SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Negeri Lelucon

| | | 0 komentar
DI manakah negeri tempat terdakwa penggelapan pajak leluasa keluyuran ke mancanegara? Di manakah pula tersangka atau terdakwa bisa menjadi kepala daerah?

Jawabnya, di negeri lelucon bernama Indonesia, tempat hukum bisa dipermainkan semaunya. Inilah negeri tempat penyelenggaraan negara berlangsung suka-suka, seperti main-main.

Lelucon paling mutakhir adalah pelantikan Jefferson Rumajar, terdakwa kasus korupsi yang tengah mendekam di penjara Cipinang, sebagai Wali Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Jefferson didudukkan ke kursi pesakitan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jika seseorang dijadikan tersangka oleh KPK, bisa dipastikan dia akan menjadi terdakwa dan kemudian terpidana. Sebab, bukankah KPK tak punya wewenang menghentikan penyidikan perkara korupsi sebagaimana kepolisian atau kejaksaan?

Akan tetapi, pemerintah tetap melantiknya karena statusnya masih terdakwa, alias belum berkekuatan hukum tetap sebagai terpidana. Ditilik dari prinsip asas praduga tak bersalah, ia berhak menjadi kepala daerah.

Begitulah, Jefferson tetap dilantik menjadi kepala daerah atas dasar akal-akalan terhadap hukum positif.

Maka, bertambahlah jajaran kepala daerah yang menyelenggarakan pemerintahan daerah dari balik jeruji penjara. Bahkan, Jefferson dengan gagah perkasa melantik sejumlah pejabat Kota Tomohon di LP Cipinang. Celakanya negaralah yang memfasilitasi berlangsungnya lelucon itu.

Hukum positif rupanya tidak mengenal rasa malu. Menjadi pejabat pun rupanya tidak memerlukan rasa malu. Buktinya, pejabat Kota Tomohon tidak malu dilantik oleh seorang terdakwa, dan tidak malu dilantik di dalam penjara.

Pelantikan Jefferson jelas merupakan ironi demokrasi. Demokrasi ternyata gagal menghasilkan kepala daerah yang jujur, bersih, dan tahu malu.

Partai politik menyumbang andil yang besar. Sebab, alih-alih melakukan pendidikan politik agar rakyat memilih kepala daerah yang jujur, parpol lebih berkonsentrasi merebut kekuasaan untuk memenangkan calonnya, termasuk dengan cara menghalalkan politik uang.
Bukannya melakukan pendidikan politik, partai politik plus kandidat kepala daerah yang diusungnya, malah melakukan pembodohan politik kepada rakyat.

Itulah sebabnya banyak tersangka terpilih sebagai kepala daerah atau kepala daerah terpilih yang kemudian menjadi tersangka. Sepanjang tahun 2010 tercatat 148 dari 244 kepala daerah menjadi tersangka.

Jika tetap berpegang pada teks hukum positif, bakal bertambah tersangka atau terdakwa yang dilantik sebagai kepala daerah.
Itu artinya negeri ini masih akan menjadi negeri lelucon, entah sampai kapan. Dan, dunia pun tertawa.

Wah.. Ada 286 Bangunan Kuno di Pekalongan

| | | 0 komentar
Tim Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya menemukan 286 bangunan di Kota Pekalongan, jawa Tengah yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya dibangun tahun 1930 - 1970, namun ratusan bangunan cagar budaya tersebut sebagian besar tidak terawat.

Keterangan dihimpun Media Indonesia di Pekalongan, Minggu (23/1) hasil survei inventarisasi bangunan cagar budaya dilakukan di 13 wilayah di Kota Pekalongan ditemukan bangunan-bangunan tua yang dibangun antara tahun 1930-an hingga tahun 1970-an.

Bangunan-bangunan tua yang ditemukan tersebut di antaranya sudah masuk dalam 27 bangunan cagar budaya hasil inventarisasi dan dokumentasi Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika Pariwisata dan Kebudayaan (dishubkominfoparbud) Kota Pekalongan tahun 2009 yakni gedung Kantor Pos dan Giro, Museum Batik, Masjid Kuno Jami-Kauman dan gedung eks kantor Bupati Pekalongan yang dimasukkan dalam sepuluh bangunan cagar budaya kategori baik dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad mengatakan akan segera menyusun skala prioritas untuk mengamankan dan melestarikan bangunan cagar budaya tersebut, selain untuk menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Pekalongan, juga melestarikan budaya dan sejarah daerah ini.

"Kami akan berupaya untuk mempertahankan bangunan-bangunan itu, bangunan milik pemerintah akan kami kendalikan dan bangunan milik masyarakat akan kami prioritaskan untuk dipertahankan apabila bangunan tersebut sangat penting," kata Basyir.

Untuk mempertahankan dan melestarikan bangunan kuno bersejarah tersebut, demikian basyir, diperlukan anggaran yang tak sedikit, karena untuk perawatan sekaligus menjaga kondisi agar tetap bertahan.

"Kami akan anggarkan untuk itu meskipun cukup berat bagi bangunan yang telah dirombak pemiliknya," tambahnya. (AS/X-12)

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/23/197941/90/14/Wah..-Ada-286-Bangunan-Kuno-di-Pekalongan

1918: Partai Nazi Berdiri

| | | 0 komentar
NATIONALSOZIALISTISCHE Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP merupakan partai politik yang pernah dimiliki Jerman. Partai ini berdiri pada 5 Januari 1918, dan berbasis di Munchen.

Sebelumnya, partai tersebut bernama Deutsche Arbeiterpartei (Partai Buruh Jerman). Nama partai tersebut diubah atas desakan Adolf Hitler untuk memasukkan elemen nasional sosialisme. NSDAP adalah kekuatan politik utama dalam Nazi Jerman sejak kejatuhan Republik Weimar pada 1933. Partai tersebut berkuasa hingga akhir Perang Dunia II pada 1945.

Sebelum bubar, NSDAP dideklarasikan ilegal dan para pemimpinnya ditangkap serta dikenai tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui Pengadilan Nurenberg. Para penganut dan pelaksana Partai Nazi telah mengangkat sebuah ideologi politik baru, biasa dikenal sebagai 'Naziisme'.

Pemimpin partai ini, Adolf Hitler, pernah dipilih menjadi Kanselir Jerman oleh Presiden Paul von Hindenburg pada 1933. Sejak saat itu, Hitler dengan cepat membangun rezim totalitarian di Jerman yang dikenal dengan sebutan Third Reich.

Ideologi Nazi menekankan pada kemurnian ras orang-orang Jerman dan menyingkirkan kaum yang mereka sebut sebagai lebensunwertes leben. Di antaranya adalah kaum Yahudi, Slavia, Roma, dan homoseksual. Mereka juga menyingkirkan kelompok saksi-saksi Yehuwa, orang-orang cacat mental atau fisik, dan komunis.

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/05/192973/77/21/1918-Partai-Nazi-Berdiri

Ledakan Kemarahan Seorang Tukang Buah

| | | 0 komentar
Oleh Lea Pamungkas

Mohammed Bouazizi, adalah seorang lelaki biasa yang bisa kita temukan di manapun. Seorang lelaki dengan harapan, bahwa dengan menamatkan sekolahnya kelak ia akan dapat memperbaiki situasi keuangan keluarganya. Tapi seperti banyak kisah di manapun, pendidikan yang cukup tak selalu menjanjikan segalanya. Pemerintahan yang korup membuat sejuta lapisan yang tak bisa ditembus Bouazizi, bahkan untuk sekadar mencukupi pangan sekalipun. Zine El Abidine Ben Ali yang memerintah Tunisia selama 24 tahun, menafikkan kebutuhan dasar Bouazizi, dan seperti banyak kisah lain: sibuk mengutuhkan sebuah rezim, dalam kekuasaan tanpa batas.

Halnya jutaan yang lain, pintu hati kaum jelata adalah hamparan harapan dan kerja keras. Kesibukan memperjuangkan asap dapur, adalah mekanisme ampuh untuk melupa bahwa ketakberdayaan ini bukan takdir yang sesungguhnya. Setiap hari Bouazizi (26) berangkat dengan kereta dorongnya berjualan buah-buahan di Pasar Sisi Bouzid, sekitar 4 jam dari ibukota Tunis. Menjadi penjual buah adalah martabat bagi Bouazizi. Atas keringatnya, ia dapat menghidupi ibu, dua saudara lelakinya, dan satu saudara perempuannya.

Tapi alih-alih berterima kasih dengan apa yang dilakukan Bouazizi, yang mandiri tak merepotkan pemerintah, dengan dalih tak punya ijin berjualan di kaki lima, aparat keamanan mengusirnya. Bukan sekali dua kali, kereta buahnya dijungkirbalikan dan buah-buahan Bouazizi diinjak lantak. “Mohammed demikian menikmati kerjanya, dengan segala kesulitan yang ada di dalamnya” jelas Samia, adik perempuan Bouazizi. “Apa yang ia inginkan hanyalah agar pekerjaannya tidak diganggu”.

Namun harapan sederhana Bouazizi, tetap tidak dimengerti. Pada 17 November lalu, kembali aparat keamanan menggerus para pedagang kaki lima di Pasar Sisi Bouzid. Hari Rabu siang saat itu, para ibu baru saja hendak berangkat berbelanja. Kali ini bukan hanya buah-buahan Bouazizi yang bergelimpangan di tanah, kepala Bouazizi dipukul, dan seorang perempuan petugas keamanan menampar wajahnya. Peristiwa terakhir membuatnya demikian terhina.

Dengan berang, Bouazizi mengadukan peristiwa ini baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. Tak seorang pun menggubrisnya. Oleh ketakberdayaan, dan kemarahan yang bertahun dipendam, Bouazizi membeli segalon bensin. Berangkat ke gedung gubernur kota, di situ ia membakar dirinya. Ketakberdayaan dan kemarahan, daya itu menjalar dalam nafas kaum jelata Tunisia. Jadilah ini revolusi pertama di jazirah Arab, Rezim Ben Ali runtuh hanya dalam waktu 8 minggu.

Keluarga Bouazizi menatap seluruh rangkaian peristiwa ini. Bingung memilih perasaan. Mohammed Bouazizi dijadikan simbol perlawanan bagi Revolusi Melati, dan plaza kota Sisi Bouazizi diukir dalam namanya. Di Tunis, para petinggi berebut kekuasaan, kaum terdidik tersedak . Tidak siap. Baik ideologi, apalagi tindakan praksis.

Barangkali, sebentar, sebentar lagi mereka lupa apa dasar kemarahan seorang tukang buah. "Yang kami butuhkan hanyalah keadilan," desah Salem, anak tertua keluarga Bouazizi.

*Dari berbagai sumber.


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/01/23/17450154/Ledakan.Kemarahan.Seorang.Tukang.Buah

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?