SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Pesepeda Pekalongan

| | | 3 komentar
Pukul sembilan malam di Pekalongan, Jawa Tengah. Hujan turun tak berkesudahan. Namun, di jalanan ramai orang bersepeda, satu tangan mereka memegang setang dan satu lagi menggenggam payung. Sebagian lainnya memilih membungkus tubuh mereka dengan mantel hujan.

Lelaki atau perempuan menggunakan sepeda jengki buatan Jepang, lengkap dengan keranjang di depan. Hujan dan panas memang tak menyurutkan warga Pekalongan bersepeda. Pesepeda menyesaki hampir setiap sudut jalan kota. Kebanyakan adalah anak-anak sekolah, pekerja batik, ataupun ibu-ibu yang hendak ke pasar. Sesekali, lelaki bersarung dan berkopiah melintas, juga dengan sepeda jengki Jepang.

Parkiran sekolah, pertokoan, pasar, pelabuhan, hingga warung internet di kota itu disesaki sepeda Jepang aneka merek, mulai dari Miyata, Bridgestone, National, Shamrock, Walker, hingga Levanti, dan masih banyak merek lainnya.

Tanpa inisiasi dari penggiat komunitas sepeda dan juga tanpa jargon bike to work, warga Pekalongan telah biasa bersepeda ke tempat kerja. Demikian pula, ketika kota-kota lain baru mencanangkan sepeda untuk ke sekolah atau populer dengan bike to school, siswa-siswi di kota ini sudah bersepeda ke sekolah.

Pekalongan memang kota yang selalu mencipta sejarahnya sendiri. ”Pekalongan penting dan strategis sejak dulu. Kota ini pernah menjadi lumbung beras pasukan Sultan Agung dari Mataram saat menyerang Belanda di Batavia tahun 1628-1629. Mereka tak mungkin lewat Semarang karena kota itu sudah dikuasai Belanda,” kata Astuti Soekardi, arsitek yang pernah meneliti Kota Pekalongan.

Sejak menjadi kota penting Mataram dan kemudian menjadi bidikan VOC, Pekalongan tumbuh menjadi kota pelabuhan dan perdagangan, yang mempertemukan pendatang dari berbagai bangsa seperti Belanda, China, Arab, India, Melayu, dan terakhir Jepang.

Pernah berjaya sebagai pusat produksi dan perdagangan gula di era Belanda, Pekalongan kemudian tumbuh sebagai pusat perdagangan tekstil dan batik. Jiwa pedagang yang rasional dan pragmatis menjadi napas kota ini.

Demikian halnya kesadaran masyarakat Pekalongan untuk bersepeda, juga didasarkan pada pragmatisme khas pedagang, dibandingkan slogan muluk-muluk. Jika bersepeda lebih sehat, murah, dan nyaman, kenapa mesti dengan kendaraan bermotor yang boros dan lebih mahal?

Gerakan pedagang

Masuknya sepeda Jepang ke Pekalongan terjadi kira-kira awal tahun 1980. Mulanya adalah beberapa pedagang batik asal Pekalongan yang membawa sepeda bekas dari Jepang sepulang berjualan di Jakarta. Sepeda bekas itu dibeli dari anak buah kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sepeda itu mereka beli untuk dipakai sendiri atau untuk dipakai keluarga pedagang batik. Namun, kenalan dan tetangga yang menjajal sepeda Jepang itu mulai terpikat juga. Satu per satu mereka titip dibelikan sepeda yang sama.

”Akhirnya keterusan. Setiap ke Jakarta jualan batik, pulangnya bawa sepeda. Paling banyak lima sepeda,” kata Haji Puradi, salah satu perintis datangnya sepeda bekas Jepang ke Pekalongan.

Gambaran bahwa sepeda Jepang itu enak dipakai dan awet menyebar di kalangan warga Pekalongan. Puradi kemudian menggeluti bisnis sepeda ini secara total. Sekitar tahun 1985, ia dan tiga pedagang sepeda lainnya mulai secara rutin memesan sepeda bekas Jepang dari importir di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ”Biasanya satu bulan satu kontainer. Isinya sekitar 400 sepeda, lalu kami bagi-bagi. Satu pedagang kebagian sekitar 100 sepeda,” kata dia.

Teknologi baru dan model yang unik membuat sepeda bekas Jepang ini diterima masyarakat Pekalongan, yang berjiwa dinamis. Beberapa keunikan itu di antaranya sistem pemindah gigi internal, dinamo dan lampu dengan sistem sensor cahaya, rantai dari bahan karet, serta jeruji roda dari bahan fiberglass.

”Orang-orang Jepang membuat barang terbaik untuk warganya sendiri. Sepeda-sepeda bekas ini awalnya, kan, dibuat untuk mereka sendiri sehingga kualitasnya bagus,” kata Puradi.

Bagi kaum santri Pekalongan, sepeda jengki itu pun dinilai cocok dengan budaya mereka. Karena model sepeda jengki itu memungkinkan para santri dan kiai di Pekalongan mengendarai sepeda dengan berkain sarung.

Walaupun harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan sepeda baru buatan China atau sepeda produksi pabrikan dalam negeri, sepeda bekas Jepang ini tetap lebih diminati. Harga sepeda jengki bekas Jepang yang telah dicat ulang paling murah Rp 950.0000 hingga Rp 2 juta. Bandingkan dengan sepeda sejenis buatan China Rp 750.000 dan sepeda buatan dalam negeri Rp 1 jutaan.

Sepeda jengki bekas asal Jepang itu telah menjadi bagian gaya hidup dan dicap berkualitas tinggi sehingga harga menjadi nomor yang kesekian. Bahkan, sebagian masyarakat Pekalongan yang berjiwa pedagang itu membeli sepeda Jepang juga untuk berinvestasi. ”Karena suatu saat kalau dijual, nilai jualnya tinggi,” kata Istari, pemilik toko sepeda Istari Jaya.

Istari memang tak hendak melebih-lebihkan. Sepeda Jepang ada di setiap sudut kota ini. Hampir setiap keluarga memilikinya, sebagian bahkan punya lebih dari satu.

sumber kompas cetak

Lon Katroh U Aceh, Katroh U Gampong

| | | 0 komentar
Lon katroh u Aceh, katroh u gampong (saya sudah sampai di Aceh, sudah sampai ke kampung halaman)."



Kalimat di atas diucapkan Tengku Muhammad Hasan Ditiro atau Hasan Tiro saat menyapa ribuan masyarakat Aceh yang menanti kedatangannya di Mesjid Raya Banda Aceh, Sabtu (11/10/2008) siang.
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut rentanya. Usianya 83 tahun. Ini adalah perjumpaan pertama Tiro dengan masyarakat Aceh setelah 29 tahun hidup dalam pelarian di luar negeri.
Di senja usianya, Tiro yang memimpin pergerakan melawan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak lagi menginginkan perang. Namun, mulutnya kelu berucap dimakan usia. Pesan untuk masyarakat Aceh yang berkumpul di Mesjid Raya ditulisnya dalam secarik kertas dan dibacakan mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka Malek Mahmud.

"Belum pernah rakyat Aceh dari masa penjajahan mendapat kebebasan seperti ini," demikian ia menulis. "Rakyat mendapat kebebasan setelah adanya perdamaian di Aceh," lanjut dia.
Tiro mengenang, 30 tahun dibelut konflik, Aceh hampir kehilangan segalanya. Betapa mahal biaya yang dikeluarkan selama perang berlangsung. Maka, di masa damai ini, ia meminta kepada semua rakyat Aceh untuk bersama-sama membangun Aceh.
"Biaya perang lebih mahal, biaya memelihara perdamaian juga lebih mahal. Maka dari itu, peliharalah damai untuk kesejahteraan kita semua," pesannya.
Pesan menjaga perdamaian di Mesjid Raya itu tak pernah dicabutnya sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya Kamis (3/6/2010) siang tadi pukul 12.12 di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh. Hasan Tiro meninggal di bumi Nanggroe yang dicintainya.
Pesan itu sekaligus mengubur deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatera yang dibacakannya di Bukit Cokan, di pedalaman Kecamatan Tiro, Pidie, pada 4 Desember 1976. Ia memegang teguh kesepakatan damai antara pemerintah Indonesia dan GAM yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinski, Finlandia.

Tiro wafat sebagai warga negara Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menyerahkan berkas kewarganegaraan Tiro Rabu (2/6/2010) kemarin. Berkas pengakuan kembali sebagai WNI diterima keponakan Tiro, Tengku Fauzi Zainal Abidin, di ruang Intensive Coronary Care Unit (ICCU) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin.
Menurut Djoko, Tiro sudah lama mengajukan keinginannya untuk kembali menjadi WNI. Namun, karena sejumlah persoalan administrasi, berkasnya baru diproses pada tahun 2010 ini.
Sejak tahun 1979 Tiro memegang paspor Swedia. Memegang nomor induk warga negara Swedia 250925-7016, ia tinggal sendiri kamar 0075 Apartemen Alby Blog 11 Norsborg, Stockholm. Di Banda Aceh ia tinggal di rumah kontrakan di kawasan Lamteumen. Tiro sudah pulang ke kampung halamannya. Pulang selamanya.

Gesang, Si Pemilik Kesederhanaan..

| | | 0 komentar
Pernah pada tahun 1997 saya bertemu dengan maestro keroncong Gesang di rumahnya, Jalan Bedoyo Nomor 5, Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo.

Hari masih sore ketika saya yang saat itu bekerja pada sebuah majalah menemuinya. Usianya kala itu sudah 80 tahun, tapi kesegaran masih nampak di wajahnya. Dengan antusias, beliau bercerita banyak tentang masa lalunya yang gemilang saat zaman menjelang kemerdekaan ketika kala itu darinya lahir lagu-lagu abadi yang masih dikenang dan dinyanyikan hingga kini.

Gesang pun lalu menunjuk ke luar rumah saat ditanya, dari mana ide lagu "Bengawan Solo" yang amat populer itu datang. "Ya dari sana itu," katanya kala itu.

Ya, Sungai Bengawan Solo memang tak jauh dari rumah Gesang. Sebuah sungai di Jawa, bahkan di Indonesia, yang paling terkenal di beberapa negara di dunia berbarengan dengan popularitas lagu "Bengawan Solo" ciptaan Gesang.

Musisi dan pengusaha Jaya Suprana mencatat, lagu "Bengawan Solo" tidak cuma terkenal di negara Jepang, sebuah negara yang secara emosional pernah bersinggungan langsung dengan sejarah bangsa Indonesia pada tahun 1942-1945, tetapi juga terkenal hingga ke China dan beberapa negara Eropa.

Pada hari ini, Kamis (20/5/2010), pukul 18.00 WIB, sang komponis besar bangsa ini pergi meninggalkan karya-karya besarnya yang bukan saja telah melambungkan namanya, melainkan juga membuat negeri Indonesia terkenal hingga negeri-negeri yang jauh.

Gesang meninggal setelah menjalani perawatan di Ruang Firdaus 5 RS PKU Muhammadiyah dengan dirawat oleh 3 dokter spesialis, yakni penyakit dalam, neurologi, dan jantung.

Menurut pengakuan keponakan Gesang, Yuniarti, dukungan datang dari salah satu penggemarnya, seorang direktur rumah sakit di China. Tak hanya itu, perkembangan kesehatan Gesang pun diliput oleh stasiun televisi China pada Minggu, 16 Mei 2010. “Mereka menyatakan dukungan kepada Mbah Gesang. Karena mereka begitu menggemari Mbah Gesang yang menciptakan lagu 'Tembok Besar'," kata Yuniarti di Solo, Minggu 16 Mei 2010. Lagu "Tembok Besar" yang diciptakan tahun 1963 itu bercerita tentang Tembok Besar China.

Menurut Yuniarti ke beberapa media, beberapa hari belakangan, kondisi Gesang memang sempat naik-turun. Gesang sendiri selama Februari tahun 2010 sudah tiga kali dilarikan ke rumah sakit. Adapun pada bulan Januari lalu, ia menjalani operasi pengangkatan prostat.

Mengenang Gesang adalah mengenali sosok manusia sederhana. Di rumahnya yang terbilang amat sederhana untuk seorang dengan nama sebesar Gesang, hanya ada sebuah piano tua dan perabotan rumah tangga sederhana serta beberapa piagam yang terpajang di dinding rumahnya.

Seperti orangnya, semua lagu karya Gesang juga sederhana, lagu-lagu yang tumbuh dari kehalusan budi manusia Jawa yang "berasa" Jawa. Itulah sebabnya, rasa lagu-lagu karya Gesang senantiasa berpijak pada laras slendro atau pentatonis, sebuah laras yang kita kenali terdapat pada instrumen gamelan.

Lagu-lagu Gesang mengalir sedemikian rupa tanpa ada ekspektasi ingin dipuji merupakan sebuah keinginan yang kerap melekat pada sejumlah seniman agar tak dibilang bodoh sehingga melahirkan karya-karya yang rumit, yang pada gilirannya justru menjauhkan karya itu dari rasa si senimannya itu sendiri.

Menurut pengusaha Jamu asal Semarang yang juga musisi, Jaya Suprana, karena keluguannya dalam berkarya itulah karya Gesang justru mendunia. "Sebab, substansi karya indah itu adalah sebuah karya yang sederhana," papar Jaya kepada Kompas.com.

Gesang pergi senja tadi. Dan syair dalam lagunya itu pun seperti nujum bagi Sungai Bengawan Solo yang membelah beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebab, pada hari-hari menjelang kepergian Gesang, sungai itu pun masih meluap sampai jauh.

Bayi Ditahan di RSUD Koja

| | | 0 komentar
Sungguh ironis nasib pasangan suami istri Pandi Bangun (40) dengan Sri Wijiyati (35). Setelah 10 tahun berumah tangga tak dikaruniai anak tetapi begitu mereka memiliki momongan, bayinya disandera RSUD Koja, Jakarta Utara. Penyebabnya karena mereka tak memiliki uang untuk biaya persalinan. Pihak rumah sakit tak mengizinkan mereka membawa bayi laki-laki yang baru dilahirkan pada Sabtu (1/5/2010) lalu sebelum menyelesaikan biaya perawatan sebesar Rp 5 juta.

Tidak tahunya nilainya mencapai Rp 5 juta. Padahal, saya hanya punya Rp 1,5 juta.
-- Pandi Bangun

"Saat menjalani perawatan bersalin, pihak rumah sakit tak memberitahukan nilai biaya yang harus dibayarkan untuk operasi caesar. Tidak tahunya nilainya mencapai Rp 5 juta. Padahal, saya hanya punya Rp 1,5 juta dari hasil tabungan. Karena saya tidak sanggup bayar, bayi saya ditahan tak boleh dibawa pulang," ujar Pandi, ayah sang bayi, saat ditemui di kontrakannya di Jalan Tenggiri RT 02 RW 08, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (14/5/2010). Kontrakan berukuran 2,5 x 2,5 meter itu sudah didiami sekian tahun, dengan sewa Rp 250.000 per bulan.
Pandi, yang bekerja sebagai tenaga lepas di sebuah agen minuman mineral, hanya memperoleh honor sebesar Rp 40.000 per hari. Karena penghasilannya yang pas-pasan itulah, ia tak sanggup membayar biaya persalinan anak pertamanya itu. "Penghasilan saya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Saya sudah berupaya menyisihkan selama beberapa bulan untuk biaya persalinan anak sebesar Rp 1,5 juta dan ternyata tagihannya mencapai Rp 5 juta. Dari mana saya mendapat uang sebanyak itu?" tambah pria asal Klaten, Jawa Tengah, ini dengan nada lirih.
Kini istri dan bayinya masih tidak dibolehkan pulang. Mereka masih terbaring di Kamar 305 RSUD Koja. Andai saja biaya administrasi itu sudah dilunasi, Pandi dapat memboyong istri beserta bayinya ke kontrakannya itu.
Pandi mengaku kesulitan mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari RT dan kelurahan setempat karena tidak memiliki surat kependudukan yang jelas, meskipun saat ini ia memiliki KTP DKI yang dikeluarkan dari Kelurahan Sungaibambu. Pandi baru 3 tahun menetap di Jakarta, sebelumnya tinggal di Desa Gilingan, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.
"Setelah musibah gempa tahun 2006 lalu, saya pindah ke Jakarta. Semua surat seperti KTP, KK, termasuk buku nikah hilang dalam musibah itu. Namun, untuk KTP DKI sudah saya buat melalui Kelurahan Sungai Bambu, tapi tak berlaku karena tempat tinggal saya di Kelurahan Tanjung Priok," ungkap Pandi. Bayi laki-laki yang masih merah itu sudah 14 hari berada di RSUD Koja dengan kondisi berat badan 3,4 kg dan panjang 47 cm saat baru lahir. Sejauh ini, kondisi bayi itu dalam keadaan sehat.
Pandi melanjutkan, selama ditahan di RS Koja selalu mendapat tekanan dari pihak rumah sakit melalui perawat. Dengan nada ketus, perawat sering bertanya. "Kok enggak pulang juga Pak, kenapa sih betah banget di sini. Beresin dong administrasi biar cepat pulang," kata Pandi menirukan perkataan beberapa perawat di RS tersebut.
Pada Rabu (12/5/2010) lalu, pihak RSUD Koja mengancam Pandi, jika sebelum pukul 12.00 belum melunasi biaya administrasi, anaknya akan dibawa ke panti sosial. "Pihak rumah sakit mengancam, jika tidak segera melunasi seluruh biaya, sang bayi akan dikirim ke panti sosial," katanya.
Terkait hal tersebut, Ketua LSM Forum Bersama Penggugat (Formagat) Ricardo Hutahaean mengatakan, pihak rumah sakit harusnya membuat surat rekomendasi keterangan tidak mampu ke Dinas Sosial DKI Jakarta. "Sesuai dengan Manlak (Manual Pelaksana) Jamkesmas 2009, biaya itu ditanggung APBN dan selanjutnya rumah sakit menagih kepada Kementerian Kesehatan," jelasnya.
Sedangkan Juru Bicara RSUD Koja, Caroline Kawinda, membantah jika pihaknya telah mempersulit pasien tersebut. Orangtua pasien harus menghadap Direktur RSUD Koja karena keluarga pasien tidak memiliki surat-surat.
"Kita harus verifikasi data lebih dulu. Rumah sakit tidak mudah mengeluarkan keputusan tanpa ada verifikasi. Untuk itu, orangtua pasien harus menghadap direktur dulu untuk verifikasi. Pokoknya semua bisa diselesaikan. Untuk kasus ini, saya akan cek terlebih dahulu ke ruang perawatan dan persalinan bayi," tandas Caroline.



/megapolitan.kompas.com/

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?