SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Mereka Lebih Suka Dipanggil Budaknya Cornelis

| | | 0 komentar
Salah satu keturunan Belanda Depok Suzana Leander, sekaligus pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC). (Foto: Marieska Harya Virdhani/okezone)

{baca juga : Siapa Sebenarnya Belanda Depok?}

Dua belas marga keturunan budak-budak yang dipekerjakan untuk merawat tanah perkebunan dan pertanian milik Cornelis Chastelein, mengaku merasa terhina jika disebut Belanda Depok. Pasalnya sebutan Belanda Depok seperti suatu celaan yang menyamakan mereka dengan bangsa penjajah.

Salah satu keturunan mereka yang juga anggota Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Suzana Leander menuturkan, mereka lebih senang jika dipanggil budak-budak. Karena secara fisik saja, kata Suzana, mereka memang orang Indonesia asli yang kebetulan dipekerjakan oleh Cornelis Chastelein, bukan orang asing yang memiliki logat atau aksen Belanda.

"Kami tersinggung jika dipanggil Belanda Depok, itu penghinaan buat kami, Belanda kan kulitnya putih rambutnya pirang. Kami itu pribumi, beda. Kami bukan penjajah," tegasnya saat berbincang dengan okezone di kantor, Pancoran Mas Depok.

Suzana sendiri, memang sama sekali tidak berperawakan layaknya keturunan bangsa Belanda. Suzana berkulit coklat, bermata dan berambut hitam, tidak memiliki postur tinggi layaknya orang-orang Eropa, serta tidak pula bisa berbahasa Belanda yang kerap kali memanggil orang pribumi dengan sebutan inlander.

"Hanya kakek nenek dan orang tua kami saja yang mengerti bahasa Belanda, karena memang dibesarkan dan hidup pada zaman Cornelis Chastelin. Kami sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Belanda. Mungkin ada beberapa di antara kami yang hanya mengerti tapi tidak bisa mengucapkan, karena kami memang orang Indonesia asli. Coba saja bedakan, tak ada beda," tuturnya lagi.

Kini di bawah naungan YLCC, mereka aktif di semua kegiatan kerohanian gereja, dan memberikan bantuan bagi keturunan mereka yang sudah jompo. Suzana menambahkan, mereka ingin mencerdaskan keturunan mereka serta masyarakat umum dengan membangun SMP Kasih yang berada dalam satu gedung dengan YLCC.

"Karena itu, meski kami tergabung dalam satu komunitas, tapi kami tetap hidup membaur," ujarnya.

Cita-cita Cornelis Chastelein ingin mempersatukan Depok, kini terwujud dengan bergabungnya Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Beji, dan Kecamatan Sawangan. Dahulu, kata Suzana, masyarakat dari kecamatan di luar Kecamatan Pancoran Mas tak mau mengaku berasal dari Depok karena faktor perbedaan agama.

"Dulu mana mau orang Beji mengaku orang Depok, karena Depok hanya kecamatan Pancoran Mas," jelasnya.(hri)

okezone

Des

| | | 0 komentar
Des Alwi adalah seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat. Juga berwarna-warni. Jika kita lihat lelaki ini duduk di bawah pohon ketapang berumur 100 tahun yang menaungi halaman hotelnya di Bandaneira, jika kita ingat sosok yang tambun tinggi itu sudah ada di tempat itu pada 1936 dan, sebagai anak kecil, melihat Hatta dan Syahrir jadi orang buangan yang turun dari kapal dengan paras pucat, kita bisa iri kepadanya: begitu banyak yang telah dilihatnya, begitu beragam pengalamannya, begitu pas ia di pulau Maluku itu. Begitu "Indonesia".

Des Alwi seperti Bandaneira: elemen yang sering tak diingat, tapi saksi penting dari riwayat Indonesia—dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kemerdekaan. "Di sini," kata Rizal Mallarangeng, yang telah dua kali ke Bandaneira dengan rasa kagum kepada para perintis kemerdekaan yang dibuang ke pulau itu, "bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia." Dia benar: di sini berawal kolonialisme dan antitesisnya.
Kita bisa baca: di Banda-lah pada 1529 usaha kolonisasi Eropa dipatahkan; di sini kontingen orang Portugis terus-menerus diserang hingga mereka batal membangun sebuah benteng. Hampir seabad kemudian, pada 1609, ketika sepasukan Belanda mencoba memperkuat Benteng Nassau, para pemimpin Banda, disebut "orang kaya", membunuh laksamana asing itu dengan segenap stafnya.

Banda mencatat konflik seperti itu sampai ke dalam abad ke-20: para penentang VOC (kemudian Hindia Belanda) diasingkan ke sini silih berganti. Kita tahu sebabnya: pada mulanya adalah rempah-rempah, terutama pala, yang di dunia hanya ditemukan di Banda, yang menggerakkan perdagangan internasional paling awal, seperti minyak bumi di zaman ini. Dan bersama perdagangan, datang peradaban. Juga kebiadaban.

Sebelum orang Portugis masuk ke Maluku di abad ke-16, letak Banda yang kaya rempah itu dirahasiakan para saudagar Arab (atau "Mur") yang membawa barang berharga itu ke Eropa. Kemudian penakluk dari Semenanjung Iberia masuk, kemudian Belanda dan Inggris. Perjalanan jauh dan berbahaya, tapi mereka selalu datang. Untuk laba yang 300 kali lipat dari jual-beli pala, bahkan yang bengis siap dihadapi dan diberlakukan.

Di Bandaneira ada sebuah monumen kecil. Di Parigi Rante itu ada sebuah sumur di sepetak halaman. Di sanalah, 8 Mei 1621, seregu samurai Jepang didatangkan Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC yang terkenal itu) ke Neira. Mereka disewa untuk menyembelih 40 orang pemuka masyarakat Banda yang menolak klaim Belanda dalam monopoli niaga pala. Tubuh ke-40 orang itu dicincang, kepala mereka dipancangkan di deretan tiang.

Di dinding di belakang perigi itu juga tertulis sederet nama orang dari pelbagai penjuru Nusantara yang dibuang ke pulau itu sejak abad ke-19: dari Pontianak, Yogya, Kutaraja, Cirebon, Serang, Blitar. Di abad ke-20 ada nama yang kini lebih dikenal: Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta, Syahrir.

Tak akan mengherankan bila dari kepulauan ini sejarah tampak berbeda: kita tak akan mengatakan bahwa yang berlangsung selama lebih dari 350 tahun di Nusantara adalah 350 tahun penjajahan. Dari Banda kita jadi tahu: sejarah Nusantara adalah 500 tahun perlawanan. Dan Des Alwi, yang lahir 7 November 1927 di Neira dan sejak kecil mengenal Cipto, Hatta, dan Syahrir—orang-orang hukuman yang mengubah hidup Des—mungkin saksi terakhir dari rangkaian perjuangan panjang itu. Saya menyadari itu ketika sore itu saya dan beberapa teman duduk di dekatnya, mendengarkan ceritanya, di petak atap Benteng Belgica yang berumur 400 tahun. Seakan-akan di sore itu, sejumlah abad bertemu.

Benteng yang menjulang hitam di bukit ini dibangun Belanda pada 1611. Letaknya dipilih pada posisi yang bisa mengawasi seantero selat dan laut. Sejak didirikan, empat menara pengintainya menyaksikan armada-armada Eropa datang, meriam-meriam ditembakkan, destruksi dan pembunuhan berkecamuk: 200 orang Belanda dihabisi pasukan Inggris di Pulau Ai pada 1615, ratusan orang Inggris dibantai Belanda sebagai pembalasan. Dari sini pula tampak kapal-kapal Inggris meninggalkan Pulau Run setelah pulau itu ditukar-guling dengan Pulau Manhattan milik Belanda di New York pada 1667. Tapi seratus tahun lebih kemudian, pada 1810, marinir Inggris merebut Benteng Belgica.

Abad demi abad, energi dicurahkan, dan uang diperebutkan dengan gigih dan ganas hingga dunia berubah. Kekuasaan pun tegak dan runtuh, kemerdekaan ditindas atau dilahirkan….

Hari mulai gelap ketika Des berkisah tentang kemerdekaan yang dicoba digagalkan tapi dilahirkan kembali: Indonesia yang tak mudah. Des bukan sejarawan, bukan pula pelaku utama, tapi—dan ini lebih menarik—ia saksi yang terlibat. Jika kita baca bukunya yang baru, Friends and Exiles, yang diterbitkan Cornell University, kita dapatkan bukan saja kisah kelahiran Indonesia, tapi juga kisah seorang yang "menjadi Indonesia", sejak dari darah dan dagingnya, sampai dengan ketika ia terlibat, sengaja atau tidak, dalam peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dan membentuk tanah airnya.

Des Alwi Baadila—yang orang tuanya berdarah Cina dan "Mur" (nama "Baadila" ditemukan di Maroko dan Spanyol), yang masa kecilnya dibentuk Hatta dan Syahrir, yang masa mudanya ikut bertempur dan terluka di Surabaya 10 November 1945—adalah contoh bahwa Indonesia "men-jadi" dengan riwayat seperti pantai pulau-pulau Banda: kekerasan bisa meletup, tapi inilah negeri yang tak merasa perlu memberi batas mutlak tentang "luar" dan "asing". Kecuali ketika yang "luar" dan "asing" itu menegaskan diri dengan senjata dan pemaksaan. Dan kita melawan.
Goenawan Mohamad

Tulisan ini pernah dimuat pada majalah Tempo, 19 Oktober 2009. Diterbitkan ulang untuk mengenang Des Alwi.

http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2010/11/15/mbm.20101115.CTP135123.id.html

Bekal Terakhir dari Ibu

| | | 0 komentar
Mereka meninggal dalam tugas. Direlakan keluarga menjemput maut di daerah bencana.

-Aris Widyatmoko. Usia 19 tahun. Seharian menolong pengungsi, Kamis petang 4 November 2010 itu, dia terlihat lelah. Ribuan pengungsi itu lari dari kampung-kampung di Kinahrejo, Cangkringan. Dihalau wedhus gembel yang dimuntahkan perut Merapi.
Aries memang dari Cangkringan, tapi kampungnya belum disergap awan panas. Pada erupsi pertama, Selasa 26 Oktober 2010 itu, petaka hanya sampai di kilometer 10 dari pucuk Merapi. Di luar radius itu masih aman. Dan Aris, seperti halnya sejumlah anak muda dari dusunnya, ramai-ramai menjadi relawan. Menolong para pengungsi. Mengangkut barang.

Badan letih. Keringat. Dan kotor. Aries lalu pamit mandi pada ibunya, Rahayu. Sang Ibu juga ikut membantu di pengungsian. Rencananya, sesudah mandi dia meluncur ke Dusun Glagah Mayang. Di situ logistik untuk pengungsi ditumpuk.
Glagah Mayang, dua kilometer dari pengungsian. Ke arah pucuk Merapi.
Dipamiti sang anak, Rahayu yang juga terlihat lelah sontak menyodorkan uang. Dua lembar sepuluh ribu. Uang itu sudah lecek dan kumal. “Untuk beli rokok dengan teman-temanmu,” kata sang Ibu. Sebelum melaju, Rahayu mengingatkan sang anak agar hati-hati, “ Kalau ada apa-apa cepat turun.”

Aries girang. Ini pertama kalinya, sang Ibu merelakan sangu (uang) membeli rokok. Rahayu memang super ketat. Melarang keras sang anak mengepulkan asap. Aries lalu meluncur. Motor melaju di keheningan malam. Melewati rerimbunan pohon bambu. Gelap.
Di rumah dia bertemu sang ayah, Sriyono. Sesudah mandi dia pamit. Seperti sang Ibu, ayahnya juga berpesan agar hati-hati. Dan, jangan lupa makan. Dalam kegelapan malam, Aries kembali memacu motor. Melaju ke Glagah Mayang. Sang ayah ke pengungsian.

Beberapa jam kemudian sirene di pengungsian berpekik meraung. Wajah-wajah cemas. Raung Sirene itu sahut menyahut dengan perintah mengungsi dari pengeras suara.
Jumat dini hari 5 November itu, Merapi kembali mengamuk. Awan panas menusuk langit setinggi 8 kilometer. Membuhul, bergulung-gulung seperti susunan kulit domba. Lalu menghempas ke kampung-kampung, dusun dan desa, dalam radius belasan kilometer. Sejumlah ahli gempa menghitung bahwa dini hari itu, sekitar 100 juta meter kubik material meluncur dari perut Merapi.

Muntah sebanyak itu, Merapi mencatat rekor terbaru. Terdasyat selama 100 tahun belakangan. Horor juga berlipat kali. Warga harus menjauh. Radius aman di luar 20 kilometer dari pucuk petaka. Dan posko pengungsian itu dalam radius bahaya. Cuma belasan kilometer dari mulut Merapi.

Dalam suasana mencekam, Sriyono dan Rahayu membangunkan ibu-ibu tua yang sudah terlelap. Banyak yang bertanya ada apa gerangan. Dalam kegentingan itu, sedetik waktu berarti nyawa. Terlambat bergerak matilah sudah.

Rahayu mengabaikan semua pertanyaan. Terus berpekik agar warga bergegas. "Saya suruh pengungsi naik motor dan truk mencari tempat yang lebih aman," katanya. Jalanan gelap. Listrik mati. Cuma diterangi lampu motor dan mobil yang berebut melaju.
Sudah separuh perjalanan, barulah Rahayu teringat anaknya, Arief Widyatmoko. Markas logistik yang dijaga sang anak itu jelas masuk radius super bahaya. Sembari menghela pengungsi, berkali-kali dia menelpon. Tak bersahut. Nada masuk pun tidak. Rahayu cemas alang kepalang.

Sang ayah berusaha balik arah. Tapi itu seperti memacu motor menuju “kematian”. Baru puluhan meter melaju, suara gemuruh terdengar kencang. Cuma beberapa depa di depan Sriyono, api melahap pohon-pohon bambu. Sriyono balik kanan. Menjauh dari kenggerian itu. Kepanikan merasuki puluhan ribu orang. Awan panas sudah mengalir di Sungai Gendol, yang tak berapa jauh dari pengungsian.

Kengerian dan haru biru itu ditonton berjuta mata dari seluruh negeri. Sejumlah stasiun televisi yang menggelar siaran langsung, memperlihatkan betapa kematian tidak saja dekat , tapi juga mengejar. Orang-orang tiba di Yogyakarta dengan debu tebal menempel baju, jaket, hidung, dan kepala. Juga menutup mobil, menutup lampu, yang membuat jalanan gelap gulita.

Bergegas dalam kegelapan itulah yang menyebabkan satu keluarga tewas. Mereka salah arah. Mestinya ke Yogyakarta, malah menghampiri Merapi. Menghampiri kematian.
Rahayu yang membantu para pengungsi menuju Yogyakarta, terus menelepon sang anak. Tapi sama sekali tak bersahut. Di lokasi pengungsian yang baru, dia akhirnya tahu bahwa Glagah Mayang sudah tertimbun awan panas. Rahayu meraung menangis. Bersama suaminya, dia bergegas ke sejumlah lokasi pengungsian lain. Berharap sang anak masih hidup. Berkali-kali pula mendatangi Rumah Sakit Sardjito, tempat korban tewas dan luka dirawat.

Empat hari ke sana-ke mari hasilnya sia-sia belaka.
Dan berita duka itu datang Senin pagi, 8 November 2010. Tim SAR menemukan Aries dalam kondisi terpanggang. Jenazah diangkut ke Sardjito. Rayahu histeris melihat kantong mayat itu.”Maafkan Ibu nak,”dia berseru berkali-kali, sembari berlutut memandang kantong itu.

Adalah Rahayu yang mewariskan darah relawan kepada Aries. Ibu berusia 50 tahun ini sudah lama bergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana). Rahayu memang sempat ragu ketika sang anak bergabung dalam Tagana. Belakangan dia bangga sebab Aries terlihat tekun. Senang. Iklhas menolong pengungsi.

Saat erupsi pertama, 26 Oktober 2010, Aris membantu ibunya mengevakuasi warga di sekitar Merapi. Juga ikut mengumpulkan obat dan makanan. “Padahal anak itu suka susah dikasih tau orang tua,”kenang Rahayu


Lelucon terakhir Supriyadi

Kamis pagi 4 November 2010. Posko logistik Dusun Glagah Malang, jadi riuh. Dan itu karena Supriyadi. Entah kenapa, pemuda 29 tahun itu memakai pakaian perempuan. Lalu berlenggak-lenggok menuju dapur umum.

Orang-orang tertawa terbahak-bahak melihat aksi kocak ini. Supriyadi adalah lelaki tulen luar dalam. Tapi di posko itu dia membaktikan diri di dapur. Memasak nasi, sayur dan lauk pauk. Di garis depan itu, wanita memang jarang. Kepada teman-temannya, Supriyadi bergurau bahwa busana wanita, juga aksi lenggak-lenggok itu dilakukan agar masakannya bisa maknyus seperti olahan kaum hawa.

“Ternyata itu lelucon terakhir,” kata Hadi B, rekan Supriyadi yang ditemui di Rumah Sakit Sardjito. Saat Merapi menebar abu kematian Jumat dini hari itu, Supriyadi dan sejumlah kawannya terjebak dalam barak. Tak sempat menyelamatkan diri . Sebab awan panas menyapu cepat.

Supriyadi lahir di Kulonprogo, Yogyakarta. Dia sudah bergabung dengan Tagana semenjak tahun 2004. Orangtuanya, Samudji dan Tumirah, merantau ke Riau. Bekerja sebagai petani kelapa sawit. Dari hasil sawit itulah mereka menyekolahkan sang anak hingga perguruan tinggi.

Ketika Merapi meletus, Supriyadi sedang menyusun skripsi. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Pertanian (Stiper) di Yogyakarta. Jika maut tidak menjemput, tak lama lagi dia wisuda. Lewat seorang paman bernama, Slamet, kematian itu dikabarkan ke Riau.

Tanggal 9 November Samudji tiba di Yogyakarta. Langsung menuju kamar forensik. Demi melihat jenazah itu, Samudji bercucur air mata. Dia memastikan, jenazah dalam kantong itu adalah anaknya.”Dari ciri-cirinya itu benar putra saya. Mau bagaimana lagi. Saya rela,”ujar sang ayah sembari mengusap air mata. Kandas sudah harapan Samudji. Harapan agar si sulung itu menjadi sarjana.

Berakhir di kampung sendiri

Jupri sudah mengungsikan keluarganya sesudah erupsi pertama, 26 Oktober 2010. Lama menjadi relawan, naluri waspadanya selalu menyala. Semua keluarga diungsi ke Barak Balai Desa Banjarsari, Cangkringan, Sleman. "Jangan tinggal di rumah dulu, tinggal di pengungsian. Biar gampang jika sewaktu-waktu Merapi meletus lagi," begitu pesan Jupri kepada adiknya yang bernama Dwi Prasetyo.

Kamis sore, 4 November 2010 itu tidak ada tanda-tanda Merapi mengamuk lagi. Jupri pamit pada keluarga. Dia hendak berangkat ke posko logistik, yang jauhnya 2 kilometer dari pengungsian. Ke arah Merapi. "Saya titip keluarga. Ingat kamu harus berjaga. Kalau ada apa-apa cepat lari ke bawah," kata Jupri kepada Dwi. Dia lalu menyapa satu persatu. Rini, sang istri, anak dan kedua orang tuanya.
Jupriyanto, begitu nama lengkapnya, sudah semenjak tahun 2004 masuk Tagana. Berbakti menjadi relawan. Lelaki 35 tahun itu sudah melalangbuana dari satu petaka-ke petaka yang lain.

Dia pernah berkubang mencari korban ketika tsunami menghempas Panggandaran beberapa tahun lampu, jumpalitan menyelamatkan orang dalam gempa Bantul dan mencari jenazah pada sejumlah wilayah yang dihempas banjir. “Menyelamatkan nyawa orang wajib hukumnya. Tanpa peduli apapun agama dan suku. Itu yang selalu kakak saya katakan ketika keluarga cemas atas profesinya itu," ujar Dwi.

Meski sering merelakan sang suami ke daerah bencana, sore itu Rini ragu melepas sang suami. Apalagi posko itu dekat ke Merapi. "Kamu hati-hari mas, aku dan Fauzi (anaknya) serta bapak dan ibu khawatir," kata Dwi mengulang pesan Rini.
Jupri cuma tersenyum. Dia berusaha menenangkan sang istri. “Aku pasti kembali," katanya. Sebelum menyalakan motor dia mencium kening sang istri. Kening anaknya. Mencium tangan kedua orangtuanya, sang ayah Trantowiyonom yang berusia 60 tahun dan Lanjariah, 55 tahun.

Jumat dini hari itu, suasana di pengungsian panik alang kepalang. Suara sirine dan perintah mengungsi bergema. Keluarga Jupri panik. "Saya disuruh bapak jemput Jupri tapi suasana sudah mencekam. Desa sudah terbakar,” kisah Dwi sambil meneteskan air mata.

Dalam suasana haru-biru menyelamatkan diri, Dwi mencoba menghubungi sang kakak. Gagal. Telepon seluler Jupri sudah tak hidup. Setelah tiba di posko pengungsian yang baru, keluarga terus mencari Jupri. Bertanya kepada Tim SAR, teman-temannya di Tagana, dan berkali-kali datang ke Sardjito. Nihil. Mereka berharap Jupri selamat.
Tapi pagi Senin, 8 November 2010, kabar duka itu datang dari Tim SAR. Mayat Jupri ditemukan terpanggang di barak logistik Glagah Malang, Cangkringan. "Saya, ibu dan keluarga ikhlas. Ini suratan Tuhan,” tutup Dwi. Setelah bertaruh nyawa dari satu petaka ke petaka yang lain, Jupri berakhir di kampung halamannya. (wm)
• VIVAnews

Mereka Pahlawan Bencana

| | | 0 komentar
Dari bencana ke bencana, para relawan itu bekerja menyelamatkan sesama.

Irfan Yusuf baru usai salat maghrib ketika seorang kawan mengabarkan terjadi erupsi di Gunung Merapi, Selasa, 26 Oktober 2010. Tanpa pikir panjang, ia segera memacu kendaraannya dari kota Yogyakarta menuju Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Di tengah sayup-sayup raungan sirine tanda bahaya, niatnya terhenti di barak pengungsian Umbulharjo, sekitar lima kilometer menjelang Kinahrejo. Kepanikan melanda. Sejumlah warga menangis histeris kehilangan kontak dengan sanak keluarga.
“Yang ada di pikiran hanya bagaimana menemukan orang-orang hilang itu dalam kondisi selamat,” kata anggota tim SAR
Keputusan nekat diambil. Sekitar pukul 20.00, bersama empat anggota SAR dan tiga warga setempat, Irfan mendekati Kinahrejo. Mereka menantang maut di tengah muntahan awan panas yang belum tuntas.

Semakin dekat, hawa panas dan ruap belerang menyeruak. Kobaran api pun mulai tampak memecah kegelapan malam. Dan, mimpi buruk itu terjawab di perbatasan dusun.

Sejauh mata memandang, hanya ada tarian api melumat pepohonan, kendaraan, juga bangunan. Bertabur abu pekat, dusun itu hancur. Bangunan terbakar. Pohon bertumbangan. Tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan di jalan masuk dusun. Lamat-lamat, rintihan memilukan terdengar.

Hanya berpelindung masker hidung, mereka menerobos ‘neraka’ di hadapan mata. "Suasananya panas sekali, abu pekat. Kami berpijak di potongan-potongan kayu yang berserak. Tanah panas. Sepatu teman saya saja sampai meleleh dan kakinya melepuh," kata Irfan.

Naluri mengantar mereka pada sumber rintihan. Tujuh orang masih bernyawa dengan luka bakar cukup serius. Tandu darurat dari sarung, dan potongan dahan dipakai menggendong mereka. "Kami bonceng dengan sepeda motor sampai ada mobil yang membantu membawanya ke rumah sakit," ujarnya.

Evakuasi tujuh korban hidup selesai. Irfan dan empat anggota SAR lainnya masuk ke area lebih dalam. Berharap menemukan korban hidup. Mereka menyisir keberadaan Mbah Marijan yang ketika erupsi masih salat di masjid. Tapi, nihil.
Di sekitar masjid dan rumah Mbah Marijan, mereka hanya menemukan empat jasad hangus. "Setelah Mas Iman Surahman dari Dompet Dhuafa datang, saya baru tahu kalau salah satunya adalah jasad wartawan VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho," ujarnya.
Di tengah situasi mencekam, sejumlah relawan segera mengevakuasi jasad-jasad itu ke rumah sakit.

Dilindungi mayat

Seperti bermain petak umpet dengan maut, relawan seperti Irfan harus siap dengan perhitungan risiko mengancam jiwa. Tak jarang mereka tewas di medan bencana. Seperti kisah lima relawan yang meninggal, saat melakukan evakuasi korban di lereng Merapi.

Meski begitu, bukan ancaman nyawa yang membuat relawan ciut, tapi justru pemandangan menyentuh hati. "Saya paling nggak tega kalau melihat jasad wanita dalam kondisi memeluk anak. Tentara saja banyak yang nggak tega mengevakuasi," kata Irfan. "Ini banyak kami temui di Merapi dan gempa Yogya."

Rasa sentimentil itu juga merayap pada Sigit Agung Maryunus. Emosi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) ini tak jarang diaduk-aduk saat menyaksikan pemandangan memilukan di hadapan mata. "Saya kuat di alam, saya tegar, tapi saya juga manusia yang bisa menangis," ujar lelaki yang lebih 20 tahun mengabdi sebagai relawan bencana.

Sigit masih menyimpan kenangan saat membantu korban gempa bumi di Yogyakarta, 2006. Kala itu, ia tengah berjuang mengeluarkan korban meninggal dari reruntuhan rumah saat bumi kembali bergoyang.

"Tiang beton rubuh menghantam jasad itu sampai darahnya muncrat ke tubuh saya. Saya terlindung jasad itu. Saya sangat berterima kasih kepada jasad itu karena telah menyelamatkan saya," ujar Sigit menahan isak. “Sudah meninggal tapi masih bisa menyelamatkan nyawa orang lain.”

Bagi Irfan dan Sigit, menjadi relawan bencana bukan aktivitas mudah. Mereka seringkali dihadapkan pada kondisi sulit, mengancam jiwa dan menguras emosi. Tapi, pekerjaan ini seperti sebuah panggilan hidup.

Bagi Irfan dan Sigit misalnya, menjadi relawan bencana adalah panggilan hidup mereka sejak masih belia. Kepekaan terhadap alam dan rasa kemanusiaan Irfan terasah sejak bergabung di organisasi pecinta alam semasa kuliah. Irfan kerap terlibat pencarian orang hilang di gunung.

Panggilan itu kian akrab. Dia memutuskan bergabung dengan tim SAR enam tahun silam. "Saya sempat dikirim menangani korban di sejumlah area bencana seperti tsunami di Aceh 2004, juga gempa bumi di Yogyakarta 2006," kisah lelaki 29 tahun ini.
Sementara Sigit memberanikan diri bergabung sebagai relawan PMI semasa duduk di bangku SMA, 1990. "Panggilan jiwa saja tidak cukup. Saya pikir, saya juga butuh obat-obatan untuk menolong, makanya saya masuk ke PMI," ujar pria kelahiran 1974 ini.
Sayap-sayap malaikat

Tak semua relawan berada di 'garis depan' seperti Irfan dan Sigit. Banyak relawan yang tersebar, mulai dari pos pengungsian, posko kesehatan, hingga dapur umum. Mereka terjun sesuai keahlian masing-masing, peran mereka tak kalah penting bagi korban bencana.

Seperti Ariyo Faridh, 30 tahun, yang terlibat memulihkan trauma anak-anak korban bencana di sejumlah daerah. Ia terjun ke sejumlah medan bencana seperti Aceh, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, Situ Gintung, dan Merapi. "Saya terlibat melalui terapi dongeng untuk anak-anak," ujarnya.

Setiap kali mendengar bencana besar, Ariyo segera mencari 'kendaraan' seperti lembaga swadaya agar mudah menjangkau korban bencana. Demi panggilan jiwanya, ia tak sungkan membolos kerja, atau cuti untuk menghibur anak-anak korban bencana. "Saya kecanduan cari pahala," ujarnya sambil tertawa.

Jalan sama juga pernah dialami Iman Surahman. Sebelum memegang amanah memimpin Disaster Management Center Dompet Dhuafa, dia keluar masuk area bencana sebagai pendongeng.

"Saya selalu menjadikan anak-anak lokomotif untuk mempercepat pemulihan trauma pascabencana. Saya ajak anak-anak bangkit menyemangati orangtuanya," ucap Iman, yang sudah menjelajah puluhan medan bencana skala kecil hingga besar di dalam negeri maupun mancanegara.

Ada kenikmatan, dan rasanya seperti candu, saat mereka berhasil mengubah situasi muram dan penuh tangis, menjadi senyuman. Atau membuat korban tergelak-gelak dengan cerita menghibur. Kondisi inilah membuat tali emosi terjalin antara relawan dan para korban.

“Bahkan, beberapa kali saya bawa anak-anak korban bencana sebagai oleh-oleh untuk istri di rumah. Ketika saya masuk ke lokasi bencana saya ingin mengikat hati saya di situ,” ujar lelaki yang kini mengasuh delapan anak angkat di kediamannya di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Kedekatan emosional dengan korban bencana juga membuat Ariyo tak kuat menahan haru. Saat itu sepucuk surat hinggap di rumahnya di Jakarta. Surat itu dari bocah korban bencana tsunami Aceh yang masih berusia empat tahun. Isinya cuma satu kalimat: ‘abang kelinci jangan lupa kasih makan wortel’. “Anak itu sepertinya lekat dengan tokoh kelinci, dari dongeng yang saya bawakan dulu,” ujar Ariyo.

Menolong tanpa pamrih, para relawan ini layaknya sayap-sayap para malaikat yang turun di tengah bencana. Mereka tak lelap meski lelah. Mereka bekerja dalam diam, dan ikhlas. Rasanya tak berlebihan kita menyebut mereka sebagai pahlawan.(np)
Laporan Erick Tanjung | Yogyakarta
• VIVAnews

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?