosi.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo pernah aktif dalam politik pada tahun 1950-an. Namun pada awal tahun 1970-an, ia berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara keras terhadap program-program Presiden Soeharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah selama setahun karena kritik-kritiknya yang keras.

Pada tanggal 7 Oktober 1981, Sutomo meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

sumber kompas

Sengkon dan Karta, Sebuah Ironi Keadilan

| | | 0 komentar
Lima tahun bukan waktu yang teramat pendek. Apalagi untuk dihabiskan di dalam sebuah ruangan beku bernama penjara. Apalagi untuk sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Tapi Sengkon dan Karta mengalaminya. Kepada siapakah mereka harus mengadu, jika sebuah lembaga bernama pemerintah tidak bisa lagi dipercaya? Sebab keadilan tidak pernah berpihak kepada Sengkon, juga Karta, juga mereka yang lain, yang bernama rakyat kecil.

Alkisah sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menciduk Sengkon dan Karta, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka.

Keduanya dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Tak merasa bersalah, Sengkon dan Karta semula menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah. Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa. Maka pada Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara, dan Karta 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Dalam dinginnya tembok penjara itulah mereka bertemu seorang penghuni penjara bernama Genul, keponakan Sengkon, yang lebih dulu dibui lantaran kasus pencurian. Di sinilah Genul membuka rahasia: dialah sebenarnya pembunuh Sulaiman dan Siti!. Akhirnya, pada Oktober 1980, Gunel dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Meski begitu, hal tersebut tak lantas membuat mereka bisa bebas. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap. Untung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur peninjauan kembali.

Berada di luar penjara tidak membuat nasib mereka membaik. Karta harus menemui kenyataan pahit: keluarganya kocar-kacir entah ke mana. Dan rumah dan tanah mereka yang seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, telah amblas untuk membiayai perkara mereka.

Sementara Sengkon harus dirawat di rumah sakit karena tuberkulosisnya makin parah, sedangkan tanahnya yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.

Sementara itu Sengkon dan Karta juga mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977. ‘Saya hanya tinggal berdoa agar cepat mati, karena tidak ada biaya untuk hidup lagi’ kata Sengkon.

Lalu Tuhan berkuasa atas kehendaknya. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal kemudian akibat sakit parahnya. Di sanalah mereka dapat mengadu tentang nasibnya, hanya kepada Tuhan (berbagai sumber).

sumber : dekade 80 an

Mereka Masih Akrab dengan Kemiskinan

| | | 0 komentar
Oleh Stevano Lilinger
Lapangan Purpura dekat pantai Uhun, Pulau Kisar, Selasa pagi 17 Agustus 2010, tampak ramai dikunjungi warga Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Maluku. Mereka berkumpul untuk menyaksikan peringatan HUT RI ke-65.

Purpura dijadikan lokasi peringatan kemerdekaan karena memang desa itulah satu-satunya yang memiliki tanah lapang, cocok untuk pelaksanaan upacara dengan peserta berjumlah banyak.

Upacara itu sendiri menjadi sangat istimewa bagi warga Pulau-Pulau Terselatan, selain baru pertama kali, peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan itu merupakan acara penutup Sail Banda 2010, satu kegiatan reli dan lomba perahu layar bertaraf internasional yang melibatkan puluhan peserta dari 19 negara.

Dipimpin Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu selaku inspektur upacara, acara ini dihadiri sejumlah pejabat sipil dan militer, termasuk Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun, Sofie Ralahalu (istri Gubernur), Penjabat Bupati MBD Angky Renyaan, Pangdam XVI Pattimura Majen TNI Syafruddin Hatta, Kapolda Maluku Brigjen Pol, Totoy Herawan Indra.

Danlantamal VII Kupang Laksma Amry Husaini yang diundang khusus terlihat duduk bersama tokoh lintas agama, anggota DPRD Maluku dan Kabupaten setempat bersama tamu undangan lainnya. Mereka menempati tribun kehormatan berukuran lebih kurang 50 meter x 5 meter.

Di luar mereka, warga Pulau Kisar tua dan muda juga hadir. Namun, warga setempat yang harus menempuh perjalanan sejauh 7-12 KM itu, hanya mendapat tempat di belakang peserta upacara.

Lagu-lagu perjuangan terdengar menggaung dari perangkat tata suara berdaya listrik cukup besar, paling tidak terukur dari bunyinya yang terdengar mengalahkan deru ombak Pantai Uhun.

Beberapa menit sebelum pukul 10.00 WIT, acara pun dimulai. Derap pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) yang terdiri atas pasukan 17, 8 dan 45 terlihat gagah dan berbaris rapih menuju podium utama.

Cindy Lokarleky, siswa SMA Negeri I Pulau Pulau Terselatan, dipercayakan mengambil duplikat bendera pusaka yang diserahkan Gubernur untuk selanjutnya bersama anggota Paskibraka lainnya dibawa menuju tiang bendera untuk dikibarkan.

Ribuan mata masyarakat yang hadir tertuju pada para paskibraka, dan ini menjadi tontonan langka bagi warga di Pulau Kisar seluas 117,59 kilometer persegi yang merupakan salah datu dari delapan pulau terluar di Kabupaten MBD.

Cindy dan rekan-rekannya sukses mengibarkan Sang Merah-Putih hingga ke puncak tiang. Upacara itu berlangsung khidmat, kendati beberapa acara seperti atraksi perang pasukan kuda terpaksa dibatalkan.

Usai memimpin upacara itu, Gubernur, Wakil Menteri Perindustrian dan rombongan lainnya diundang menuju lokasi penancapan bendera merah putih di atas bukit pantai itu, yang diawali simulasi perang merebut pulau Kisar oleh pasukan elite dari Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) Lantamal VII Kupang.

Skenario penyerangannya dilakukan pagi-pagi. Dengan menggunakan tiga perahu karet, pasukan marinir Yonmarhanlan Lantamal Kupang mendarat di pantai Uhun, namun belum sempat tiba di bibir pantai, masih di tengah laut, mereka diserang musuh dari negara asing yang mengetahui kedatangan pasukan itu.

Kontak senjata antara prajurit Marinir dan musuh tak dapat dielakan dan bakutembak berlangsung seru, karena musuh sempat bersembunyi di perbukitan batu sepanjang bibir pantai itu.

Namun dengan semangat juang tinggi pasukan Indonesia berhasil melumpuhkan musuh sekaligus membawa bendera merah putih yang terbuat dari tembaga dan menyerahkanya kepada Gubernur Karel Albert Ralahalu untuk ditancapkan di atas perbukitan batu di pulau itu.

Disaksikan ribuan masyarakat dan para tamu undangan Gubernur Maluku menancapkan bendera merah putih di pantai itu, yang dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti pulau-pulau terluar.

Belum Merdeka?

Namun, keramaian dan suasana hingar-hingar di lapangan Purpura itu berbanding terbalik dengan suasana lengang di rumah kecil keluarga Kamanasa di Desa Ohoirata Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan di Pulau Kisar, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi peringatan kemerdekaan.

Adalah Sevnat Kamanasa (42) bersama istrinya Tenci Kamanasa (39) dan kelima anaknya yang masih kecil seakan tak hirau dengan acara yang langka terjadi di pulau yang berhadapan dengan Negara tetangga Timur Leste itu.

Pasangan suami istri dengan lima anaknya, Marlon (17), Jhanter (12), Teguh (9), Charlos (6) sibungsu Gion (3), lebih memilih mengolah ladang yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumahnya.

"Jagung yang ditanam di ladang hanya bisa menghasilkan separuh saja, karena selebihnya mati dan kering akibat kemarau. Kami lebih memilih bekerja di kebun dan berharap hasil panen kali ini lebih baik," ujar Sevnat, saat ditemui di rumahnya yang hanya memiliki satu kamar dan berada di tengah rimbunan pohon koli yang berjejeran di samping kiri-kanan.

Keberhasilan mengolah lahan inilah yang dianggap sebagai "kemerdekaan" sesungguhnya oleh keluarga kecil ini.

Di gubuk kecil berukuran 5x6 meter persegi, keluarga besar Kamanasa tinggal. Beratapkan daun pohon koli, berdinding anyaman bambu yang sebagian pondasinya terbuat dari tanah liat dan berlantai tanah.

Sevnat dan istrinya membesarkan kelima buah hatinya dengan menggantungkan hidup dari hasil kebun. Walaupun sesekali di tengah senggang menunggu hasil panen kebun, dia menyempatkan diri menjadi pekerja buruh angkut di Pelabuhan Nama, yang hasilnya tidak seberapa.

"Kadang seminggu upah yang saya dapat hanya 150.000 ribu rupiah, tergantung pada kapal yang masuk di Kisar," ujarnya.

Bahkan, beberapa kali terpaksa Sevnat harus meminjam uang di kas koperasi buruh angkut untuk memenuhi biaya sekolah empat anaknya dan juga kebutuhan hidup sehari hari.

Rumah kecil dengan satu kamar itu terpaksa ditempati Sevnat dan keluarganya, karena mereka tidak mampu membuat yang lebih besar lagi, mengingat hasil panen jagung selama semusim dalam setahun hanya mampu menghasilkan empat hingga tujuh kaleng minyak, dengan harga jual Rp125 ribu per kaleng.

Di rumah itu tidak ada perabotan yang berharga. Hanya sebuah lemari pakaian yang tampak masih baru. Selebihnya perabot yang lain sudah terlihat usang. Pakaian yang mereka miliki juga terbatas, sehingga tidak heran jika kelima anaknya terlihat memakai baju kusam dan kotor, bahkan sering dipakai berulang kali sebelum diganti.

"Kalau kakaknya pakai baju baru sepulang dari Gereja atau ibadah terpaksa dibuka dan diberikan kepada adiknya yang juga ingin melakukan hal yang sama," kata Ibu Tenci malu-malu.

Tenci mengatakan, saat malam tiba, nyala pelita menjadi penerang satu-satunya. Di bawah sinar redup pelita itu pula empat dari lima anaknya yang sudah bersekolah menghafal pelajaran pada malam hari.

"Tahun 1997 sudah dipasang tiang listrik lengkap dengan kabelnya, tetapi entah kenapa kabelnya diambil lagi, tinggal tiang berdiri tanpa aliran listrik. Bahkan upah memasang tiang-tiang ini tidak dibayar," ujar Sevnat yang diiyakan istrinya yang setia mendampinginya selama 13 tahun terakhir.

Kasur berukuran 1,5 x 1 meter persegi menjadi satu-satunya pengalas kamar tidur yang pengap bagi keluarga ini melepas lelah pada malam hari, setelah seharian berpacu mengolah ladang di bawah terik matahari.

"Kami tidur berdempetan, terkadang bapak harus tidur di dipan yang terbuat dari bambu di luar rumah," tutur Tenci, sambil menunjukkan sebuah balai-balai bambu yang berjarak dua meter dari rumahnya.

Dipan ini juga berfungsi ganda karena dijadikan meja makan bagi keluarga Kamanasa.

Warga miskin

Keluarga Sevnat adalah potret dari sekitar 73 persen warga Kisar yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan jauh dari sentuhan pembangunan. Mereka menggantungkan hidup dari hasil ladang diantara dua musim yakni musim barat dan timur.

Musim Barat berlangsung Desember hingga April, dan musim timur pada paruh Mei hingga September, sedangkan September-Desember panas sangat terik terasa memanggang kulit. Rumput pun ikut terbakar terik matahari.

Di saat warga kesulitan bertani, seringkali bantuan dari pemerintah berupa beras (raskin) tidak cukup untuk memenuhi hidup sehari sehari. Kondisi ini sudah dianggap biasa bagi warga di beranda depan NKRI itu karena telah berlangsung turun-temurun.

Rupilus Jermias (60) dan Tomi Ratuhaurasa (52), dua keluarga miskin di Ohoirata juga mengaku bantuan raskin yang diberikan pemerintah sering datang terlambat hingga setahun, itu pun jumlahnya hanya satu kilogram atau hanya cukup untuk sekali makan saja.

"Raskin biasanya datang sekali setahun. Jatahnya 15-25 kilogram per keluarga, tetapi itu hanya di atas kertas saja. Bahkan kami pernah mendapat jatah 4 cupak (ukuran kaleng susu) beras raskin," kata Rupilus yang turut dibenarkan oleh Tomi.

Kendati demikian masyarakat tetap bisa bertahan hidup mengonsumsi persediaan makanan berupa jagung, kacang-kacangan dan biji mangga kering maupun sayuran di sekitar tempat tinggal mereka.

Tidaklah heran, jika jumlah warga miskin di Kabupaten Maluku Barat Daya masih tinggi, mencapai 57 persen dari seluruh penduduk di Kabupaten yang baru dimekarkan dari induknya Maluku Tenggara Barat (MTB) pada 16 September 2008 itu, sebanyak 74.295 jiwa.

Jauh Panggang dari Api

Kondisi perekonomian di MBD ibarat jauh panggang dari api, di tengah kesulitan mengais rupiah, mereka dihadapkan pada tingginya harga kebutuhan pokok. Contohnya, harga beras mencapai Rp12.000 per kilogram atau dua kali lipat lebih mahal dibanding di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku maupun di kabupaten yang lain.

Kebutuhan pokok warga di MBD lebih banyak suplai dari Kupang (NTT), Surabaya (Jawa Timur), dan Makassar, Sulawesi Selatan menggunakan kapal laut.

Ironisnya fluktuasi harga kebutuhan pokok sering bervariasi dan puncak kemahalannya terjadi di saat musim barat dan timur karena tingginya gelombang laut, sehingga tidak memungkinkan bagi kapal perintis yang membawa kebutuhan pokok untuk berlayar.

Ketika musim gelombang itu pulalah hasil bumi warga Kisar sulit terjual.

"Transportasi udara yang diharapkan saat cuaca tidak bersahabat juga belum mampu manjawab kebutuhan transportasi masyarakat daerah itu, karena hanya dilayani penerbangan Merpati dengan jadwal tidak tentu, padahal seharusnya seminggu dua kali," kata Penjabat Bupati MBD. Frangky Renjaan.

Kebutuhan akan air bersih menjadi masalah lain bagi warga yang mendiami 46 pulau di kabupaten itu, yang secara geografis memiliki enam pulau terluar yakni Leti, Kisar, Marsela, Maiti Marang, Wetar dan Ustutun.

Masyarakat harus memanggul ember dan jerigen berkilo-kilo meter bahkan terkadang menggunakan perahu menuju sumber mata air. Barisan antrean warga untuk mengambil air menjadi pemandangan sehari-hari di Kisar dan pulau lainnya.

"Masalah kemiskinan, listrik, air bersih dan berbagai persoalan lainnya merupakan masalah klasik yang belum terpecahkan sejak Indonesia merdeka 65 tahun silam," kata Kepala Desa Nomaha, Weinan Reytu.

Angky Renjaan mengaku perubahan di kabupaten baru itu berjalan lamban. Apalagi dana yang tersedia untuk menopang pembangunan masih sedikit karena DPRD setempat baru terbentuk dan belum ada kepala daerah defenitif.

"Tiap tahun APBD Kabupaten Maluku Barat Daya hanya sekitar Rp200 miliar, Rp70 miliar di antaranya dipakai untuk belanja rutin dan sisanya untuk membiayai seluruh program pembangunan," katanya.

Masalah keamanan juga menjadi kebutuhan warga di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste ini, karena mereka sering terganggu oleh maraknya pencurian ikan oleh nelayan dari Alor yang sering kali mengancam nelayan setempat dengan bom.

Semua masalah itu seakan melengkapi derita dan kemiskinan Rofilus Jermias Tomi Ratuhaurasa, Sevnat Kamanasa, serta puluhan ribu warga pulau terluar itu, entah hingga kapan.

http://oase.kompas.com/read/2010/08/22/08001186/Mereka.Masih.Akrab.dengan.Kemiskinan-8

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?