SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Hidup di Kandang demi "Membeli" Sebuah Keadilan

| | | 0 komentar
Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum tidak sedang mengurus besarnya nominal kerugian negara akibat kejahatan mafia hukum. Satgas sedang dihadapkan pada besarnya penderitaan yang mesti ditanggung sebuah keluarga, rakyat kecil, akibat kejahatan hukum yang tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi hingga di Desa Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Casnawi (51) bertubuh kecil, terkesan rapuh, dengan kulit legam. Ia seorang buruh tani. Namun, tekad kuat untuk melawan ketidakadilan tecermin jelas ketika ia menuturkan kisahnya. Ia memperjuangkan nasib adiknya, Kadana, yang pekan ini divonis tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Indramayu karena didakwa membunuh. Ia yakin adiknya tidak bersalah dan disiksa di tahanan selama proses hukum berjalan sejak ditangkap Juli 2009.

Saat seorang polisi, disebutnya bernama Nana, meminta uang sebagai ”penebus keadilan” untuk adiknya, Casnawi melakukan segala daya agar bisa memenuhinya. Dalam benaknya yang sederhana, mungkin harus begitu caranya agar keadilan bisa didapat.

Mula-mula ia dimintai Rp 6 juta. ”Supaya Kadana tidak dipukuli,” katanya. Lalu, Rp 3 juta untuk jaksa, Rp 1,5 juta ketika pindah tahanan, Rp 2 juta lagi untuk jaksa, serta Rp 900.000 dan Rp 600.000 untuk ”menutup berkas” entah apa.

Dia pernah mengantarkan uang Rp 300.000 yang diminta polisi pukul 01.00. Ia menempuh jarak 10 kilometer dengan becak menuju rumah sang polisi. Total Rp 14,3 juta yang diberikan Casnawi dan keluarga Kadana itu mesti ”dibayar” dengan penderitaan berat.
Kadana, juga buruh petani, adalah ayah dari enam anak yang masih kecil. Istrinya, Darmi, yang tak bisa berbahasa Indonesia, terpaksa menjual rumahnya dan kini menumpang di sebuah kandang kambing. Kandang sempit milik tetangga itu ditempati Darmi bersama enam anaknya selama hampir sembilan bulan terakhir.

Setelah menjual rumah demi ”membayar” keadilan, Casnawi dan Darmi terperanjat saat Kadana dituntut 13 tahun penjara oleh jaksa dan kemudian divonis tujuh tahun penjara. Mereka tersadar penderitaan keluarganya tak cukup untuk ”membeli” keadilan.

”Apabila memang adik saya pembunuhnya, silakan dihukum seumur hidup. Istri-anaknya bisa saya tanggung. Tetapi, adik saya tidak membunuh. Polisi dan jaksa, yang dahulu minta uang terus, sekarang ditelepon pun enggak bisa,” ujar Casnawi.

Tragedi keluarga Kadana mulai terungkap di media massa saat Casnawi mengamuk mendengar vonis hakim di PN Indramayu. Kasus ini sampai kepada Satgas. Sekretaris Satgas Denny Indrayana memberi kesempatan Casnawi bicara karena kasus ini benar-benar mengusik rasa keadilan.

kompas

Mantan Gubernur DKI Hidup Susah Hingga Akhir Hayat

| | | 0 komentar
Henk Ngantung Mantan Gubernur DKI Jakarta 1964-1965 ternyata mengalami hidup susah setelah tidak lagi menjadi gubernur. Henk hingga akhir hayat berserta keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil di gang sempit kawasan Cawang, Jakarta Timur.

"Yang saya terima hanya uang pensiun saja sebagai penghargaan sebesar 830 ribu perbulan hingga sekarang, saya pun bertanya tanya dari tahun 80an kenapa pensiun saya gak pernah naik karena dari dulu begitu - begitu saja kan aneh sementara yang lain pada naik," kata Janda Mantan Gubernur DKI Jakarta Evie Ngantung saat di temui ANTARANews di kediamannya.

Evie menjelaskan bahwa dirinya pernah menjual rumah di kawasan Tanah Abang karena sejak suaminya diberhentikan. Ia tidak pernah menerima uang pensiun hingga pada dasawarsa 80 pemerintah menyerahkan uang pensiun yang dirapel. Uang itu digunakan untuk membeli mobil.

Setelah Henk ngantung diberhentikan menjadi Gubernur di tahun 65 secara tiba tiba dan di cap sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia), kesusahan hidup mulai mendera kehidupan keluarga Ngantung.

"Yang paling sulit adalah dalam mendidik anak anak ketika ingin masuk ke sekolah selalu di tanya surat bebas G30S dan suratnya harus ada , gimana saya mau mendapatkan surat itu sedangkan saya tidak pernah terlibat," ujar Evie.

Sejak Meninggalnya Henk Ngantung di tahun 1991 Evie berjuang menghidupi empat anaknya hanya dengan mengandalkan hasil penjualan lukisan-lukisan karya Henk Ngantung.

"saya tidak pernah dapat apa-apa dari pemda DKI dan dari pemerintah pun tidak ada, rumah ini saya beli sendiri padahal pak Henk mantan gubernur ibukota mestinya ada penghargaan sedikit tapi nyatanya tidak ada." tutur Evie. (YUD/A038)

Jepang Serang Indie

| | | 0 komentar
ORANG zaman sekarang tidak tahu atau melupakan apa yang terjadi di Pulau Jawa, setelah balatentara Dai Nippon malam 28 Februari 1942 mendarat di Merak, Banten dan tanggal 1 Maret di Eretan Wetan.
Pasukan tempur Fukushina dengan menggunakan sepeda langsung menuju Batavia yang dimasukinya tanggal 5 Maret. Pendaratan berbahaya bagi tentara KNIL ialah di Eretan, karena tidak jauh dari itu terdapat lapangan udara Kalijati. Tentara Jepang dengan cepat bergerak lewat Pamanukan dan Subang, dan pukul 5 sore Subang dan Kalijati sudah direbutnya.
Pasukan pelopor brigade yang dipimpin Kolonel Shoji memenggal kepala 60 orang militer Inggris dari RAF yang mempertahankan lapangan udara Kalijati. Di rumah sakit Subang terdapat 20 militer Inggris luka sedang dirawat. Mereka tanpa ampun dihabisi oleh pasukan Shoji.
Praktek begitu biasa dikerjakan oleh tentara Jepang. Di Jawa Tengah 50 orang tawanan perang dibunuh oleh Jepang. Sebelum itu masuk laporan tentang pendaratan Jepang tanggal 11 Januari 1942 di Tarakan Kalimantan.
Instalasi minyak disana sesuai politik bumi hangus dirusakkan. Dari 650 orang yang bekerja di situ dalam satu malam 500 orang di Balikpapan dibunuh oleh Jepang.
Tanggal 20 Januari pabrik penghalusan minyak dirusakkan. Begitu tentara Jepang mendarat di sana 24 Januari sebagai tindakan balasan bagi pengrusakan instalasi minyak sejumlah 80 orang Belanda laki-laki perempuan dibunuh.
Gubernur Belanda untuk Borneo Selatan dan Timur adalah dr B.J Haga yang diinternir oleh Jepang, tapi kedapatan mengadakan gerakan dibawah tanah. Haga sendiri pada hari pertama disidangkan depan pengadilan kena serangan jantung dan meninggal.
Lapangan terbang Ulin dekat Banjarmasin tanggal 9 Februari 1842 dirusak oleh regu yang melakukan bumi hangus. Anggota-anggota regu ini dipotong kepala mereka dengan pedang samurai.
Tanggal 26 Agustus semua pria eropa dari kaum pengungsi yang berada di Long Naoan dekat perbatasaan Serawak dipenggal. Tanggal 29 September kaum perempuan eropa juga dipenggal-penggalin.
’Reputasi’ tentara Jepang yang suka membunuh penduduk dalam jumlah besar-besaran diketahui oleh Penglima tentara KNIL Letjen Hein Ter Poorten. Karena itu dengan segala upaya dia mau menghindarkan.
Pertempuran dengan Jepang dalam kota Bandung yang lantaran perang bertambah penduduknya. Dalam verslag Beleid yang ditulisnya sehabis perang Ter Poorten mengatakan mengingat banyaknya kaum wanita eropa dan anak-anak mengalir ke Bandung, supaya jangan ada pertempuran yang memberikan dalih bagi Jepang melakukan pembunuhan terhadap non kombatan. Ter Poorten membubuhkan catatan di pinggiran ‘ Ingat Nanking’.
Tanggal 13 Desember 1937 tentara Dai Nippon melakukan pembantaian mengerikan di kota Nanking Tiongkok berjanji berhenti depansungai Yang-Tsa Xiang, Akan tetapi tiba di situ toh sungai diseberangi dan Nanking dikepung. Waktu itu sekelompok diplomat tinggi Jepang memulai perundingan perdamaian rahasia dengan jenderal Chieng Kai Sok di mana kabarnya Jenderal itu bersedia disuap oleh Jepang.
Pimpinan tentara mendengar tentang inisiatif diplomat tadi, lalu menghalanginya. Chiang Kai Sek menarik tentaranya dari kota Nanking sehingga tidak lagi dilindungi. Saat itu paman Tenno Hoike KaisarJepang bernama Pangeran Asaka Yasuhiko ( 1887-1981) diangkat jadi pangkima tentara Jepang sekitar Nanking.
Pangeran Asaka berkata kepada stafnya ‘Kita akan hajar saudara-saudara China kita yang tidak pernah akan mereka lupakan ‘. Dia perintahkan ‘Bunuh semua tawanan’. Sebanyak 20.000 laki-laki yang bisa berdinas dalam tentara digiring keluar kota, lalu dijadikan ‘bahan’ hidup bagi latihan tusukan bayonet infanteri Dai Nippon. Dari 100.000 penduduk Nanking sebanyak 300.000 orang telah dibantai.
Pangeran Asaka mentang – mentang paman Tenno Heika tidak pernah dijadikan pejahat perang yang telah melakukan genocisa. Sampai hari ini pihak Jepang tidak mengakui bahwa telah terjadi pembunuhan besar-besaran di Nanking. Akibatnya sampai sekarang pemerintah RRC marah sama Jepang karena peristiwa Nanking itu.
Kekejaman tentara Jepang memenggal kepala orang dengan pedang samurainya membikin Belanda di Bandung ketakutan. Menurut buku De Japense aanval op Java Maart 1942 oleh Nortier, Kuijt dan Groen, ketikaa pasukan pelopor Kol Shoji menawan 72 orang militer KNIL di daerah Ciater, mereka diperintahkan melepaskan puttes atau setiwel. Mereka dibagi stas kelompok-kelompok terdiri dari tiga orang yang diikat dengan setiwel.
Kemudian militer Belanda itu ditembaki dengan mitralyur. Yang masih merintih kesakitan ditusuk matanya dengan bayonet. Dua militer selamat keluar dari pembantaian. Mereka bersembunyi dan dua hari kemudian tiba di Cimahi.
Di sana mereka melapor kepada opsir-opsir KNIL mengenai pengalaman seram mereka. Militer KNIL tang ‘dihabisin’ di Cianter itu kini dimakamkan di kuburan kehormatan Paneu.
Setelah dua hari berunding mengenai kapitulasi Hindia Belanda kepada Jenderal Imamura di Kalijati 8-9 Maret, maka Senen siang tanggal 9 Maret 1942 tentara Jepang yang pertama berbaris memasuki Bandung. Mereka berjalan kaki dari Lembang, dalam dua barisan, satu sebelah kiri Jalan Tamansari, yang lain di sebelah kanan.
Beberapa serdadu Jepang naik sepeda yang buat sebagian dibuat dari kayu. Kecuali sedikit yang pakai sepatu dari kulit, kebanyakan serdadu Jepang itu memakai sepatu karet warna hijau. Kota Bandung diduduki oleh Jepang.

Belanda Mau Gerilya

| | | 0 komentar
TATKALA Jepang menyerang Hindia Belanda , setelah pecah perang tanggal 8 Desember 1941,maka Letjen Hein Poorten (1888-1968) baru saja menjadi komandan tentara KNIL.
Sebelum itu dia kepala staf dibawaj Letjen C.J. Berenscgot (1887-1941) yang lahir di Sawah Lunto dan fasih berbahasa Minang. Jenderal berdarah Indo ini tewas dalam kecelakaan pesawat terbang dekat lapangan udara Kemayoran, Batavia tanggal 13 Oktober 1941. Ter Poorten yang waktu itu berada di Manila berunding dengan Jenderal Mac Arthur segera kembali ke Jakarta, lalumenggantikan kedudukan Berenschol. Ter Poorten yang mulanya Letnan Artileri pada tahun 1910 mengajukan permohonan untuk dilatih sebagai militer Hindia Belanda.
Gubernur Jenderal Tjarda van Starkanborgh tidak begitu serasi dengan Jenderal Ter Pooten yang dinilainya kasar omongannya, bersifat lawaaierig alias suka ramai bikin ribut dan grof alias kasar, maklum, Tjarda adalah seorang aristokrat alias bangsawan.
Setelah terjadi pertempuran di Laut Jawa tanggal 06 Februari 1942 jalan terbuka lebar bagi invasi angkatan laut Jepang di pantai utara Jawa. Tempat-tempat mereka mendarat telah diketahui persis olah spion-spion Jepang sejak 20-30 tahun sebelumnya yang bekerja sebagai fotografi pemilik toko, barbir di kap salon.
Tanggal 2 Maret Gubernur Jenderal Tjarda menerima tilgam dari PM Belanda di London Prof Gerbrandy. Isinya pemberitahuan bahwa ‘ tidak boleh kapitulasi alias menyeraah diri ‘. PM Belanda menganjurkan sebagai penyelesaian masalah agar ‘tentara KNILmemulai perang gerilya di gunung-gunung ( sekitar Bandung )’.
Dalam bukunya Nederlands-India 1942-Illusie en Ontgoocheling (1990) Grdan dan Touwan – Bouusma memberi komentar ‘ Bagaimanakah orang yang waras otaknya bisa memerintahkan perang gerilya di Jawa, sebuah pulau yang saat itu paling padat penduduknya di Asia?’ . dalam tilgram PM belanda itu Tjarda diperintahkan menyerahkan pimpinan militernya kepada Jenderal Ter Poorten. Ini terjadi tanggal 5 Maret.
Ter Poorten menulis dalam Verslag Baleid ‘ semua itu terjadi, setelah saya melaporkan bahwa situasi militer tidak tertolong lagi. Pada hemat saya supaya Gubernur Jenderal Tjarda jangan sampai melakukan kapitulasi.
Menurut Gubernur Jenderal dengan pengharapan bahwa dia sebagai penasehat sipil demi kepentingan rakyat akan dipertahankan ( oleh balatentara Dai Nippon)’. Tjarda juga memberitahukan kepada Ter Poorten bahwa dia bisa menerima penugasan di luar negeri. Ter Poorten menasehatkan kepada Tjarda agar tetap tinggal di Hindia.
Tidak saja Tjarda punya macam – macam khayalan dan harapan bahwa dia masih akan dipakai tenaganya oleh Jepang, setelah Hindia Belanda kalah perang, tapi juga pembesar-pembesar Belanda lain sama sekali tidak realistis. Bagaikan orang bermimpi di siang bolong. Begitulah Mr van Kleffens Menteti Luarnegeri Belanda dalam kabinet itu ( dia pernah tinggal di Indonesia dan jadi anggota Volksraad) berkata ‘ 2000 pesawat pembom modern dikumpulkan di dataran tinggi Bandung’.
Mengenai van Mook yang menjabat sebagai Menteri Penjajahan di kabinet Gerbrendy, Ter Poorten menulis bahwa Van Mook berkata ‘ Di Priangan Selatan telah dipersiapkan suatu reduit alias pertahanan terakhir yang kuat dengan stok besar barang -barang suplai’.
Pendapat-pendapat tadi adalah omong kosong belaka. Mana bisa dilakukan perang gerilya di gunung-gunung sekitar Bandung oleh pihak Belanda, bilaman Belanda tidak mendapat dukungan rakyat Indonesia ?
Menurut W Buijze dalam bukunya Kalidjati 8-9 Maret 1942, di dalam kabinet Gerbrandy di London itu terdapat tiga orang menteri yang faham keadaan sebenarnya dari Indonesia yaitu Kersten, Van Mook dan orang Indonesia – Raden Adipati Ario Soejono ( mantan Anggota Raad van Indie) yang menjabat sebagai Menteri Negara.
Untuk melukiskan sfeer atau suasana di kalangan kainet adalah menarik untuk mengetahui bahwa PM Gerbrandy berkata suatu hari kepada karaten dan Van Mook mungkin mengangkat bahunya mendengar nonsens demikian.
Begitu juga Kesrten, Bagi Soejono sudah jelas bahwa dia tidak bisa mengharapkan apa-apa dari Belanda sehabis perang di bidang politik. Belanda tetap reaksioner. Soejono akan pulang ke tanah air dengan tangan kosong. Dia tutup usia di London tanggal 5 Januari 1943. Pada hemat Swijze, mati karena ellende, artinya sengsara, makan hati.
Tanggal 8 Maret 1942 ter Poorten memberitahukan kepada Tjarda bahwa apabila dia dan Gubernur Jenderal tidak segera menghadap Letjen Imamura di Kalijati, maka Bandung bakal dihancurkan dengan pemboman dari udara. Seorang perwira staf Jepang telah berada di halaman depan villa Isola, markas Mayjen Pasman, memegang tanda dengan kain (lappansein) yang menghubungkannya dengan sebuah pesawat terbang Jepang ysng beredar di atas Bandung.
Perwira Jepang itu memberitahukan kepada Pasman bahwa apabula belum juga ada persetujuan pihak Belanda untuk datang meghadap ke Kalijati maka pukul 10 dia akan memberikan aba-aba kepada pesawat terbang Jepang memulai serangan udara secara besar-besaran terhadap Bandung. Tjarda akhirnya setuju. Mereka berangkat ke Kalijati. (***)

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?