SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Menggugat Pembantaian Rawagede

| | | 0 komentar
Menggugat Pembantaian Rawagede

Dia sudah cukup renta. Pada usia 87 tahun, dengan geligi tandas dan langkah agak limbung, Saih bin Sakam menyimpan kenangan buruk itu. Dia bersyukur, selamat dari pembantaian keji Belanda di Rawagede, Karawang, Jawa Barat, 64 tahun silam. Tapi Saih tak pernah lupa.

Dengan sisa kekuatannya—bahkan untuk memakai sepatu dia harus dibantu orang lain, Saih pergi ke Belanda pada November tahun lalu. Junito Drias dari Radio Nederland, sempat merekam lawatan Saih ke negeri yang pernah merampas hidup keluarganya itu. “Saya tak dendam,” ujar Saih. Wajahnya penuh kerut. Pecinya sedikit melorot.

Mengenang kembali proklamasi Republik Indonesia 66 tahun silam, tentu kisah Saih ini patut kembali disimak. Dia adalah saksi dari pembantaian keji, sebuah kejahatan perang Belanda di Indonesia: 431 warga Rawagede tumpas. Termasuk ayah, dan kawan-kawan Saih.

Sebagai saksi tragedi Rawagede, Saih ingin menuntaskan hal mengganjal itu dalam sisa hidupnya. “Daripada kepikiran terus, yang penting Belanda minta maaf kepada Indonesia,” ujar Saih dalam rekaman video Radio Nederland itu.

Kisah itu bermula 9 Desember 1947, tatkala Belanda melancarkan agresi ke republik Indonesia yang masih muda. Sekitar 300 serdadu Belanda menyerbu Rawagede, kampung petani miskin yang jadi basis gerilyawan republik.

Dipimpin Mayor Alphons Wijnen, ratusan serdadu Belanda menyisir desa itu. Tak satu pun jejak gerilyawan ditemukan. Warga juga bungkam. Murka oleh pembangkangan itu, Wijnen memaksa semua lelaki di atas 15 tahun berkumpul di lapangan. Matahari belum tinggi saat itu. Warga pun berbaris di lapangan.

Para serdadu itu tiba-tiba mengokang senjata. Lalu, trat-tat-trat-tat. Peluru melesat, ratusan warga roboh bersimbah darah. Ada yang mencoba lari, tapi peluru laknat itu lebih cepat ketimbang kaki-kaki kurus para petani.

Saih bin Sakam lolos dari maut. Dia hanya terluka di punggung, dan tangan. Kepada Radio Nederland, Saih menunjukkan bekas luka tembak itu. “Diberondong peluru di badan seperti ini”, ujar Saih. Di punggung, ada bekas lingkaran hitam. “Belum puas kali, maka saya ditembak lagi di bagian tangan,” ujar Saih.

Menurut dia, korban pembantaian hari itu hanya kaum lelaki. Kebanyakan pemuda. Para perempuan dan anak-anak, selamat. (Baca detil kisah pembantaian di Yang Terserak di Rawagede)

Mencari Lukas

Apa yang dicari Belanda di Rawagede? “Mereka mencari Kapten Lukas Kustario,” ujar sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr Baskara Wardaya kepada VIVAnews, pekan lalu di Yogyakarta. Lukas adalah komandan kompi Siliwangi .

Dijuluki “Begundal Karawang”, Lukas memang orang paling diuber Belanda. Ulahnya memusingkan. Dia kerap menyerang pos militer. Dia memimpin pasukannya membajak kereta api, menggasak senjata, dan amunisi kumpeni.

Rawagede sendiri adalah jalur lintasan para gerilyawan. Berbagai laskar rakyat singgah di sana. Juga para begundal dan perampok.” Lukas adalah target Belanda,” kata Baskara. Rakyat Rawagede sendiri membela gerilyawan itu.

Itu sebabnya, kata Baskara, mereka bungkam. Karena bungkam itu, Belanda marah. “431 orang dibunuh. Ada beberapa yang lolos, dan pura-pura mati. Mereka lalu menceritakan peristiwa itu,” kata Baskara menambahkan.

Saih pergi ke Belanda atas undangan Komite Kehormatan Utang Belanda. Dia sebetulnya ingin bertemu Ratu Belanda saat ini, Beatrix. “Kepinginnya sih Ratu bertemu, dan minta maaf. Tapi yang penting, berjabat tangan. Kita kan juga berterima kasih, dan saya memaafkan,” kata Saih. Sayang, untuk alasan yang kurang jelas, Ratu Beatrix menolak bertemu Saih.

Selain Ratu Beatrix, Saih juga ditampik oleh parlemen Belanda dari Komisi Luar Negeri. Tak jelas juga alasannya. Namun ada yang melegakan: Saih boleh bercerita kepada anak-anak sekolah di Kota Gronigen, Belanda Timur Laut.

Kepada anak-anak SD, Saih bercerita bahwa dia tak akan menggugat tentara Belanda. Dia ingin Belanda minta maaf kepada Indonesia, dan membayar ganti rugi. Para pelajar itu terperanjat. Mereka tak menyangka Belanda pernah sekejam itu.

Kadaluwarsa?

Tapi, belum lagi sampai cita-citanya itu, Saih bin Sakam meninggal pada 7 Mei 2011. Dialah korban terakhir tragedi Rawagede yang masih hidup sampai abad ke-21. Dia pergi, justru saat Belanda mulai membuka kasus itu di pengadilan.

Para kerabat korban pembantaian itu terus melaju (Lihat kronologinya di Infografik: Banjir Darah di Rawagede). Pada 20 Juni 2011, mereka menuntut Belanda, melalui pengadilan di Den Haag. Tujuannya, Belanda harus mengakui adanya pembantaian, meminta maaf, dan memberi ganti rugi.

Meski tak disuarakan resmi, Pemerintah Indonesia kabarnya mendukung langkah korban pembantaian Rawagede itu.

Dukungan pemerintah itu diungkapkan Ketua Yayasan Rawagede Sukarman kepada VIVAnews, di Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Karawang pekan lalu. Sukarman adalah cucu salah satu korban. Ia telah bolak-balik ke Den Haag mengikuti proses pengadilan kasus Rawagede di Pengadilan Belanda.

Menurut Sukarman, sebelum menggugat ke Belanda 15 Agustus 2008 lalu, mereka meminta izin ke Komisi I dan Komisi III DPR, serta ke MPR. “Kami juga diundang ke Departemen Luar Negeri, dan langsung dihubungkan ke Biro Eropa. Mereka katakan, lanjutkan tuntutan itu,” ujar Sukarman.

Selama proses gugatan itu pun, Sukarman dibantu oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda. Sidang kasus itu dibuka 20 Juni 2011. Penggugat adalah sanak saudara korban Rawagede. Tergugat adalah pemerintah Belanda.

Perang argumen pun muncul di meja hijau. Pengacara pengugat adalah Liesbeth Zegveld. Dia aktif membela kasus hak-hak azasi manusia internasional, termasuk kejahatan kemanusiaan di Srebrenica, Bosnia.

Di sidang itu, Zegveld bercerita seperti halnya kesaksian Saih bin Sakam. Komite Utang Kehormatan Belanda juga menuntut ganti rugi bagi korban Rawagede. Ada juga sengketa soal jumlah korban. Penggugat mengatakan yang tewas 431 orang. Belanda dalam Nota Ekses 1969, mengatakan hanya 150 orang.

Selain itu, fakta baru diajukan oleh penggugat, berupa dokumen korespondensi. Disebutkan, para petinggi Belanda tak meragukan Wijnen bersalah. Jenderal Simon Spoor menulis surat kepada jaksa agung, bahwa Pengadilan Militer akan menghukum Mayor Wijnen. Tapi, Jaksa Agung tak jadi menggugat Wijnen. Alasannya, kasus itu 'tak ada lagi campur tangan, dan perhatian asing'.

Zegveld menilai para janda yang suaminya dibunuh militer Belanda di Rawagede, diperlakukan tak adil. Ini jika dibandingkan korban kejahatan perang dunia kedua terhadap Yahudi. Hak mereka sebagai korban perang dunia kedua diakui, dan menerima ganti rugi. “Ada kebiasaan Belanda tak menolak tuntutan korban perang dunia kedua hanya karena kadaluwarsa. Kebijakan ini juga harus berlaku bagi janda dari Rawagede,” ujar Zegveld, seperti dikutip Radio Nederland.

Sebelumnya, pengacara Belanda GJH Houtzagers mengatakan kasus pembunuhan oleh serdadu Belanda itu sudah kadaluwarsa. Lagipula, korban selamat terakhir, Saih bin Sakam, telah meninggal Mei lalu. Houtzagers juga memberi argumen lain. Katanya, ada kesepakatan Belanda dan Indonesia pada 1966. Isinya, kedua pihak setuju mengakhiri sengketa keuangan.

Houtzagers mengingatkan Indonesia dan Belanda kini bekerjasama dalam banyak hal. “Belanda membantu tak saja desa Rawagede, tapi juga wilayah lain. Kedua negara memandang ke depan, membangun masa depan bersama, dan bukan melihat masa lalu,” kata Houtzagers.

Pintu ke kasus lain

Yang menarik, kata Zegveld, jika kasus Rawagede menang di pengadilan. Dampaknya positif bagi korban aksi militer Belanda lainnya di Indonesia. Mereka bisa menuntut ganti rugi juga.

“Kami ingin memberi tahu kepada masyarakat Belanda kejadian sebenarnya. Ini bukan kasus Rawagede saja. Di Sulawesi Selatan ada pembantaian Raymond Westerling, ada juga kasus Kaliprogo di Jawa Tengah, Gerbong Maut di Bondowoso, dan sebagainya”, kata Jeffry Pondaag dari Komite Utang Kehormatan Belanda.

Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda, Batara R Hutagalung sepakat. Dia mengatakan banyak aksi pembantaian Belanda sekitar 1945-1950 di Indonesia yang tak terungkap di dunia internasional. Ironisnya, Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) justru bermarkas di Den Haag, Belanda.

Batara yakin, jika Belanda konsisten, maka kasus ini bisa menang. Dia mengajukan contoh. Dua tahun lalu, ada bekas tentara Jerman dijatuhi hukuman seumur hidup. Dia membantai empat warga sipil di Belanda semasa perang. “Dia dihukum karena membunuh empat orang. Maka logikanya, yang membantai puluhan ribu bisa dimajukan ke pengadilan internasional. Itu sebabnya kami mengajukan kasus Rawagede,” kata Batara kepada VIVAnews.

Berhasilkah gugatan dari Rawagede? Hakim Pengadilan Den Haag mengatakan masih mempelajari pleidoi kedua pihak. Mereka segera memberi putusan dalam waktu 90 hari, atau pertengahan September 2011 ini.(np)

Renne R.A Kawilarang, Nila Chrisna Yulika, Anggi Kusumadewi

Laporan Erick Tanjung |Yogyakarta

www.vivanews.com
http://sorot.vivanews.com/news/read/240339-menggugat-pembantaian-rawagede

Brigade Of Gurkha (Suku Yang Dilahirkan Untuk Berperang)

| | | 0 komentar
Gurkha sebenarnya bukanlah Special Force, namun mereka dikenal dengan reputasinya yang menakutkan. Ada 2 suku di Nepal yang dikenal masyarakat luas, yaitu Sherpa yang dikenal sebagai suku pendaki / pemandu di Himalaya, satu lagi Gurkha, yang gemar berperang.

Semasa zaman kolonial sewaktu terjadi Perang di Nepal, Inggris begitu terkesan atas kegigihan dari pasukan Gurkha kemudian merekrut mereka bekerja untuk East India Company di India dan Britis


Gurkha terkenal dengan kemampuan berperangnya yang alamiah, agresif di medan pertempuran, tidak takut mati, loyalitas yang tinggi, tahan dalam berbagai medan, fisik yang kuat dan pekerja keras. Sehingga Gurkha begitu disegani oleh kawan, ditakuti oleh lawan.

Semula mereka menjadi tentara bayaran (mercenaries) akhirnya masuk dalam jajaran British Army yang digaji layaknya tentara Inggris sendiri atau legiun asing pada umumnya. Mereka mempunyai unit sendiri dengan nama Brigade of Gurkha sebagai salah satu bagian dari jajaran top angkatan bersenjata Inggris.

Dibentuk sejak tahun 1815, Pasukan Gurkha telah terlibat dalam berbagai medan pertempuran bersama Inggris. Ketika berkecamuk PD I sebanyak 100.000 prajurit Gurkha masuk dalam Brigade of Gurkha.

Mereka ikut bertempur di medan perang Perancis, Mesopotamia, Persia, Mesir, Gallipoli, Palestina dan Salonika. Mereka mendapatkan 2 penghargaan bergengsi Victoria Crosses.

Brigade Of GurkhaPada PD II sebanyak 112.000 tentara Gurkha bersama Pasukan aliansi Commonwealth bahu membahu dalam perang di Suriah, Afrika Utara, Italia dan Yunani sampai Malaysia dan Singapura mereka mendapat 10 Victoria Crosses.

Seiring dengan pengalaman tempurnya yang mengunung, Gurkha menjelma menjadi kekuatan yang mengerikan, bahkan melebihi pasukan elit sekalipun.

Semasa berkecamuk perang Malvinas (Falkland War, 1982), dalam suatu front pertempuran, Inggris mempropagandakan kepada pihak militer Argentina akan menyertakan 1 batalyon Gurkha-nya. Mendengar itu tentara Argentina lari tunggang langgang meninggalkan pos-pos mereka.

Sewaktu PD II di front pertempuran Tunisia (Afrika Utara), pasukan Gurkha sudah kehabisan amunisi mereka membuang senapan-senapan, berlarian naik ke atas tank-tank Jerman di tengah-tengah hujan peluru dan menggorok tentara Jerman dengan senjata tradisional mereka, khukri.

Khukri

Khukri adalah sejenis pisau yang berbentuk unik sedikit melengkung mengarah ke depan. Di disain khusus sedemikian rupa, sehingga dapat menebas leher dengan sekali babatan bersih.

Ada sedikit cerita mengenai khukri, sekali khukri dihunus dari sarangnya pantang tidak meminum darah. Itulah sebabnya tentara Gurkha ketika sehabis mengasah / membersihkan khukri selalu mengiris jari tangannya.


Saat ini bukan hanya Inggris yang merekrut Gurkha dalam jajaran pasukannya, Singapura, India, Malaysia, Brunei, Hongkong (sebelum penyerahan ke RRC) tercatat memakai Gurkha dalam kesatuan angkatan bersenjata mereka. Bahkan di Brunei, Gurkha dipakai sebagai Special Force Penjaga Sultan Brunei.

Melegendanya Laut Jawa

| | | 0 komentar
Monumen Karel Doorman di Ereveld Kembang Kuning - Surabaya
Laut Jawa memiliki kisahnya sendiri. Sebelum perang dunia berakhir telah tercatat tiga invasi militer terbesar dalam sejarah yang melintasi Laut Jawa. Tak hanya dari sisi besaran armada, invasi tersebut juga berdampak merubah tatanan dan sejarah Tanah Jawa.

Kisah pertama tentang Laut Jawa mungkin masih kita ingat ketika invasi militer Jepang 1942 dalam perintah Laksamana Takagi Takeo. Setelah serangan ke Filipina, Tarakan, dan Selat Makassar, militer Jepang menghadapi serangan penentuan di Laut Jawa pada 27-28 Februari 1942 yang dikenal dengan “Pertempuran Laut Jawa”. Alhasil, dalam pertempuran dengan kekuatan tak sebanding itu militer Jepang tidak mengalami kesulitan berarti dan mendarat dengan mudah di pantai Kragan, dekat Rembang 1 Maret 1942. Kampanye berikutnya, Jepang mampu meruntuhkan emperium Hindia Belanda yang dibangun ratusan tahun hanya dalam waktu delapan hari!

Invasi militer Tentara Kerajaan Inggris di bawah komando Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty pada 1811 menjadi kisah legenda berikutnya. Misi utama Inggris adalah menghilangkan otoritas pengaruh Perancis di Lautan Timur yang mencakup wilayah Asia Pasifik. Setidaknya 100 kapal yang mengangkut 12.000 orang! Jumlah yang tiada banding hingga Perang Dunia Kedua. Mereka berhasil merapat dan memulai invasi militer mereka dari Cilincing. Hasilnya, Inggris secara resmi menduduki Jawa pada 1812-1816. Untuk alasan ini, Gubernur Jenderal Lord Minto mempromosikan Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jawa, menetap di Buitenzorg, kini Bogor.

Jauh sebelum pasukan Auchmuty menjejakkan kakinya di Jawa, invasi militer Kubilai Khan telah merambah pedalaman Jawa. Khan adalah seorang penguasa Mongol terkemuka abad ke-13, pendiri Dinasti Yuan. Armada cucu Genghis Khan itu mendarat di pantai Rembang 1293. Invasi mereka telah berdampak secara tidak langsung terhadap tahta baru Kerajaan Majapahit. Kelak kerajaan ini akan menurunkan raja-raja Jawa yang juga akan mengubah sejarah di Tanah Jawa.


Terdapat tiga plat tembaga yang menampilkan Kapal De Zeven Provincien dalam pertempuran di Pantai Timur Inggris di bawah komando Michiels Adriaanszoon de Ruyter abad ke-17, plat kedua menampilkan profil Karel Doorman dengan semboyannya yang melegenda “”Aku serang sekarang, semua ikuti aku”, kemudian plat terakhir menampilkan Kapal Perang De Ruyter yang dikomandoi Karel Doorman dan tenggelam di Pertempuran Laut Jawa.


Dari ketiga ekspedisi militer yang melintasi Laut Jawa, menurut saya Pertempuran Laut Jawa-lah yang memiliki cakupan serangan luas, hampir seribu orang kehilangan hidup mereka di pertempuran dua malam yang dimenangkan oleh Jepang itu. Untuk mengenang mereka yang binasa saat penentuan nasib terakhir Hindia Belanda di Laut Jawa, Kerajaan Belanda mendirikan sebuah monumen di Ereveld Kembang Kuning Surabaya, sebuah taman makam kehormatan bagi korban perang yang dikelola Oorlogsgravenstichting. Monumen yang diresmikan pada 7 Mei 1954 itu mengabadikan nama seorang Laksamana Muda yang turut melegenda di Pertempuran Laut Jawa, Karel Doorman.

http://heritage.blog.nationalgeographic.co.id/2011/03/16/melegendanya-laut-jawa/

Abdul Qahhar Mudzakkar: Perang-Perangan, Sekolah, Organisasi, dan Nikah Muda

| | | 0 komentar
Di kampung Lanipa, Ponrang, dalam wilayah Luwu yang dikelilingi hutan belukar, disitulah Kahar lahir dan menjalani masa kecil. Dia lahir pada tanggal 24 Maret tahun 1921.

Kahar kemudian bergabung dengan anak-anak yang lain, bermain dan berlari kekanak-kanakan. Permainan masa kecilnya adalah perang-perangan. Dari permainan itu, karakter keberaniannya terbentuk.

Kahar bermain hingga Maghrib menjelang. Sehabis bermain, dia langsung pulang ke rumah untuk mandi dan menyiapkan diri mengikuti shalat Maghrib. Shalat maghrib diimami langsung oleh ayahnya, Malinrang. Sehabis shalat, dia lalu mengaji, diajari oleh ibunya, Kaesang.

Malinrang adalah seorang pedagang. Dia berdagang sampai ke wilayah Kalimantan; bahkan Malaysia. Dari hasil dagang, dia banyak membeli tanah di daerah Luwu. Dia pun terkenal sebagai tuan tanah. Dari hasil usahanya, Malinrang ingin anaknya bersekolah tinggi. Pada umur 7 tahun, Kahar pun dimasukkan ke Sekolah Rakyat (SR) di Lanipa.

Sejak kecil, Kahar juga sudah mengenali organisasi pergerakan, semisal Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia. Dia biasa mendengarnya dari cerita tamu-tamu yang biasa mengunjungi ayahnya atau cerita orang-orang yang sedang asyik bermain domino. Kahar memang sangat hobi bermain domino. Bahkan, dia biasa bermain domino sampai pagi. Orang-orang sekitarnya pun menggelarinya La Domeng, pemain domino.

Kahar selesai dari SR pada 1934. Dia kemudian melanjutkan ke Sekolah Standar Muhammadiyah (SSM) di daerah Palopo. Dia terdaftar sebagai siswa di SSM pada 1935. Di SSM, pikiran Kahar terbuka. Dia banyak memperoleh pengetahuan baru, tentang perhitungan, membaca, organisasi, dan pengkaderan.

Kahar selesai dari SSM pada 1938. Dia kemudian melanjutkan sekolahnya ke tanah Jawa. Dia bersekolah di Muallim Muhammadiyah (MM) di Solo, Jawa Tengah. Solo adalah pusat pendidikan kala itu dan juga tempat lahir dan berkembangnya organisasi Muhammadiyah.

Di MM, Kahar banyak mengikuti kegiatan-kegiatan kepemudaan. Dia pun bergabung dengan organisasi pemuda yang diasuh Muhammadiyah, Hizbul Wathan. Kahar juga sangat kagum kepada seorang gurunya: Prof. Abdul Qahhar Mudzakkir. Saking kagumnya, Kahar sampai menggubah namanya menjadi Abdul Qahhar Mudzakkar.

Baru setahun mendiami Solo, Kahar sudah menguasai daerah itu. Dia pun banyak berkeliling dan bergaul dengan para pemuda. Suatu ketika, dia bertemu dengan gadis Solo yang menarik hatinya, Warlina. Dia pun berkenalan dengannya dan menjadi akrab. Merasa sudah cocok dengan Warlina, Kahar segera melamarnya dan diterima. Pernikahan Kahar-Warlina pun berlangsung dengan sangat sederhana.

Sibuk mengurusi keluarga dan aktif di organisasi kepemudaan, membuat Kahar malas bersekolah. Kahar pun akhirnya tidak menyelesaikan sekolahnya di MM. Bersama istrinya, dia pun kembali ke Luwu, kampung halamannya.

[Dirangkum dari pelbagai sumber]

http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/03/abdul-qahhar-mudzakkar-perang-perangan-sekolah-organisasi-dan-nikah-muda/

Abdul Qahhar Mudzakkar: Berdagang dan Menggalang Organisasi Pergerakan dan Militer

| | | 0 komentar
Pada Mei 1943, Kahar menetap di Solo. Dia bersama Warlina, istrinya, membuka usaha. Dia mengelola sebuah toko kain.

Usaha beli-jual kainnya kemudian berkembang. Dia pun mengajak teman-teman sekampungnya untuk berkongsi: Muhammad Idrus, Abdul Mannan, dan Saleh Sjahban. Keempatnya bersatu membuka toko dagang yang diberi nama Toko Luwu.

Toko Luwu yang banyak dikunjungi ternyata bukan hanya dijadikan sebagai tempat bisnis, tapi juga dijadikan sebagai tempat pertemuan para pemuda untuk membahas persoalan bangsa.

Pada 17 Agustus 1945, Kahar mendengar pidato proklamasi kemerdekaan Soekarno. Namun dia juga mendengar bahwa tentara sekutu, Belanda diboncengi Inggris, ingin kembali menguasai Indonesia. Dia pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta.

Di Jakarta, dia mengumpulkan para pemuda dan pedagang Sulawesi guna membentuk organisasi pergerakan guna melawan tentara sekutu. Maka terbentuklah Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (GEPIS) yang kemudian berganti nama menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS). APIS kemudian menjadi suborganisasi dari Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Apa kontribusi API dalam usaha meraih kemerdekaan? API turut serta merancang rapat besar menyambut proklamasi kemerdekaan. Rapat itu dilaksanakan di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.

Dalam rapat yang dihadiri puluhan ribu massa itu, Kahar dengan parang dipinggangnya menjadi pengawal Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moehammad Hatta. Rapat di Ikada pun berhasil dimana Soekarno menyampaikan pidatonya yang dahsyat membakar semangat massa.

Sadar bahwa APIS ruang lingkup dan kekuatannya kecil, Kahar dan teman-temannya kemudian mendirikan organisasi yang lebih besar, yaitu Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Terpilih sebagai Ketua adalah Bart Ratulangi, sedangkan Kahar menjadi Sekretaris Umum.

Seberapa nesar kekuatan KRIS? Melalui kekuatan KRIS, Kahar berhasil bernegosiasi untuk membebaskan para tahanan di penjara Nusakambangan yang kebanyakan orang Bugis-Makassar.

Tentang KRIS, bukannya bertambah kuat, ternyata di dalam tubuhnya terjadi perpecahan dalam bentuk kelompok-kelompok, ada kelompok minahasa, ada kelompok Bugis-Makassar, dan lainnya. Realitas tersebut membuat Kahar memutuskan diri untuk keluar dari KRIS.

Kahar kemudian membentuk organisasi militer bernama Batalyon Kemajuan Indonesia (BKI). Anggotanya adalah pemuda-pemuda yang dibebaskan Kahar dari penjara Nusakambangan. BKI kemudian bernaung di bawah Tentara Republik Indonesia (TRI).

Sumber: Kahar Muzakkar, oleh A. Wanua Tangke dan Ahmad Nasyaruddin

http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/05/abdul-qahhar-mudzakkar-berdagang-dan-menggalang-organisasi-pergerakan-dan-militer/

Abdul Qahhar Mudzakkar: Bersekutu dengan Jepang dan Terusir dari Luwu

| | | 0 komentar
Pada 1941, Kahar membawa istrinya Warlina ke Luwu. Mereka pun menetap di Palopo. Kahar kemudian bekerja membantu ayahnya dan juga mengaktifkan gerakan Hizbul Wathan Muhammadiyah. Wilayah kerajaan Luwu dijajah oleh Belanda kala itu.

Setahun kemudian, Kahar mendengar bahwa tentara Jepang mendarat di Indonesia dan telah memasuki Makassar. Jepang hendak mengambil alih kekuasaan dari Belanda.

Karena hal tersebut, pikiran strategis Kahar muncul. Dia mengumpulkan pemuda-pemuda Hizbul Wathan dan memberi arahan untuk bersekutu dengan Jepang.

“Kawan-kawan! Hari ini, saya sengaja mengumpulkan kalian di sini untuk menyampaikan informasi yang sangat penting, dan ini untuk kepentingan masa depan kita. Tentara Jepang telah masuk ke Makassar. Sekarang kita harus menentukan sikap: apakah kita menolak kedatangan mereka atau menerimanya sebagai kelanjutan penjajahan terhadap bangsa kita?”

“Menurut saya, kita tidak boleh langsung melakukan perlawanan, sebab kita tidak punya kekuatan senjata. Kita terlebih dahulu perlu bekerja sama untuk mengusir Belanda. Setelah merasa kuat, kita balik haluan melawan Jepang. Bagaimana pun, Belanda dan Jepang sama-sama penjajah. Keduanya tidak boleh dibiarkan, harus diusir!”

“Untuk itu, strategi awal kita adalah kooperatif dengan pemerintah Jepang,” Kahar memutuskan.

Kahar kemudian seorang diri menemui tentara Jepang di Makassar dan pemerintah Jepang pun bersepakat. Tentara Jepang dibantu pemuda-pemuda Palopo berhasil menangkapi orang-orang Belanda, termasuk orang-orang pribumi yang membantu Belanda.

Jepang pun mengambil alih Sulawesi (Celebes) dari Belanda. Sulawesi kemudian dijadikan sumber pangan beras yang kemudian disalurkan ke seluruh wilayah Indonesia. Kahar sendiri dipekerjakan di kantor Administrasi Jepang, Nippon Dahopu, di Makassar.

‘Tak lama, jiwa pemberontakan Kahar muncul. Apalagi Kahar menilai hubungan bangsawan Kerajaan Luwu sangat mesra dengan Jepang, sampai-sampai Raja Luwu tidak mampu melindungi rakyat jelata yang hasil panennya diperas oleh Jepang.

Langkah strategis kembali diambil Kahar, memecah kaum bangsawan di Kerajaan Luwu menjadi dua: pro Jepang dan kontra Jepang. Strategi yang kemudian dicium oleh Jepang.

Kahar pun dipecat dari Nippon Dahopu. Sebagian kaum bangsawan juga menaruh benci padanya karena telah memecah kesatuan di Kerajaan Luwu.

Karena hal tersebut, Raja Luwu pun menjatuhkan hukum adat kepada Kahar, yaitu mengusir Kahar dari Luwu atau yang dalam bahsa Bugis disebut ripaoppangi tana.

Keputusan Raja Luwu tersebut mengagetkan masyarakat Luwu karena yang pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, tidak ada satu pun orang Luwu yang pernah diusir dari kampung halamannya.

Bagi Kahar, pengusiran tersebut sangat mengganggu harga dirinya (siri’). Dia pun berjanji -setelah terusir- akan kembali ke tanah Luwu memperlihatkan kemampuannya.

Selanjutnya, Kahar bersama istrinya kembali ke kampung halaman istrinya di Solo, Jawa Tengah.

Sumber: Kahar Muzakkar, oleh A. Wanua Tangke dan Ahmad Nasyaruddin

http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/04/abdul-qahhar-mudzakkar-bersekutu-dengan-jepang-dan-terusir-dari-luwu/

Soekarno Lahir di Surabaya

| | | 0 komentar
Budayawan asal Blitar, Jawa Timur, Andreas Edison, membenarkan jika Presiden pertama RI, Soekarno, memang lahir di Surabaya, bukan di Blitar.

"Kalau merunut sejarah, memang beliau lahir di Surabaya. Kalau di Blitar, itu karena memang mengikuti orangtua dan untuk menempuh pendidikan," katanya di Blitar, Rabu (1/6/2011).

Ia mengemukakan hal itu dalam menanggapi rencana pemasangan prasasti di rumah kelahiran Soekarno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni mendatang.

Menurut Andreas, sekolah Bung Karno juga bukan hanya di Blitar, melainkan pernah juga di Tulungagung. Saat itu, usianya baru enam tahun.

Ditanya mengapa Bung Karno sampai sekolah di Tulungagung, Andreas yang juga anggota KPU Kota Blitar selama dua periode itu mengatakan, jika saat kecil Bung Karno sering sakit, maka ia dibawa ke kakeknya. Kakeknya yang bernama Hardjodikrama dan tinggal di Tulungagung dikenal mempunyai ilmu kebatinan.

"Setelah dibawa ke rumah kakeknya, dia sempat sembuh, lalu dibawa pulang ke Blitar, lalu sakit lagi. Namun setelah dibawa ke Tulungaung, ia kembali sembuh hingga akhirnya sekolah di tempat itu," katanya.

Ia juga menyebut bahwa umur 12 tahun, Bung Karno juga pindah ke Mojokerto untuk sekolah di lembaga pendidikan milik orang-orang Belanda, setelah lulus angka I (semacam pendidikan dasar), hingga kembali melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS) yang didirikan HOS Tjokroaminoto.

"Bung Karno juga pernah sekolah di Surabaya saat menempuh pendidikan semacam sekolah menengah atas (SMA) dan kontrak di rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya," katanya.

Oleh karena itu, ia mendukung rencana Peter A Rohi, Ketua Umum Soekarno Institute, yang akan memasang prasasti di rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya.

"Soekarno itu dibuatkan patung di mana saja tetap layak karena memang bumi Bung Karno itu milik Indonesia. Di Bengkulu juga punya, apalagi di Surabaya," katanya.

Pihaknya tidak khawatir jika rencana pembuatan prasasti itu berpengaruh pada turunnya jumlah wisatawan di Blitar. Ia menyebut, Blitar tetap akan menjadi bagian dari Bung Karno karena makamnya ada di Blitar.

Sebuah prasasti akan dipasang di rumah kelahiran Presiden pertama Indonesia tersebut pada 6 Juni mendatang. Jalan yang sekarang berubah menjadi Jalan Pandean IV/40, Surabaya, tersebut semula merupakan rumah kontrakan keluarga Bung Karno dengan nama Jalan Lawang Seketeng.

Rencana pemasangan prasasti oleh Soekarno Institute sengaja digelar pada 6 Juni 2011 karena disamakan dengan tanggal kelahiran Soekarno, yakni 6 Juni 1901.


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/06/02/02382730/Budayawan.Soekarno.Lahir.di.Surabaya

Sadis, Lempar Perempuan dari Pesawat Terbang

| | | 0 komentar
Pengadilan Argentina menjatuhkan hukuman kepada tiga mantan pejabat militer atas tuduhan pembunuhan sadis terhadap lima perempuan selama 'Perang Kotor' di negara itu. Pembunuhan dilakukan dengan melempar para perempuan yang masih hidup dari pesawat yang tengah mengudara.

'Perang Kotor' mengacu pada pembersihan terhadap warga negara pembangkang yang dilakukan pemerintahan militer Argentina antara 1976 dan 1983.

Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan pengadilan, para terdakwa dituduh terlibat dalam sejumlah 'penerbangan maut'. Hakim Sergio Torres telah menjatuhkan hukuman penjara kepada ketiga terdakwa sekaligus membekukan asetnya.

Mereka yang menjadi korban pembunuhan antara lain, seorang biarawati asal Prancis, Suster Leonie Duquet, dan empat perempuan yang tergabung dalam 'Ibu-ibu dari Plaza de Mayo', kelompok pejuang hak asasi manusia yang didirikan para perempuan keluarga korban pembunuhan atau korban hilang selama kediktatoran militer.

Rezim militer menculik Duquet dan biarawati lain asal Prancis, Alice Domon, pada Desember 1977. Dalam operasi yang sama, mereka juga menculik 10 perempuan anggota kelompok Plaza de Mayo, termasuk sang pendiri, Azucena Villaflor.

Terkubur sejak 1978, sisa-sisa jasad Duquet, Villaflor dan tiga perempuan lain, teridentifikasi pada 2005. Sementara itu, jasad Domon tidak pernah ditemukan.

Kelompok hak asasi manusia setempat mengatakan bahwa ratusan korban era kediktatoran militer dibunuh dengan cara dilempar hidup-hidup ke laut dari pesawat yang sedang mengangkasa. Sementara itu, 5.000 lainnya juga dibunuh dan disiksa di Sekolah Mekanik Angkatan Laut the Naval Mechanics School (ESMA).

Pengusutan kasus kejahatan perang di masa lampau itu telah dimulai sejak awal 2009 dan diharapkan akan berakhir pada beberapa bulan ke depan.

Salah satu yang tengah menghadapi dakwaan pengadilan adalah Alfredo Astiz. Pria 59 tahun yang memiliki julukan 'Malaikat Maut' ini dituduh bertanggung jawab atas kematian Duquet dan Domon. Saat perang, ia bertugas menyusup ke kelompok Plaza de Mayo untuk memilih target yang akan diculik.

Berdasar data pemerintah setempat, sedikitnya 9.000 orang diculik, disiksa dan dibunuh dalam apa yang dikenal sebagai 'perang kotor' di Argentina. Namun, sejumlah aktivis percaya jumlah korban mencapai 30 ribu orang. (art)

www.vivanews.com
http://dunia.vivanews.com/news/read/224433-sadis--lempar-wanita-dari-pesawat-terbang

Tanpa Sjafruddin, maka Indonesia...

| | | 0 komentar
Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin Dewan Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin Simbolon. Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di Bukittinggi, melawan rezim Soekarno.
Penulis buku Presiden Prawiranegara, Akmal Nasery Basral, menjelaskan, tanpa Sjafruddin, Indonesia pernah tidak ada karena pernah terjadi kekosongan pemerintahan.

"Kalau kita tidak mengakui Sjafruddin Prawiranegara sebagai presiden, kita harus mengakui kalau Indonesia pernah tidak ada," katanya saat bedah buku Presiden Prawiranegara di Pandeglang, Sabtu (21/5/2011).

Kekosongan pemerintahan itu terjadi dalam kurun waktu 19 Desember 1948-13 Juli 1949, atau ketika para pemimpin bangsa, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta, ditangkap dan diasingkan ke Bangka.

"Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihilangkan, dan bangsa ini seyogianya memberikan pengakuan bahwa Sjafruddin Prawiranegara adalah presiden ke-2 RI meski hanya beberapa bulan," katanya.

Klimaks dari buku ini, lanjutnya, saat ada permintaan agar Sjafruddin menyerahkan mandat dan terjadi kegentingan ketika terjadi Perundingan Roem Royen.

"Sebagai presiden, Sjafruddin bisa saja menentang perundingan itu dan posisinya waktu itu sedang di atas karena telah mendapat mandat untuk menjalankan pemerintahan dari Soekarno," katanya.

Namun, yang dilakukan Sjafruddin justru sebaliknya, malah mengembalikan mandat itu kepada Presiden Soekarno, yang ketika itu memang sudah dibebaskan. Pertimbangannya karena lebih mementingkan rakyat.

Sjafruddin, katanya, merupakan figur yang memiliki dedikasi sangat tinggi untuk bangsa dan negara, yang sanggup meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil untuk melaksanakan perintah Mohammad Hatta selama 207 hari.

"Saat menjadi Menteri Kemakmuran, Sjafruddin diperintahkan berangkat ke Bukit Tinggi oleh Bung Hatta, dan ia pun berangkat serta meninggalkan anak dan istrinya," katanya.

Karena dedikasinya itulah, pemerintah memercayakan beberapa jabatan penting kepada Sjafruddin, yakni Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, dan Wakil Perdana Menteri.


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/05/21/1952211/Tanpa.Sjafruddin.maka.Indonesia.

Kisah Gong Nekara Asal China di Selayar

| | | 0 komentar
Sebuah gong nekara atau disebut the bronzen drum yang diyakini merupakan gong terbesar dan tertua di dunia, peninggalan China yang berada di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan sekitar 2.000 tahun silam, diyakini memiliki kekuatan gaib.

Cerita Toa (65), seorang penjaga gong, kehadiran peninggalan kebudayaan zaman perunggu berawal dari seorang warga China yang sedang berlayar di sekitar perairan Kepulauan Selayar. Entah mengapa kapal yang berasal dari Dong Son itu lalu terdampar. "Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengapa kapal China bisa terdampar," ujarnya.

Namun dari cerita nenek moyang, gong yang memiliki tiga fungsi pada masa kerajaan Putabangun yakni fungsi keagamaan, sosial budaya dan politik tersebut ditemukan pertama kali oleh salah seorang penggarap kebun bernama Pao pada tahun 1969 silam.

Barang itu ditemukan di dalam tanah dengan kedalaman 2-3 meter di Papam Laheo, Lingkungan Bontosaile. "Ketika itu Pao hendak menanam kelapa, namun setelah galiannya mencapai 2 meter, linggis yang digunakan Pao mengenai sebagian badan gong hingga berbunyi," ungkap Toa sembari membersihkan debu yang menempel di gong nekara itu.

Para ahli sejarah menafsirkan, gong nekara itu merupakan peninggalan zaman perunggu. Kesimpulan itu diambil, setelah para sejarawan melakukan penelitian dan menemukan gong tersebut terbuat dari perunggu yang bentuknya menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi.

Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan.

Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar seperti silinder, badan dan bahu berbentuk cembung.

Keberadaan gong nekara yang memiliki nilai seni tinggi ini sempat mendorong oknum tak bertanggung jawab mencuri salah satu arca kodok. Namun setelah sekian tahun dicari, akhirnya arca kodok tersebut berhasil ditemukan di Jakarta. Akibat kejadian itu, pemerintah provinsi berinisatif membuatkan rumah sebagai pelindung.


K23-11
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/05/18/09432154/Kisah.Gong.Nekara.Asal.China.di.Selayar

Sejarah Singkat AK-47 Senjata paling mematikan didunia

| | | 2 komentar
Ketika para tentara koalisi Irak yang dilatih oleh tentara Amerika dipersenjatai senjata buatan Amerika seperti M-16 dan M-4, mereka menolak! Para prajurit Irak ini kekeh bahwa mereka hanya mau menggunakan senjata buatan Uni Soviet Kalashnikov atau yang lebih dikenal dengan sebutan AK-47.

Buat teman-teman cowok yang sering main game perang2an seperti Counter Strike atau yang hobi main Airsoft Gun, pasti sangat familiar dengan senjata yang satu ini. AK-47 memang merupakan senjata otomatis paling terkenal di dunia! Dan fakta ini jelas tidak terbantahkan. Walau hingga saat ini AK-47 banyak mengalami modifikasi dan varian, tapi secara keseluruhan AK-47 tidak mengalami banyak perubahan drastis pada konsep dasar teknisnya.

AK-47 digunakan oleh banyak kalangan, mulai dari pasukan Taliban, tentara di banyak negara seperti Hongaria, Cina, Afrika, pasukan macan tamil di Sri Lanka, hingga anggota mafia atau pengedar ganja di Amerika Selatan. AK-47 bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 250.000 manusia di seluruh dunia tiap tahunnya. AK-47 sejak lama memang dikenal sebagai sebuah senjata otomatis yang dapat sangat diandalkan. Bentuknya yang sederhana namun sangat tahan banting, kecepatannya untuk memuntahkan banyak peluru dalam hitungan detik, dan murahnya biaya untuk memproduksi senjata ini membuat AK-47 menjadi senjata favorit sepanjang di banyak lokasi konflik di dunia. Di beberapa tempat di dunia, bahkan harga sebuah AK-47 lebih murah dari pada harga seekor ayam hidup!

Lahirnya Senjata Terhebat

Sejarah penciptaan AK-47 bermula pada tahun 1941. Pada akhir september 1941 tentara Jerman memasuki kota di Uni Soviet (sekarang Rusia, red) bernama Bryansk dan menghancurkan hampir 80 % infrastruktur kota serta membunuh tidak kurang dari 80.000 orang. Seorang prajurit lokal bernama Mikhail Kalashnikov yang ketika itu berusia 21 tahun harus dirawat di rumah sakit karena tank-nya terkena tembakan artileri dari pasukan Jerman. Selama dirawat di rumah sakit Mikhail Kalashnikov terobsesi untuk membuat sebuah senjata yang dapat mengusir pasukan Jerman dari kampung halamannya.

Akhirnya pada tahun 1947 Avtomat Kalashnikov (AK-47) diperbolehkan untuk pertama kalinya untuk diproduksi secara massal. Walaupun AK-47 datang agak terlambat untuk terlibat dalam aksi perang dunia kedua tapi Uni Soviet paham betul bahwa AK-47 dapat menjadi senjata paling penting di dunia modern sehingga mereka bekerja sangat keras untuk menyembunyikan keberadaan AK-47 dari dunia barat. Tentara Soviet membawa AK-47 mereka yang ditutupi dengan tas khusus dan mereka bahkan memunguti selongsong peluru mereka untuk menyembunyikan senjata baru mereka.

Akhir tahun ‘50-an Uni Soviet mulai menggunakan AK-47 untuk menyebarkan pengaruh komunisme ke seluruh dunia. Dibandingkan dengan senjata buatan Amerika M-15, M-14 dan M16, AK-47 terbukti lebih superior. AK-47 terbukti lebih tahan banting dan mampu bekerja dengan sangat baik di berbagai kondisi. Hal ini sangat menguntungkan bagi daerah2 yang tidak memiliki fasilitas perbaikan senjata. Uni Soviet memberikan lisensi gratis kepada negara-negara kiri seperti Bulgaria, Cina, Jerman Timur, Honggaria, Korea Utara, Polandia, dan Yugoslavia. Para ahli senjata Amerika ketika itu tidak melihat keunggulan AK-47 dan terus mengandalkan kepada senjata seperti M-1 dimana senjata ini memiliki peran yang begitu besar terhadap kemenangan sekutu di perang dunia kedua. Tapi M-1 terlalu berat dan hanya memiliki delapan putaran pada magazine-nya serta bukan merupakan senjata otomatis.

Reputasi AK-47

Baru di perang Vietnam tentara Amerika menghadapi langsung AK-47 di medan perang. Pasukan Amerika akhirnya harus membayar kegagalan pemerintah mereka dalam menyadari kekuatan dari senjata sederhana Avtomat Kalashnikov. Disamping segala keunggulan fasilitas tempur yang dimiliki pasukan Amerika mereka memiliki satu kelemahan yaitu mereka tidak memiliki sebuah senjata infantri yang mampu menandingi keunggulan AK-47. Perang Vietnam merupakan perang infantri sejati yang tentunya banyak menempatkan kedua belah pihak di sebuah kondisi konfrontasi satu lawan satu. Pihak yang mampu mengeluarkan jumlah peluru lebih banyak dan lebih cepat adalah pemenang.

Setelah beberapa tahun perdebatan berlangsung, Tentara Amerika akhirnya mengeluarkan senjata otomatisnya yang keren dan canggih M-16. Pada musim panas 1966 lebih dari 100.000 M-16 dipesan dan segera dikirim ke perang di Asia. Namun pada bulan oktober pada tahun yang sama laporan mulai bermunculan. M-16 dilaporkan “jamming” atau tidak lancar dalam mengeluarkan peluru. Banyak pasukan Amerika yang ditemukan meninggal dengan senjata mereka dalam kondisi tidak berfungsi. Moral pasukan Amerika pun turun karena mereka tidak percaya dengan senjata yang mereka miliki. Bahkan ironisnya tentara Amerika selalu mengambil Ak-47 dari tentara Vietnam yang tertembak dan menggantikan M-16 mereka.

Apabila perang Vietnam memberikan reputasi tertinggi kepada AK-47 maka pada perang Afghanistan di pertengahan tahun ‘80-an memulai penyebaran AK-47 ke seluruh dunia ketika kerajaan Uni Soviet mulai jatuh. Secara strategis, invasi Soviet di Afghanistan terlihat sukses. Kurang dari 70 prajurit Soviet meninggal dunia dan kebanyakan dari mereka bukan merupakan korban dari pertempuran langsung. Para ahli perang Soviet mengantisipasi invasi mereka hanya berlangsung kurang dari 3 tahun. Suatu strategi yang terdengar realistis mengingat pasukan Afghanistan tidak dilengkapi persenjataan modern.

Tapi itu semua berubah ketika Amerika melalui CIA mulai membantu secara intensif pasukan Afghanistan melalui Pakistan. Dan ironisnya, CIA menyalurkan ratusan ribu senjata AK-47 yang kebanyakan datang dari Cina kepada pasukan Afghanistan. Alasan CIA menyalurkan AK-47 daripada senjata buatan Amerika adalah karena AK-47 dapat diandalkan, harga yang murah, dan ketersediaannya yang sangat mudah dicari. Lebih jauh keberadaan senjata buatan Soviet di tangan para mujaheddin ini tidak mudah untuk ditelusuri jejaknya sehingga Pemerintah Amerika akan lebih mudah mengelak dari keterlibatan mereka.

Bertahun-tahun kemudian pada sebuah testimoni di depan kongres, CIA mengakui bahwa pada tahun 1984 diperkirakan pasokan AK-47 senilai $200 juta telah dikirimkan ke Afghanistan dan hingga 1988 jumlah tersebut mencapai $2 Milyar.

Setelah kehancuran Uni Soviet penyebaran AK-47 benar-benar di luar kendali. Di beberapa belahan dunia seperti Afghanistan, Pakistan, Liberia, Rwanda, AK-47 menjadi semacam simbol kebudayaan. Di negara-negara sangat miskin di benua Afrika dimana perang antar suku terjadi dimana-mana. Keberadaan AK-47 dianggap sebagai alasan konflik-konflik yang terjadi di Afrika menjadi lebih lama dimana seharusnya mereka dapat diselesaikan lebih cepat. AK-47 bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakan Afrika dan di beberapa lokasi AK-47 dinamakan sebagai “African credit card” dimana “you could not leave home without it.”

Di Amerika Latin AK-47 berada di tangan para pengedar obat terlarang dan pemberontak anti pemerintah. Sebagaimana CIA mengirim AK-47 ke Afghanistan, CIA juga melakukan hal yang sama di Nicaragua pada awal tahun 1980-an untuk melawan pemberontak Sandinistas yang didukung oleh Uni Soviet. Bahkan beberapa waktu yang lalu presiden kontroversial dari Venezuela, Hugo Chavez, mengumumkan bahwa pemerintahnya akan membeli 100.000 AK-47 dari Rusia dan berencana untuk membangun pabrik pembuatan senjata tersebut. Apabila itu terjadi maka Venezuela menjadi negara di atmosphere dunia barat yang memproduksi AK-47.

Dan seperti yang sudah disebutkan di atas, AK-47 juga menjadi pilihan nomor satu di Irak. Walau pada tahun 1991 pasukan sekutu menghancurkan hampir semua fasilitas persenjataan di Irak namun pemerintah Saddam Hussein mampu menyimpan beberapa senjata ringannya termasuk AK-47. Ketika pasukan Amerika menginvasi Irak pada tahun 2003, para ahli perang tidak memperhitungkan keberadaan senjata ini. Namun kenyataannya keberadaan AK-47 cukup mampu meletakkan para tentara Amerika di posisi yang berbahaya dimana AK-47 tersebar di antara penduduk sipil dan para pemberontak atau milisi.

Sekarang di usianya yang ke-85, Mikhail Kalashnikov, yang sudah nyaris tuli serta kehilangan kontrol terhadap tangan kanannya, sering dihantui oleh mesin pembunuh ciptaannya. Di Irak, Sierra Leone, Sudan, dan tempat-tempat lainnya di dunia, terjadi perang dan konflik di daerah perkotaan dimana para pemberontak berhadapan dengan pasukan yang lebih terlatih. Tapi senjata yang lebih canggih dan mahal terlihat bukan tandingan untuk para pemberontak dengan AK-47 yang tidak perlu latihan berlebihan dan mengetahui medan lebih baik. AK 47 sendiri telah mendapatkan pengakuan “selebritis.” Pada tahun 2004 majalah Playboy memasukkan AK-47 sebagai salah satu dari 50 produk yang mengubah dunia di bawah Laptop Apple, pil KB, dan Video Betamax dari Sony. Sementara penyanyi rap seperti Ice Cube dan Eminem menyebutkan AK 47 dalam lirik lagu mereka.

Terlepas dari kesuksesannya menciptakan AK-47, Mikhail Kalashnikov tidak memperoleh royalti sepeser pun. Namun Ia baru saja mengeluarkan merek Vodka dengan namanya yang menjadi hit di Eropa dan Timur Tengah, dan akan memasuki pasar Amerika tahun depan. Ketika diinterview oleh majalah Guardian, Mikhail Kalashnikov berkata, “Saya hanya menciptakannya untuk melindungi tanah kelahiran saya. Saya tidak memiliki penyesalan dan tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan politisi.” Lebih lanjut Kalashnikov berkata, “Sekarang saya berharap andai saja saya dulu menciptakan mesin pemotong rumput.”

SUMBER http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=106471

Untung Ada Presiden Sjafruddin

| | | 0 komentar
Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin Dewan Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin Simbolon. Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di Bukittinggi, melawan rezim Soekarno.


Sulit dibayangkan jika Sjafruddin Prawiranegara tidak berinisiatif mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), saat agresi militer Belanda ke ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta, 19 Desember 1948, yang menyebabkan pemerintahan Indonesia nyaris tidak berfungsi.

Dalam kondisi tegang dan mencekam tersebut, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta yang ditangkap Belanda melakukan rapat kilat memutuskan mengirim kawat kepada Sjafruddin Prawiranegara berisi mandat membentuk Pemerintahan Republik Darurat di Sumatera.

Sjafruddin yang sejak minggu ketiga November 1948 berada di Sumatera bersama Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Mr TM Hasan kemudian bersepakat membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada 22 Desember 1948, di Halaban, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat.

Menurut Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, saat itu terjadi dialog Sjafruddin dengan TM Hasan yang saling menolak memutuskan siapa yang akan mejadi ketua PDRI.

Sjafruddin meminta TM Hasan yang menjadi ketua, namun menolak dan mengatakan Sjafruddin lebih tepat memimpin PDRI. Setelah saling tolak-menolak, akhirnya diputuskan Sjafruddin menjadi pemimpin PDRI.

"Coba bayangkan jika hal itu terjadi hari ini, pasti kita akan berebut, apalagi untuk jabatan sekaliber kepala negara, membayar pun kita pasti mau," kata Gamawan, saat membuka peringatan mengenang satu abad Sjafruddin Prawinegara di Istana Bung Hatta Bukitinggi, Sumbar, Sabtu (2/4/2011) lalu.

Namun, kata Gamawan, untuk jabatan strategis tersebut mereka saling tolak-menolak.

"Kiranya ini sebuah pelajaran tentang keikhlasan, yang bisa kita teladani, terutama bagi pemimpin saat ini," katanya.

Seusai agresi militer tersebut, Belanda mengira eksistensi Indonesia telah berakhir dan posisi legal perwakilan RI di PBB bisa dipertanyakan. Namun, berkat PDRI, posisi Indonesia di PBB tidak bisa digugat.

PDRI telah menjadi pusat komunikasi RI dengan luar negeri sehingga dunia tetap mengetahui perjuangan rakyat Indonesia.

Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana ketika itu PDRI tetap berjuang untuk menegakkan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia.

Saat itu, sarana dan prasarana sangat minim, namun selama 207 hari Sjafruddin melakukan berbagai upaya untuk menegakkan eksistensi negara ini.

Kalau dibandingkan dengan pejabat saat ini, kata Gamawan, tidak ada apa-apanya. Waktu itu pejabat seperti Sjafruddin dalam bertugas ke mana-mana tidak difasilitasi dengan SPPD (surat perintah perjalanan dinas).

"Namun mereka dengan ikhlas dan penuh pengorbanan tetap berjuang. Sedangkan pejabat hari ini meskipun ke mana-mana sudah dibekali SPPD dan beragam fasilitas, terkadang masih mengeluh dalam bekerja," kata Gamawan.

Kemudian, pada 13 Juli 1949, Sjafruddin dengan ikhlas mengembalikan mandat PDRI kepada Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Penyerahan ini memang dilematis karena sejarah mencatat mandat yang dikirim melalui kawat tersebut tidak pernah sampai kepadanya.

Banyak yang mempersoalkan, apakah Sjafruddin merupakan "Ketua PDRI" atau "Presiden PDRI" , namun ia tidak pernah mempersoalkannya. Baginya PDRI telah berkontribusi, berjuang dan berkorban bagi bangsa ini.

"Nilai keteladanan yang bisa diambil bangsa ini, dengan ikhlas Sjafruddin menyerahkan sebuah jabatan yang sangat prestisius karena merasa sudah waktunya pemerintah berdaulat kembali memimpin Indonesia," kata Gamawan.

Sementara Farid Parwiranegara yang merupakan putra Sjafruddin mengemukakan, hingga akhir hayat ayahnya tidak ingin disebut pengkhianat. Namun, Sjafruddin dituding sebagai salah seorang yang ikut bertanggung jawab dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republi Indonesia (PRRI) 1958.

"Padahal, faktanya tidak seperti itu. PRRI itu hanya wujud dari kekecewaan terhadap ketimpangan pembangunan yang dilakukan pusat (ibu kota RI)," ujar Farid.

Segarkan ingatan terhadap sejarah

Ketua Panitia satu abad mengenang Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Mr Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011), AM Fatwa, mengemukakan, kegiatan ini akan menyegarkan kembali ingatan masyarakat terhadap nilai sejarah.

"Peringatan satu abad Sjafruddin Prawiranegara akan menyegarkan kembali ingatan masyarakat terhadap peristiwa heroik dan strategis yang pernah terjadi di Sumatera Barat enam dasawarsa lalu," kata AM Fatwa.

Dikatakannya, dibandingkan Presiden Soekarno, sosok Sjafruddin Prawiranegara bukan siapa-siapa, dan hanya sedikit orang yang mengenalnya.

"Namun sejarah mencatat, saat agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948, Sjafruddin bersama Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera TM Hasan berinisiatif membentuk PDRI yang dideklarasikan di Halaban Kabupaten Limapuluhkota Sumbar 22 Desember 1948," katanya.

Upaya tersebut, ujarnya, telah berhasil mempertahankan eksistensi bangsa serta meneguhkan posisi Indonesia di Perserkatan Bangsa Bangsa (PBB) saat itu.

Pahlawan nasional?

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengemukakan pihaknya akan mengusulkan Sjafruddin Prawiranegara kepada pemerintah untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

"Sosok Sjafruddin Prawiranegara layak untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional, karena banyak nilai keteladanan yang bisa diambil dari pribadinya," kata Irwan Praytino.

Dikatakannya, Sjafruddin merupakan pribadi yang memiliki integritas, multitalenta, kritis, tegas, dan terbuka.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat akan segera mengirimkan surat pengusulan Sjafruddin Prawiranegara sebagai pahlawan nasional kepada Menteri Sosial," katanya.

Menurut dia, tugas yang dilakukan Sjafruddin sebagai ketua PDRI selama 207 hari merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjuangan bela negara.

"Jika kita menggunakan cara pandang saat ini, maka Sjafruddin sangat pantas menjadi pahlawan nasional," katanya.

Selain itu, jika Sjafruddin ditetapkan sebagai pahlawan nasional perjuangan yang dilakukannya akan menjadi contoh dan model untuk bisa diteladani.

Sebelumnya, berdasarkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006 ditetapkan setiap tanggal 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara untuk memperingati deklarasi PDRI oleh Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat pada tahun 19 Desember 1948.

Sejarah yang dipinggirkan

Intelektual muda Sumatera Barat, Fadli Zon, mengemukakan, PDRI merupakan tonggak peristiwa sejarah penting, yang selama ini terlupakan serta dipinggirkan.

"Banyak yang tidak mengetahui sejarah PDRI, seolah-oleh PDRI tidak pernah terjadi," katanya.

Padahal, Sjafruddin Prawiranegara adalah seorang pendiri republik, tokoh bangsa yang berjasa dalam memperjuangkan dan mempertahankan republik Indonesia.

Faktanya, Sjafruddin pernah mendirikan PDRI, atas mendat dari Presiden Soekarno, di tengah ketidakberdayaan republik akibat agresi militer Belanda.

"Namun, hingga kini dia tidak saja belum diakui sebagai pahlawan nasional, tetapi juga tetap menjadi kontroversi bagi sebagian kalangan militer, generasi tua, dan kalangan nasionalis yang tidak menyukai PRRI," katanya.


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/04/10/11254546/Untung.Ada.Presiden.Sjafruddin

Kerinci, Sekepal Tanah Surga

| | | 0 komentar
Begitulah, konon, Kerinci adalah sekepal tanah surga yang dilempar oleh Tuhan ke bumi. Karena itu, Kerinci terkenal sebagai kabupaten paling elok di Provinsi Jambi.

Seperti namanya, kata kerinci berasal dari bahasa Tamil: Kurinji, yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India selatan di ketinggian di atas 1.800 meter di atas permukaan laut.

Tak cuma danau dan gunung yang menawarkan kemolekan, di bumi Kerinci juga terdapat berbagai peninggalan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Oleh sebab itu, tak heran jika Malaysia mengincar warisan budaya Kerinci untuk dibawa ke Negeri Jiran itu sebagai cermin masa lalu bangsa Malaysia yang masih serumpun dengan orang Kerinci, yakni suku Melayu.

Menyebut nama Kerinci, yang melintas di ingatan adalah gunung dan tasik (danau) yang sama-sama menggunakan nama Kerinci. Membayangkan keduanya, yang muncul adalah keindahan.

Gunung Kerinci (juga dieja "Kerintji", dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatera (3.805 di atas permukaan laut), dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 kilometer sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatera dan badak sumatera. Kerinci masih aktif dan terakhir kali meletus pada 2009.

Sementara Danau Kerinci adalah sebuah danau yang memiliki luas 4.200 hektar dengan kedalaman 110 meter dan terletak di ketinggian 783 meter di atas permukaan laut. Danau ini menyimpan banyak jenis ikan. Ikan semah merupakan jenis yang paling digemari dan merupakan ikan endemik. Danau Kerinci terletak di dua kecamatan, yaitu Danau Kerinci dan Keliling Danau.

Terdapat beberapa lokasi yang menarik di beberapa desa di sekitar Danau Kerinci, yaitu Daerah Pesanggarahan di mana kita bisa melihat pemandangan Danau Kerinci dari atas, Tanjung Hatta adalah tempat Bung Hatta menikmati panorama Danau Kerinci dan menanam pohon di sana, Desa Seleman terdapat Rumah Laheik yang merupakan rumah khas kerinci, di Desa Pulau Tengah terdapat Dolmen Batu Raja dan Masjid Keramat Pulau Tengah, serta di sekitar Danau Kerinci terdapat sejumlah batu berukir yang diduga peninggalan zaman megalit.

Tak cuma panorama alam, Kerinci juga memiliki potensi nilai seni dan budaya cukup besar dengan keragaman yang sangat tinggi. Potensi seni yang berkembang di daerah ini di antaranya seni musik daerah, nyanyian-nyanyian daerah, tarian daerah, kesenian bernuansa islami, dan berbagai bentuk seni tradisional lainnya. Eksistensi kesenian daerah dimungkinkan oleh keberadaan kelompok-kelompok seni daerah yang tersebar di sejumlah daerah pedesaan yang meliputi seni teater sebanyak 28 buah, seni tari sebanyak 65 buah, seni musik sebanyak 52 buah, seni musik kasidah/rebana sebanyak 48 buah, dan wayang sebanyak 9 buah.

Pertunjukan kesenian daerah umumnya dikaitkan langsung dengan acara-acara serimonial seperti acara pernikahan, menyambut kelahiran seorang bayi, peresmian rumah tempat tinggal, acara sunatan anak laki-laki, atau bentuk acara lainnya.

Selain kesenian daerah, Kabupaten Kerinci juga memiliki potensi budaya daerah yang sangat besar dan bernilai luhur karena tumbuh secara alami dari akar budaya masyarakat secara turun temurun hingga ratusan tahun. Hingga saat ini, masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai budaya daerah baik dalam pelaksanaan berbagai acara adat maupun acara serimonial serta penyelesaian berbagai persoalan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut harta benda atau perbuatan kriminal dan asusila. Beberapa sko Kerinci sangat khas dan langka, tidak ditemukan ada di tempat lain, seperti halnya naskah Melayu tertua berupa kita undang-undang di Desa Tanjung Tanah yang merupakan warisan dari raja Melayu pra-Islam, yakni Adityawarman.

Lalu beberapa bentuk budaya lainnya, seperti seni bersenandung Tale, tradisi tutur Kunoun dan Kba, berbagai seni pertunjukan tradisional seperti tarian, teater, dan atraksi warisan budaya megalitik seperti tari asek, tari rangguk, marcok. Begitu juga dengan warisan sastra berupa mantra, pantun, seloko, penno, tambo, dan lain sebagainya.

Kesemua itu tidak ditemukan lagi di daerah lain di Provinsi Jambi. Masyarakat Kerinci malah harus berbangga karena telah mampu merawat dan melastarikan keberadaannya hingga jadi warisan budaya yang luhur dan abadi hingga kini.

Suku Kerinci

Suku Kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatera termasuk ras Mongoloid Selatan berbahasa Austronesia. Berdasarkan bahasa dan adat istiadat suku Kerinci termasuk dalam kategori Melayu dan paling dekat dengan Minangkabau dan Melayu Jambi. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antarsatu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

Sebagian penulis, seperti Van Vollenhoven, memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau.

Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal. Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja, ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antarsatu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang, biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

Upacara tradisi

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dalam berbagai suku bangsa adalah tradisi pelaksanaan pesta adat siap panen. Hampir setiap daerah masih melaksanakannya, seperti upacara adat fuaton di Nusa Tenggara Timur, upacara adat aruh mahannyari pada suku Dayak, upacara penolak bala sebagai rasa syukur setelah berhasil panen di Sulawesi Selatan, dan lain sebagainya. Tradisi-tradisi ini di maksud untuk mensyukuri hasil panen yang telah didapat oleh masyarakat, sekaligus memohon berkah agar mereka mendapat hasil yang lebih baik pada musim panen mendatang.

Begitu juga halnya yang terjadi pada masyarakat yang ada di Provinsi Jambi, yakni di Kabupaten Kerinci. Mereka dikenal sebagai orang Melayu Tua (Zakaria, 1985:15). Orang Melayu Tua tersebut masih mengenal bentuk-bentuk upacara atau pesta adat siap panen yang lebih dikenal dengan istilah kenduri sko. Kenduri sko merupakan upacara adat yang terbesar di daerah Kerinci dan termasuk kedalam upacara adat Titian Teras Bertangga Batu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Daud (1991:32) bahwa upacara adat di Kerinci dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yang disebut dengan: Upacara Adat Titian Teras Bertangga Batu; Upacara Adat Cupak Gantang Kerja Kerapat; Upacara Adat Tumbuh-tumbuh Roman-roman.

Sebagaimana tradisi-tradisi dalam upacara adat di setiap masyarakat, upacara kenduri sko di Kerinci memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Upacara kenduri sko merupakan upacara puncak kebudayaan masyarakat Kerinci.

Dengan kata lain dapat diartikan sebagai suatu perhelatan tradisional masyarakat Kerinci dengan maksud dan tujuan tertentu. Upacara kenduri sko hanya dilakukan pada desa persekutuan adat atau masyarakat adat dari dusun asal desa-desa yang memiliki sejarah tetua adat depati ninik mamak dan juga memiliki benda-benda pusaka.

Kenduri sko merupakan upacara adat terbesar yang ada di Kerinci dan mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat. Di dalam upacara tersebut terdapat acara penurunan benda-benda pusaka nenek moyang, serta pemberian gelar adat kepada pemangku-pemangku adat yang baru yang akan memimpin adat desa tersebut. Dengan demikian, upacara kenduri sko sangat penting sekali bagi orang Melayu Tua yang ada di Kabupaten Kerinci, khususnya Desa Keluru. (Berbagai sumber)


Jodhi Yudono
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/04/12/1647567/Kerinci.Sekepal.Tanah.Surga

Sejarah Mencatat Indonesia Telah Miliki Delapan Presiden

| | | 0 komentar
Bila sejarah Indonesia dibuka seluruhnya negara ini sudah punya delapan Presiden. Selain Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, ada dua nama lain yang dilupakan sejarah.

"Presiden kedua adalah Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Mr Sjafruddin Prawiranegara dan Presiden ketiga adalah Mr Assaat yang menjabat Presiden Republik Indonesia dalam bagian Republik Indonesia Serika (RIS)," kata AM Fatwa, Ketua Panitia Peringatan Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi, Minggu (3/4).

Menurutnya Indonesia seringkali gagap menerima kenyataan sejarah. "PDRI dan para aktor utamanya, misalnya, selama berpuluh tahun berusaha dihilangkan dari ingatan kolektif bangsa. Selama 49 tahun peranan PDRI dan tokoh-tokohnya bagaikan dianggap tidak ada," katanya.

Fatwa mengatakan baru pada masa Presiden Habibie, Sjafruddin mendapat penghargaan Bintang Republik Adipradhana dan baru pada 2006 hari lahir PDRI pada 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara. Namun, lanjutnya, Kepres No 28 tahun 2006 tentang Hari Bela Negara hanya memosisikan PDRI sebagai pengisi kekosongan kepemimpinan NKRI dalam rangka bela negara. "Padahal, PDRI lebih dari mengisi kekosongan," jelasnya.

PDRI, menurut Fatwa, menyambung eksistensi NKRI yang sejak 19 Desember 1948 sudah dianggap Belanda lenyap dari peta bumi, karena ibu kota Yogyakarta, Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpinnya telah ditawan. "PDRI jelas telah meneguhkan posisi wakil Republik Indonesia di PBB," katanya. (HR/OL-04)

Sejarah Bandung Lautan Api

| | | 0 komentar
Pada tanggal 24 Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.

Insiden Perobekan Bendera

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia.

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.


Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.

Bandoeng Laoetan Api

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air”
A.H Nasution, 1 Mei 1997

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Peringatan Halabcheh, Tinjauan Kembali Terhadap Sebuah Tragedi

| | | 0 komentar
Ketika mantan presiden dan diktator Irak, Saddam Husein, dihukum gantung, media-media massa Barat menyatakan bahwa berkas-berkas kejahatan Saddam selama hidupnya telah dilimpahkan kepada sejarah, dan lambat laun segala sesuatunya akan terlupakan. Namun, fakta yang sebenarnya lebih akurat daripada opini yang dipoles oleh media-media massa Barat itu. Sejarah tidak akan menghapus catatan kejahatan Saddam dan bukti dukungan Barat terhadap kekejian Rezim Baath itu.

19 tahun yang lalu, tanggal 16 Maret 1988, Saddam Husein melakukan sebuah kejahatan anti kemanusiaan yang paling keji dalam sejarah. Pada hari itu, kota Halabcheh di Irak menjadi sasaran serangan senjata destruksi massal oleh Rezim Saddam. Kota ini mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan kota Nagasaki, Hiroshima, serta kota-kota di Vietnam. Dalam pembantaian massal di Halabcheh, lebih dari 15 ribu orang tewas.

Lebih dari itu, serangan senjata kimia yang dilancarkan oleh Saddam tidak hanya menimpa kota Halabcheh, namun juga dialami oleh warga Iran di kawasan barat dan selatan negara ini. Tentu saja, tragedi di Iran tak akan terjadi jika lembaga-lembaga internasional dan Dewan Keamanan PBB tak membisu dalam menyikapi tragedi Halabcheh.

Robert Fisk, seorang wartawan terkenal asal Inggris, dalam artikelnya yang ditulis beberapa tahun lalu usai perang Irak-Iran, mengatakan, "Dalam sebuah dokumen rahasia yang tak dipublikasikan, disebutkan adanya pengiriman senjata-senjata kimia dan biologi yang berfungsi ganda dari AS ke Irak. Sebelum dan setelah tahun 1985, perusahaan-perusahaan AS mengirimkan senjata-senjata biologi ke Irak setelah diratifikasi oleh negara ini.

Disebut-sebut juga bahwa pengirim senjata destruksi massal itu di antaranya adalah perusahaan yang memproduksi mikroba antraks dan sejumlah virus lainnya." Melalui laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa AS telah terbukti mengirimkan bahan-bahan senjata dwifungsi kepada Irak, yang disetujui oleh pemerintah Washington dalam rangka membantu pembuatan instalasi-instalasi senjata kimia di Irak.

Muhammad Salam, seorang wartawan Associated Press yang menyaksikan langsung serangan-serangan senjata kimia Irak terhadap tentara Iran di timur Basrah mengatakan, "Pasukan Irak untuk pertama kalinya mengunakan gas-gas kimia, yang sebagaimana gas Mustard, dapat merusak syaraf manusia." Muhammad Salam juga menyatakan, "Sejak awal, Iran sudah menyatakan bahwa AS telah mengirimkan senjata kimia ke Irak, namun Washington terus menepis tudingan tersebut."

Koran San Fransisco Chronicle edisi 12 November 2006 menulis, AS mengirimkan 14 bahan berbahaya yang dapat digunakan untuk produksi senjata kimia ke Irak, dan hal ini sengaja dilakukan semata-mata untuk mengalahkan Iran. Koran ini seperti media-media massa lainnya, juga menyinggung kunjungan Donald Rumsfeld ke Irak dan pertemuannya dengan Saddam Husein. Rumsfeld datang ke Irak pada bulan Desember 1983 dan pada tanggal 24 Maret 1984. Menurut koran ini, "Rumsfeld menemui Saddam di saat PBB dalam laporannya mengumumkan bahwa Irak dinyatakan sebagai pelaku kejahatan perang karena menggunakan gas Mustard dalam menyerang tentara-tentara Iran."

Berdasarkan laporan resmi dan dokumen Reagan di awal April 1982, AS sama sekali tak dapat menerima kekalahan Irak dalam perang Iran, serta tak membiarkan Saddam kalah. Untuk itu pada tahun 1983, AS secara resmi menjadi pendukung utama Irak dalam perang Iran. Di samping itu, AS bersedia mengirimkan dana milyaran USD serta menfasilitasi pengiriman senjata dan teknologi dwifungsi ke Irak melalui makelar-makelar senjata. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemampuan Irak dalam memproduksi senjata kimia terkait erat dengan kerjasama perusahaan-perusahaan AS dan Eropa.
Dalam laporan yang disampaikan kepada Konferensi Perlucutan Senjata Nuklir, Republik Islam Iran menyatakan bahwa jumlah serangan senjata kimia yang dilakukan Irak antara tahun1981 hingga 1988 adalah sebanyak 242 kali dan menelan korban sebanyak 44 ribu orang. Disebutkan juga, Baghdad mengakui bahwa pihaknya dalam perang Irak menggunakan enam ribu unit bom kimia kepada Mantan Ketua Tim Inspeksi Senjata Destruksi Massal PBB, Hans Blix.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh tim penyidik PBB terkait senjata nuklir Irak, Irak mendapatkan fasilitas militer dan senjata kimia dari 150 perusahaan Barat. Koran Al-Qais, terbitan Kuwait, yang mengutip pernyataan para pakar dan inspektur senjata destruksi Irak, pada bulan November 2006 menulis, "Perusahaan-perusahaan pemasok utama untuk Irak terdiri atas 22 perusahaan AS, 23 perusahaan Italia, dan 13 perusahaan Swiss."

Sangat ironis, AS yang di masa lampau menjadi pendukung Saddam kini mengklaim diri sebagai penentang senjata pembunuh massal. Bahkan, AS kini menduduki Irak dengan alasan untuk membasmi senjata pembunuh massal. AS juga terus-menerus menekan Iran yang sedang berupaya mendayagunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Padahal di saat yang sama, AS sendiri tengah memproduksi senjata nuklir generasi baru yang merupakan ancaman besar bagi keselamatan umat manusia.





sumberhttp://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=141:peringatan-halabcheh-tinjauan-kembali-terhadap-sebuah-tragedi-&catid=59:perspektif&Itemid=101

Pembantaian Muara Angke

| | | 1 komentar
Awal tahun 1610-an etnis Cina di Batavia berjumlah hampir 5000 orang lebih. Jumlah mereka yang banyak memang dibutuhkan oleh pemerintah kolonial, untuk mengisi pekerjaan kasar seperti kuli angkut dan buruh pabrik. Itu menjadi mungkin karena orang-orang Belanda yang menetap di Batavia rata-rata adalah tentara, pelaut (sangat temporer) dan kelas menengah seperti pelancong dan politikus, tentu bourjuis eropa tidak mungkin melakukan pekerjaan kasar.

Maka orang-orang Cina-lah yang melakukan itu untuk mereka. Jan Pieter Zoon Coen yang mendirikan Batavia menyadari kondisi itu, karenyalah ia mengangkat “Tsu Ming Kang” sebagai kapten orang-orang Cina di Batavia.

Pada tahun 1620 perjudian yang dijalankan oleh etnis Cina mendapat izin resmi dari pemerintah kolonial, Tsu Ming Kang dan Gonthaay (ajudannya) ditugaskan oleh Belanda untuk mengambil pajak dari setiap bisnis judi. Pada waktu itu salah satu bisnis etnis Cina yang paling populer adalah bisnis gula. Etnis Cina memiliki banyak sekali perkebunan tebu di ‘Ommelanden’ atau wilayah si luar Batavia atau yang mengelilingi Batavia.

Karena perkembangan pabrik-pabrik gula, mereka terus mendatangkan pekerja-pekerja Baru dari Cina daratan untuk mengisis posisi buruh-buruh pabrik. Dari 1680 sampai 1720 etnis Cina di Batavia hidup relatif makmur.

Petakanya dimulai awal 1720 ketika unsur tanah perkebunan mulai mengalami kejenuhan, lalu pemerintah Inggris mulai menyaingi pasar Eropa dengan meningkatnya kwalitas perkebunan tebu di India Barat, sehingga Belanda mengalami permasalahan ekspor gula. Tapi pekerja-pekerja dari Cina daratan tetap berdatangan. Sehingga pada tahun 1725 pengangguran di kalangan etnis Cina meningkat drastis, dan meningkat terus di tahun-tahun berikutnya.

Para pengangguran inilah yang kemudian mengganggu keamanan di wilayah Batavia dan sekitarnya. Pemerintah kolonial menyadari kondisi ini akan merepotkan mereka, dan mereka mengeluarkan dua peraturan yang dikeluarkan secara beruntun antara tahun 1690 dan 1710-20. Peraturan pertama adalah mengurangi jumlah imigran Cina, sebuah peraturan yang diberikan untuk kapal-kapal Cina yang mengangkut imigran-imigran dari Cina daratan.

Peraturan kedua adalah memberikan status penduduk ‘Permisibrief’ kepada Cina yang sudah menetap terutama yang memiliki posisi baik sebagai pebisnis maupun petugas dan pegawai. Tapi kedua peraturan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena pejabat Belanda sangat mudah disuap, apalagi mereka (belanda) sangat menyukai barang-barang buatan Cina seperti Guci, kain dan lukisan. Sehingga tetap saja imigran Cina membludak di Batavia dan sekitarnya. Karena peraturan itu gagal diterapkan.

Van Imhoff seorang pejabat ‘Raff Van Indie’ atau ”Dewan Nusantara” sebuah organisasi yang mengurusi permasalahan sosial politik di Nusantara, memutuskan untuk menangkap semua orang Cina yang tidak bekerja, baik yang memiliki status ‘Permisibrief’ maupun yang tidak. Kondisi ini membuat ketegangan baru di kalangan etnis Cina, dan mereka yang tidak bekerja kemudian bersembunyi di rumah-rumah.

Mereka yang ditangkap di janjikan akan dibawa ke Ceylon dan dipekerjakan sebagai buruh pengupas buah vanili, tapi mereka tidak pernah sampai ke pulau itu, mereka dilempar ke laut dalam perjalanan. Isu itu membuat etnis Cina di Batavia berang dan mulai mempersenjatai diri, dengan senjata api dan meriam buatan, membentuk barisan pemberontak yang awalanya hanya berjumlah 60 sampai 100 orang. Dan ketakutan menyebar di Batavia.

Van Imhoff terkenal sebagai pejabat yang diplomatis dalam sejarah Batavia. Ia datang ke “Tanah Abang” tempat berkumpulnya etnis Cina dan mengadakan perundingan, tetapi ia pun tidak bisa menangani situasi. Tetapi ia dan ‘Nie Hue Kong’ seorang kapten Cina yang menjadi pegawai Belanda terus melakukan pendekatan agar ketegangan mereda.

Tetapi ‘Nie Hue Kong’ yang merupakan pegawai kolonial tidak dianggap oleh pemberontak, dan belakangan diketahui ‘Nie Hue Kong’ memiliki pabrik gula tempat pemberontakan dan pemogokan berlangsung. Ketika barisan pemberontak berada di depan gerbang Batavia. Sekelompok pasukan Batavia yang dilengkapi dengan 100 orang pasukan berkuda Bugis menyerang pemberontak dan mereka kocar-kacir. Isu menyebutkan bahwa cina-cina pemberontak menyusup ke Batavia dan warga Batavia ketakutan dan sentimen terhadap etnis Cina meningkat.

Pada hari minggu 9 oktober 1740 pemerintah Belanda menggeledah setiap rumah etnis Cina di Batavia. Awalnya hanya penggeledahan, kemudian menjadi pembunuhan, penjarahan dan pemerkosaan, pribumi dan para budak turut andil dalam kekejian tersebut. Gubernur Jenderal Valkeeiner yang selalu berseteru dengan Van Imhoff pada tanggal 10 oktober 1740 memerintahkan pembunuhan terhadap orang Cina yang berada di penjara dan rumah sakit.

Pembantaian baru berhenti setelah tanggal 10 oktober 1740, setelah pemerintah Belanda menarik mundur semua pasukan dan menyuruhnya untuk kembali ke asrama, untuk pembantaian itu serdadu bawahan mendapat 6 dukat sedangkan perwira dua kali lebih besar. Efek dari pembantaian itu adalah merebaknya pemberontakan anti Belanda di seluruh Indonesia.

Contohnya di Mataram, ketika rakyat ikut bersama pemberontak Cina bersama menyerang Belanda. Setelah kejadian itu Valkeeiner ditangkap dan dipenjara, dan dijatuhi dihukum mati. Tapi dia meninggal di penjara pada tahun 1751, hukuman matinya tidak sempat dilaksanakan. Menjadi sebuah catatan khusus bahwa kaisar CIna pada waktu itu Tsj’ien Lung (1736-1796).

Tidak mengambil acuh pada pembantaian itu, padahal para pedagang dan pelaut Cina menyebarkan berita pembantaian itu ke Cina daratan. Hal itu disebabkan karena Cina sedang membangun sebuah jaringan dagang baru dengan Belanda, Inggris dan Spanyol, dan pada tahun itu mereka (kekaisaran Cina) sedang menghadapi permasalahan internal, seperti pemberontakan dan produksi pangan yang bermasalah.

Hubungan ekonomi menjadi lebih besar dari masalah kemanusian itu sendiri. Tapi kasus pembantaian Oktober 1740 itu merupakan sebuah monumen sejarah pembantaian pertama di pulau jawa yang dilakukan secara sistematis oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap etnis yang dicap non pribumi.

Dalam sejarah selanjutnya di Indonesia etnis Cina bahkan yang lahir dan besar di Indonesia tetap mendapatkan sentimen bahwa mereka bukanlah warga yang nasionalis hanya memanfaatkan Indonesia sebagai lahan bisnis. Tentu hal ini harus dipertanyakan lebih lanjut. Etnis Cina berbeda dengan etnis Arab yang pernah mendapat sentimen juga dari penduduk pribumi.

Tapi dalam kasus masyarakat Arab situasi yang dihadapi sedikit berbeda. Arab datang ke Indonesia dengan misi dagang dan menyebarkan agama Islam, dan di dekade awal kedatangan masyarakat Arab pada awal abad ke-17 sudah melakukan pernikahan dengan pribumi.

Di kalangan etnis Cina pernikahan seperti itu tidak mudah dilakukan, karena pertama sejarah poligami di kalangan masyarakat Cina tidak sepopuler masyarakat Arab, dan biasanya Cina pendatang membawa keluarga mereka ketika bermigrasi ke Indonesia.

Sedangkan yang tidak membawa keluarga lebih cenderung memilih menikah dengan sesama etnis karena struktur sosial dan etiket sosial etnis Cina sangat ketat, termasuk dalam hal tatacara makan, minum, bertemu dengan orang tua, mengucapkan salam, sehingga sangat sulit untuk membawa seseorang dari luar kebudayaannya untuk masuk ke kebudayaan mereka pada waktu itu, dan mungkin juga sekarang.

sumber http://ahmadsyarifali.wordpress.com/2010/06/30/segelas-teh-untuk-cina-singkeh-pembantaian-muara-angke/

Pembantaian My Lai , Sisi Lain Kekejaman Amerika di Vietnam

| | | 2 komentar
Pembantaian Mỹ Lai adalah pembantaian yang dilakukan oleh tentara AS terhadap ratusan warga sipil Vietnam yang tidak bersenjata, dan kebanyakan perempuan dan anak-anak, pada 16 Maret 1968, pada saat Perang Vietnam. Pembantaian ini menjadi lambang kejahatan perang Amerika di Vietnam, dan segera membangkitkan kemarahan di seluruh dunia serta mengurangi dukungan masyarakat di dalam negeri terhadap perang itu sendiri. Peristiwa ini kadangkala juga dikenal dengan nama Pembantaian Son My atau Pembantaian Song My.

Latar belakang

Pada saat Perang Vietnam, Provinsi Quang Ngai di Vietnam Selatan dicurigai menjadi tempat perlindungan kaum gerilyawan Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat dan kader-kader lainnya dari Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam (FNPV), yang juga disebut "Viet Cong" atau "VC" oleh pasukan-pasukan AS dan simpatisan mereka. Tempat ini secara tidak resmi disebut Pinkville (karena warna merah jambu yang dicetak pada peta) oleh militer AS, dan provinsi ini sering dibom dan ditembaki. Pada 1968 hampir semua rumah di seluruh provinsi ini telah hancur atau rusak.

Militer menganggap penting bahwa para tenaga lapangan FNPV dimusnahkan. Karena itu, mereka tidak mengukur sukses dari berapa banyak wilayah atau lokasi strategis yang direbut (misalnya), melainkan berdasarkan "jumlah mayat" mereka - jumlah keseluruhan mereka yang dicurigai sebagai tenaga lapangan FNPV yang terbunuh.

Tentara dianjurkan oleh atasan mereka untuk melebih-lebihkan perhitungan mereka untuk memberikan kesan keberhasilan militer. Karena tekanan itu, dan karena kenyataannya seringkali para tenaga lapangan FNPV sulit sekali dibedakan dari rakyat biasa, seringkali ada kesenjangan yang sangat luas antara jumlah mayat yang dilaporkan dalam suatu misi tertentu dengan jumlah senjata musuh yang direbut.

Menurut Doug Linder, profesor hukum di Universitas Missouri-Kansas City, para G.I. menyebarkan lelucon bahwa "apapun yang mati dan bukan putih adalah VC [Viet Cong]" dengan tujuan menghitung mayat semata. Tidak diragukan bahwa banyak warga sipil yang terbunuh di provinsi itu, sehingga semakin membakar sentimen anti-Amerika yang sudah ada di wilayah tersebut.

Para pemberontak kadang-kadang ditampung dan dilindungi oleh warga sipil di daearh itu. Namun, tentara-tentara Amerika merasa frustrasi karena keterlibatan rakyat setempat. Ditambah dengan ketidakmampuan mereka untuk mengejar musuh yang selalu lolos dan meluasnya rasa takut akan disergap, kemarahan ini semakin menambah kemungkinan mereka melakukan balas dendam yang kejam terhadap warga sipil.

Pembantaian

Charlie Company (Kompi C), Brigade ke-11, Divisi Americal tiba di Vietnam pada Desember 1967. Bulan pertama mereka di Vietnam berlalu tanpa kontak langsung dengan musuh.

Pada Serangan Tet, Januari 1968, serangan-serangan dilakukan di Quang Ngai oleh Batalyon ke-48 dari FNPV. Intelijen militer AS membentuk pandangan bahwa Batalyon ke-48, setelah mengundurkan diri, berlindung di desa Son My. Sejumlah kampung tertentu di desa itu - yang dinamai sebagai My Lai 1, 2, 3 dan 4 (yang dijuluki "Pinkville" ) - dicurigai melindungi anggota Batalyon itu. Suatu serangan besar-besaran terhadap kampung-kampung itu direncanakan oleh pasukan-pasukan AS.

Pada malam menjelang serangan itu, Charlie Company dinasihati oleh komando militer AS bahwa warga yang benar-benar sipil di My Lai akan meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke pasar pada pk. 7 pagi hari berikutnya. Mereka diberitahukan bahwa mereka dapat menyimpulkan bahwa semua orang yang tinggal di rumah pastilah Viet Cong atau simpatisan aktif Viet Cong. Mereka diperintahkan menghancurkan desa itu. Pada saat briefing (taklimat), Kapten Ernest Medina ditanyai apakah perintah itu termasuk membunuh kaum perempuan dan anak-anak; mereka yang hadir dalam briefing itu belakangan memberikan jawaban yang berbeda-beda tentang tanggapan Medina.

Pasukan-pasukan AS tidak menemukan pemberontak di desa itu pada pagi hari 16 Maret 1968. Tentara-tentara itu, satu pleton yang dipimpin oleh Letnan William Calley, membunuh ratusan warga sipil – terutama kaum lelaki tua, perempuan, anak-anak, dan bayi. Sebagian disiksa atau diperkosa. Lusinan digiring ke sebuah lubang dan ditembak mati dengan senjata otomatis.

Pada satu kesempatan, Calley mengungkapkan maksudnya untuk melemparkan sejumlah granat ke sebuah liang yang penuh dengan warga desa. [1]
Jumlah yang pasti dari orang-orang yang terbunuh berbeda-beda dari sumber yang satu ke sumber lainnya; yang paling sering disebut adalah 347 dan 504 korban. Sebuah peringatan di tempat pembantaian itu mencantumkan 504 nama, dengan usia yang merentang dari 82 tahun yang paling tua hingga 1 tahun yang paling muda. Menurut laporan seorang letnan Angkatan Darat Vietnam Selatan kepada para atasannya, ini adalah suatu insiden pertumpahan darah yang "mengerikan" oleh suatu pasukan bersenjata yang berusaha melampiaskan kemarahannya.

Seorang awak helikopter Angkatan Darat AS menyelamatkan sejumlah warga sipil dengan cara mendarat di antara pasukan-pasukan Amerika dan sisa-sisa orang Vietnam yang bersembunyi di lubang perlindungan. Penerbang berusia 24 tahun, Perwira yang diberi kuasa Hugh Thompson, Jr., mengkonfrontir para pemimpin pasukan itu dan mengatakan kepada mereka bahwa helikopternya yang dilengkapi persenjataan akan menembaki mereka bila mereka melanjutkan serangan atas warga sipil.

Dengan dukungan dua anggota lainnya dari awak helikopter itu — Spesialis Lawrence Colburn dan Spesialis Glenn Andreotta — Thompson mengarahkan evakuasi desa itu. Para awak itu dipuji karena berhasil menyelamatkan sekurang-kurangnya 11 jiwa, namun lama sesudah itu mereka dikecam sebagai pengkhianat. Pada 8 April 1968, Glenn Andreotta dan Charles Dutton, para awak di pesawat pengintai OH-13 (62-03813) "Warlord", terbunuh ketika pesawat mereka ditembak jatuh dan terbakar. Baru 30 tahun kemudian, setelah sebuah laporan televisi mengenai kejadian itu, ketiga perwira ini dianugerahi Medali Prajurit, penghargaan tertinggi angkatan darat untuk keberanian tanpa melibatkan kontak langsung dengan musuh.

Pada musim semi 1972, kamp (di My Lai 2) tempat mereka yang bertahan pada pembantaian My Lai itu dipindahkan, dihancurkan oleh pengeboman udara dan artileri ARVN (Vietnam Selatan). Penghancuran itu dipersalahkan pada teror Viet Cong. Namun, kebenarannya diungkapkan oleh para relawan Quaker di tempat itu, melalui kesaksian oleh Martin Teitel pada kesempatan "hearing" di hadapan Sub-komite untuk Menginvestigasi Masalah-masalah yang Terkait dengan Pengungsi dan Pelarian pada Mei 1972. Bulan Juni tahun yang sama laporan Teitel tentang kejadian itu muncul dalam koran New York Times.

Upaya untuk menutup-nutupi

Penelitian-penelitian awal mengenai insiden My Lai ini dilakukan oleh Komandan Brigadi Infantri Ringan ke-11, Kolonel Oran Henderson, berdasarkan perintah dari Perwira Asisten Komandan Americal, Brigadir Jenderal Young.

Hendersen mewawancarai sejumlah perwira yang terlibat dalam insiden ini, kemudian mengeluarkan sebuah laporan tertulis pada akhir April, yang isinya menyatakan bahwa sekitar 20 warga sipil secara tidak sengaja terbunuh pada operasi militer di My Lai. Pada saat ini tentara masih menggambarkan perisitwa ini sebagai kemenangan militer yang mengakibatkan kematian 128 orang pada pihak lawan.

Enam bulan kemudian, seorang perwira muda dari Infantri Ringan ke-11 (Brigade Jagal) yang bernama Tom Glen menulis surat yang menuduh Divisi Americal (dan seluruh satuan lainnya dari militer AS, bukan hanya pribadi-pribadi) telah melakukan kebrutalan rutin terhadap warga sipil Vietnam. Surat itu sangat rinci isinya, tuduhannya mengerikan, dan isinya menggemakan keluhan-keluhan yang diterima dari tentara-tentara lain.

Colin Powell, yang saat itu seorang Mayor muda di Angkatan Darat AS, diperintahkan meneliti surat itu, yang tidak secara spesifik mengacu kepada My Lai (Glen belum mengetahui kejadian-kejadian di sana). Powell menulis: "Sebagai bantahan langsung terhadap penggambaran ini adalah kenyatan bahwa hubungan antara tentara-tentara Amerika dan rakyat Vietnam sangat baik." Belakangan, bantahan Powell disebut sebagai upaya "memutihkan" berita tentang My Lai, dan pertanyaan-pertanyaan tetap disembunyikan dari publik.

Pada 4 Mei 2004, Powell, yang saat itu merupakan Menteri Luar Negeri AS, berkata kepada Larry King, "Maksud saya, saya berada dalam kesatuan yang bertanggung jawab atas My Lai. Saya tiba di sana setelah My Lai terjadi. Jadi, dalam peperangan, hal-hal yang mengerikan seperti ini sesekali terjadi, namun semuanya itu harus disesali."
Bangkai di My Lai itu mungkin akan lenyap dalam sejarah apabila bukan karena seorang perwira lainnya, Ron Ridenhour, yang, secara bebas dari Glen, mengirimkan surat kepada Presiden Nixon, Pentagon, Departemen Luar Negeri, Kepala Angkatan Bersenjata, dan sejumlah anggota Kongres.

Salinan-salinan surat ini dikirim pada Maret 1969, tepat setahun setelah kejadian itu. Kebanyakan penerima surat Ridenhour mengabaikannya, kecuali anggota Dewan Perwakilan Morris Udall. Ridenhour mengetahui tentang kejadian-kejadian di My Lai lewat orang lain, melalui pembicaraan dengan anggota-anggota Charlie Company, sementara ia masih menjadi tentara. Akhirnya, Calley dituduh melakukan sejumlah pembunuhan terencana pada September 1969, dan 25 perwira lainnya serta relawan belakangan didakwa dengan kejahatan-kejahatan terkait. Baru dua bulan kemudian publik Amerika mengetahui tentang pembantaian dan peradilan itu.

Wartawan investigatif independen Seymour Hersh, setlah percakapan menadlam dengan Ridenhour, membuka cerita My Lai pada 12 November 1969, dan pada 20 November majalah Time, Life dan Newsweek semuanya meliput kisahnya, dan CBS menyiarkan di televisi wawancara dengan Paul Meadlo.

The Plain Dealer (Cleveland) menerbitkan foto-foto yang sangat jelas tentang penduduk desa yang mati terbunuh di My Lai. Sebagaimana terbukti dari komentar-komentar yang dibuat pada percakapan telepon 1969 antara Penasihat Keamanan Nasional AS Henry Kissinger dan Menteri Pertahanan Melvin Laird, yang baru-baru ini diungkapkan oleh Arsip Keamanan Nasional, foto-foto tentang kejahatan perang itu terlalu mengejutkan para perwira senior hingga mereka tidak bisa dengan efektif menutup-nutupinya. Menteri Pertahanan Laird terdengar mengatakan, "Ada terlalu banyak mayat anak-anak yang berserakan di sana; foto-foto ini memang otentik."

Pengadilan militer

Pada 17 Maret 1970, Angkatan Darat A.S. mendakwa 14 perwiranya telah menyembunyikan informasi yang berkaitan dengan insiden ini. Kebanyakan dari dakwaan ini kemudian dibatalkan.

Letnan A.D. William Calley dinyatakan bersalah pada 1971 telah melakukan pembunuhan terencana dengan memerintahkan penembakan dan mulanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun dua hari kemudian, Presiden Richard Nixon memerintahkan ia dibebaskan dari penjara. Calley menjalani tahanan rumah selama 3½ tahun di markasnya di Fort Benning, Georgia, dan kemudian diperintahkan bebas oleh seorang hakim federal. Calley mengklaim bahwa ia cuma mengikuti perintah dari kaptennya, Ernest Medina; Medina menyangkal bahwa ia telah memberikan perintah itu, dan dibebaskan dalam peradilan yang terpisah.

Kebanyakan dari para perwira yang terlibat dalam insiden My Lai ini tidak mendaftar lagi di angkatan bersenjata. Dari ke-26 orang yang mula-mula dikenai dakwaan, Letnan Calley adalah satu-satunya yang dinyatakan terbukti bersalah.

Sesudah pembantaian

Berita yang meledak mengenai pembantaian ini membangkitkan kemarahan gerakan perdamaian Amerika, yang menuntut penarikan mundur pasukan-pasukan AS dari Vietnam. Hal ini juga menyebabkan lebih banyak calon wajib militer yang mendaftarkan diri sebagai penentang berdasarkan nurani. Mereka yang telah selamanya menentang perang merasa menang; dan mereka yang berada di pinggiran gerakan menjadi lebih vokal.

Namun pergeseran yang lebih besar terjadi pada sikap masyarakat umum terhadap perang Vietnam. Orang yang sebelumnya tidak tertarik akan perdebatan perang/damai mulai menganalisis masalahnya dengan lebih cermat. Kisah-kisah mengerikan tentang prajurit-prajurit yang lain mulai ditanggapi lebih sungguh-sungguh, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya muncul ke permukaan.

Sebagian dari kemarahan publik kemudian diarahkan kepada para prajurit itu sendiri. Citra veteran Vietnam yang bermasalah semakin meningkatkan kesulitan para prajurit yang bergumul dengan gangguan stres pasca-trauma, penyalahgunaan obat-obatan dan ketiadaan tempat tinggal.

Sebagian pengamat militer menyimplkan bahwa My Lai memperlihatkan kebutuhan akan relawan dalam jumlah yang lebih banyak dan dengan kualitas yang lebih baik untuk memberikan kepemimpinan yang lebih kuat di antara anggota pasukan. Sementara pertempuran Vietnam berlarut-larut, jumlah tentara karier yang terdidik baik dan berpengalaman di garis depan menurun dengan drastis sementara bertambahnya korban dan rotasi pasukan mengakibatkan pukulan hebat.

Para pengamat ini mengklaim bahwa tidak adanya orang-orang muda yang cerdas yang tidak ikut serta dalam wajib militer karena mereka menjadi mahasiswa atau melayani di dalam negeri, menyebabkan sangat berkurangnya jumlah perwira baru yang baik. Banyak perwira baru yang usianya bahkan belum lagi 20 tahun, seringkali kurang cerdas dan tidak bertanggung jawab.

Mereka menunjuk kepada Calley, seorang pemuda pengangguran dan putus sekolah di perguruan tinggi, sebagai contoh tentang seseorang yang masih mentah dan tidak berpengalaman, yang dipaksa segera menjalani latihan perwira.

Yang terlibat

Pleton Satu

William Calley - Letnan yang memimpin Kompi C, satu-satunya orang yang terbukti bersalah
David Mitchell - Sersan
Ronald L. Haeberle - Juru foto kompi
Charles Sledge - Operator Radio - memberi kesaksian bahwa ia melihat Calley dengan sengaja membunuh seorang anak kecil
Paul Meadlo - Prajurit Satu - memberi kesaksian bahwa ia takut ditembak bila ia tidak ikut serta
Dennis Conti - Prajurit Satu - mengaku mulanya ia tersesat, dan harus mencari kompinya
James Dursi - Prajurit Satu
Allen Boyce - Prajurit Satu
Ronald Grzesik - Prajurit Satu
Robert Maples - Prajurit Satu, mengaku menolak ikut serta
Varnado Simpson - Prajurit Satu, bunuh diri karena rasa berasalah dalam tragedi My Lai
Harry Stanley - mengaku menolak ikut serta
Gary David Roschevitz - tidak diketahui nasibnya
Elmer Haywood - tidak diketahui nasibnya
William Lloyd - tidak diketahui nasibnya
Lenny Lagunuy - tidak diketahui nasibnya
Sidney Kye - tidak diketahui nasibnya
Robert Bergthold - tidak diketahui nasibnya
Robert Mauro - tidak diketahui nasibnya
Robert Lee - tidak diketahui nasibnya
Isaiah Cowan - tidak diketahui nasibnya
Bruce Cox - tidak diketahui nasibnya
Harry Stanley - tidak diketahui nasibnya
Charles Hall - tidak diketahui nasibnya
Roy Wood - tidak diketahui nasibnya
Herbert Carter - tidak diketahui nasibnya
David Mitchell - tidak diketahui nasibnya
Gregory Olsen - tidak diketahui nasibnya
Daniel Simone - tidak diketahui nasibnya

Intervensi

Hugh Thompson, Jr. - Perwira yang diberi kuasa
Lawrence Colburn - Juru tembak di helikopter
Glenn Andreotta - Kepala awak helikopter
Dan Millians - Penerbang evakuasi medis
Brian Livingstone - Penerbang evakuasi medis
Reginald Forsythe - Juru foto tempur

sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:My_Lai_massacre.jpg

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?