SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Dua Abad Perjalanan Para Kuli

| | | 0 komentar
Siapakah yang membangun Batavia? Siapakah yang membangun Kota Jakarta dengan peluh bercucur di bawah matahari yang marah? Mereka adalah orang-orang pantai utara (pantura) Pulau Jawa yang bekerja turun-temurun sebagai penggali tanah, pembersih gorong-gorong dan kali sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels memindahkan pusat kota Batavia dari kawasan Kali Besar ke kawasan Lapangan Banteng tahun 1808. Nasib mereka hingga kini tidak berubah. Tinggal di kolong-kolong jembatan layang, atau berlarian menjemput truk-truk proyek dengan cangkul, blencong, godam, pengki, dan pasak besi.

Kasmadi (56) duduk dibangku panjang, di bawah jembatan layang yang melintas persimpangan Jalan Letnan Jenderal S Parman-Jalan Kyai Tapa-Jalan Daan Mogot-Jalan Satria, Jakarta Barat (Jakbar). Tepatnya di seberang Universitas Trisakti. Sambil mengisap rokok kretek, pria asal Jepara, Jawa Tengah, yang kini menjadi juru parkir itu bercerita tentang pengalamannya merantau di Jakarta sejak 1972.

Ia mengawali hidupnya di Jakarta dengan berdagang makanan keliling. Karena pendapatan yang minim dan tak pasti, ia beralih bekerja menjadi penggali tanah, membuat saluran dan jalan tahun 1981. ”Pangkalannya ya di sini, dari sekitar persimpangan ini sampai Jalan Profesor Latumeten,” ucap Kasmadi.

Menurut dia, kawasan tersebut sejak tahun 70-an sudah menjadi pangkalan utama para pekerja penggali tanah di Jakarta. Kala itu, bila mendapat kerja harian, ia mendapat upah Rp 4.500. Sementara bila mendapat kerja borongan, ia mendapat upah sampai dua kali lipat. Kini upah mereka rata-rata Rp 80.000 sehari saat mendapat pekerjaan harian, sedangkan bila mendapat pekerjaan borongan mendapat Rp 100.000 sehari.

Memasuki era 90-an, Jakarta diwarnai hiruk-pikuk pembangunan jalan dan saluran. ”Setiap hari saya hanya tidur dua jam. Selebihnya mencangkul dan mencangkul,” ujarnya bersemangat.

Ia mengakui, orang-orang Sindang-lah yang merajai dunia para penggali tanah. ”Setiap ada proyek pembangunan saluran dan jalan di Jakarta, pasti ada puluhan orang Sindang di sana. Orang-orang Sindang seperti ditakdirkan hidup sebagai penggali tanah,” kata ayah tiga anak ini.

Orang-orang Sindang adalah orang-orang asal Desa Sindang Laut, Kecamatan Lemah Abang, Cirebon, Jawa Barat. Desa Sindang Laut terbagai dalam lima blok—Blok Manis, Blok Pahing, Blok Wage, Blok Puhun, dan Blok Kliwon. Seperti halnya sebagian orang Cirebon, orang-orang Sindang fasih berbahasa Sunda dan Jawa karena lokasi desa mereka di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah.

Identik

Di Jakarta, orang-orang Sindang sudah lama identik dengan para pekerja penggali tanah, pembersih gorong-gorong dan kali, serta pekerja perbaikan jalan. Itu sebabnya, para pekerja seperti ini disebut sebagai kuli sindang. ”Jadi, walaupun yang jadi penggali tanah bukan orang Sindang, sebutan mereka tetap saja kuli sindang. Saya tidak tahu sejak kapan penggali tanah disebut kuli sindang,” tutur Kasmadi.

Dalam bukunya, Mesjid-mesjid Tua di Jakarta (Jakarta: Yayasan Cipta loka Caraka, 2003), Adolf Heuken SJ menulis, ”Dulu Masjid Luar Batang terletak di sebelah utara tembok kota lama. Lokasi ini sesudah pertengahan abad ke-17 diuruk dan mulai dihuni orang orang Cirebon tahun 1730. Mereka bertugas membersihkan mulut Kali Ciliwung dari lumpur supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan yang letaknya tak jauh dari masjid ini."

Saat dihubungi, Sabtu (28/5/2011), Heuken menambahkan, orang-orang Cirebon itu didatangkan raja Cirebon atas permintaan pemerintah Hindia Belanda. ”Tidak ada catatan apakah orang-orang Cirebon tersebut berasal dari Desa Sindang Laut,” tuturnya. Menurut dia, orang-orang yang didatangkan ini bukan budak, tetapi pekerja karena mendapat upah.

”Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah menjadikan orang-orang Jawa dan Sunda sebagai budak sebab tidak ada perbudakan di kalangan elite Jawa dan Sunda. Yang membangun perbudakan pribumi itu antara lain kalangan elite Bali dan Bugis. Oleh karena itu, budak pribumi, antara lain berasal dari Bali dan Bugis. Orang-orang Belanda membeli para budak Bali dan Bugis dari para raja Bali dan Bugis,” ujar Heuken.

Sejarawan Jakarta, Chandrian Attahiyat, yang dihubungi terpisah, Jumat (27/5/2011), menambahkan, awalnya Batavia dibangun oleh pajak orang-orang China. Dengan pajak tersebut, VOC mengerahkan para pekerja kasar imigran China untuk membangun Batavia. Namun, setelah tahun 1802, nyaris tak ada orang-orang China yang menjadi pekerja kasar. ”Karena kerja keras, ekonomi mereka membaik. Mereka tidak lagi menjadi pekerja kasar, tetapi menjadi pedagang atau perajin,” tuturnya.

Posisi orang-orang China digantikan oleh orang-orang pantura. Mereka awalnya berasal dari Tegal, Brebes, dan Cirebon. ”Kakek saya, Wadjad, yang orang Tegal, menjadi kuli sindang. Tahun 1920 ia ikut membangun Stasiun Tanjung Priok dan satu benteng di Ancol, Jakarta Utara. Waktu saya mengadakan penggalian arkeologis di Pulau Onrust tahun 1985-1990, para penggali mengaku berasal dari Brebes. Mereka mengaku, nenek moyang mereka juga melakukan pekerjaan yang sama di Jakarta,” papar Chandrian.

Ia menjelaskan, tahun 1802 adalah tahun di mana Gubernur Jenderal Daendels memindahkan pusat kota Batavia dari kawasan Kali Besar, Jakarta Barat, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, ke Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. ”Puing bangunan kota lama dihancurkan dan dibawa untuk menguruk wilayah Lapangan Banteng. Mereka yang menghancurkan, membawa puing, menguruk, dan menggali adalah para kuli sindang itu,” ungkapnya.

Menurut dia, kuli sindang sudah sejak lama berdatangan ke Jakarta karena perjalanan bisa ditempuh lewat darat dan laut. ”Mereka awalnya datang ke Jakarta lewat laut, menyusuri pantai. Tetapi, setelah Daendels membangun Jalan Anyer-Panarukan, para kuli sindang lebih suka lewat darat.

”Kala itu kuli sindang datang ke Jakarta mencari pekerjaan sambil menunggu masa panen tiba. Mereka umumnya petani pantai yang masih memiliki sawah. Menjadi kuli sindang adalah pekerjaan sampingan mereka. Memasuki tahun 2000, orang bekerja sebagai kuli sindang karena terimpit kemiskinan akut,” ucap Chandrian.

Memberi harapan

Kembali kepada Kasmadi, sejak bekerja untuk bos asal Sindang Laut tahun 1996, ekonomi rumah tangganya bertambah cerah. Suami seorang perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini mampu membeli dua bidang tanah dan rumah di Wonogiri. ”Saya beruntung bisa bekerja di bawah bos Johny, Endang, Uci, Totok, dan Barja. Kala itu, kelima bersaudara asal Sindang Laut ini merajai dunia kuli sindang,” ungkapnya. Namun, memasuki tahun 2000, Kasmadi kembali melarat karena redupnya pembangunan jalan dan saluran. Ia pun menjadi juru parkir.

Redupnya pembangunan di Jakarta ini juga disampaikan kuli sindang Sumari (70), Sutari (55), Tarjuli (50), Daiman (30), Darso (41), Sukirman (45), Kumaidi (70), Suryanto (55), Parminto (80), dan A'am (31) saat ditemui di kolong jembatan layang ruas Jalan Prof Latumeten, Jakbar, Sabtu (23/4/2011). Mereka berasal dari Jepara dan Brebes, Jawa Tengah. ”Pesaing kami adalah alat-alat berat, para mandor yang membawa orang-orang desanya langsung ke proyek untuk menjadi kuli sindang, serta bertambahnya jumlah kuli sindang di pangkalan ini,” kata Darso.

Meski demikian, mereka tetap bertahan menjadi kuli sindang di Jakarta. ”Yang bisa dikerjakan di kampung cuma membuat anyaman perlengkapan rumah tangga dari bambu. Itu pun sudah sulit dipasarkan karena tersaing produk plastik,” kata A’am. Menurut dia, dengan membuat anyaman, sebulan ia cuma mendapat penghasilan Rp 150.000. Sementara bila bekerja sebagai kuli sindang, ia dan teman-temannya sekurangnya masih mendapat upah Rp 500.000 setiap bulan. Tak heran bila mereka berani bertahan tinggal di kolong jembatan hingga dua bulan menunggu tawaran pekerjaan.

Wakil Ketua Forum Warga Kota Jakarta Ari Subagyo Wibowo yang dihubungi hari Minggu (24/4/2011) mengatakan, meski kesempatan bekerja sebagai kuli sindang kian sulit, jumlah kuli sindang bukan semakin surut, melainkan justru semakin bertambah. Lebih-lebih setelah becak dilarang di Jakarta. Lapangan kerja bagi kaum akar rumput di Jakarta kian sempit. Meski demikian, seperti disampaikan A’am, Jakarta masih lebih memberi harapan mengais rezeki.

Ketimpangan pembangunan

Menurut Ari, kisah kuli sindang mencerminkan ketimpangan pembangunan desa-kota akibat model pembangunan yang terkonsentrasi dan bertumpu pada kegiatan para pemodal besar. Ketimpangan ini membuat kemiskinan makin meluas.

”Solusinya bukan pada aspek pemberdayaan yang berskala mikro, tetapi terutama pada perubahan sistem ekonomi makro dan model pembangunan yang memihak kaum miskin. Selama model pembangunan di Indonesia masih seperti itu, kedatangan kaum urban miskin dari daerah ke kota-kota besar tak bisa dihindari dan ditekan,” ucapnya.

Salah seorang tokoh hak asasi manusia di Indonesia, Salahuddin Wahid (69), mengatakan, kehadiran kuli sindang selama dua abad lebih di Jakarta menunjukkan, ”Ada yang salah dari cara bangsa ini melaksanakan hidup beriman mereka”. Ia mengkritik penyelesaian persoalan kemiskinan dengan cara-cara karitatif atau ritual keagamaan.

”Berzakat itu baik, umrah pun baik, tetapi akan lebih baik bila umat Islam mendengar hadis Nabi yang bunyinya, ’Imanmu belum sempurna bila tetanggamu masih ada yang tak bisa makan’. Saya menafsirkannya, kaum beriman yang benar adalah mereka yang mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan, kebodohan, dan pendidikan bangsanya secara menyeluruh,” kata adik kandung almarhum Abdurrahman Wahid itu saat dihubungi terpisah, Minggu (24/4/2011).

Perbaikan menyeluruh, lanjutnya, hanya bisa dilakukan lewat pendekatan struktural dalam membangun Indonesia. ”Dengan pendekatan seperti ini akan nyata benar apa yang disampaikan Nabi bahwa ’Ibadahmu adalah kerja, dan kerjamu adalah ibadah’. Bekerja produktif, bekerja bersih, jauh dari korupsi,” tutur Salahuddin. (Windoro Adi)


C. Windoro AT.
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/05/30/18465569/Dua.Abad.Perjalanan.Para.Kuli

Soekarno Lahir di Surabaya

| | | 0 komentar
Budayawan asal Blitar, Jawa Timur, Andreas Edison, membenarkan jika Presiden pertama RI, Soekarno, memang lahir di Surabaya, bukan di Blitar.

"Kalau merunut sejarah, memang beliau lahir di Surabaya. Kalau di Blitar, itu karena memang mengikuti orangtua dan untuk menempuh pendidikan," katanya di Blitar, Rabu (1/6/2011).

Ia mengemukakan hal itu dalam menanggapi rencana pemasangan prasasti di rumah kelahiran Soekarno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni mendatang.

Menurut Andreas, sekolah Bung Karno juga bukan hanya di Blitar, melainkan pernah juga di Tulungagung. Saat itu, usianya baru enam tahun.

Ditanya mengapa Bung Karno sampai sekolah di Tulungagung, Andreas yang juga anggota KPU Kota Blitar selama dua periode itu mengatakan, jika saat kecil Bung Karno sering sakit, maka ia dibawa ke kakeknya. Kakeknya yang bernama Hardjodikrama dan tinggal di Tulungagung dikenal mempunyai ilmu kebatinan.

"Setelah dibawa ke rumah kakeknya, dia sempat sembuh, lalu dibawa pulang ke Blitar, lalu sakit lagi. Namun setelah dibawa ke Tulungaung, ia kembali sembuh hingga akhirnya sekolah di tempat itu," katanya.

Ia juga menyebut bahwa umur 12 tahun, Bung Karno juga pindah ke Mojokerto untuk sekolah di lembaga pendidikan milik orang-orang Belanda, setelah lulus angka I (semacam pendidikan dasar), hingga kembali melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS) yang didirikan HOS Tjokroaminoto.

"Bung Karno juga pernah sekolah di Surabaya saat menempuh pendidikan semacam sekolah menengah atas (SMA) dan kontrak di rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya," katanya.

Oleh karena itu, ia mendukung rencana Peter A Rohi, Ketua Umum Soekarno Institute, yang akan memasang prasasti di rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya.

"Soekarno itu dibuatkan patung di mana saja tetap layak karena memang bumi Bung Karno itu milik Indonesia. Di Bengkulu juga punya, apalagi di Surabaya," katanya.

Pihaknya tidak khawatir jika rencana pembuatan prasasti itu berpengaruh pada turunnya jumlah wisatawan di Blitar. Ia menyebut, Blitar tetap akan menjadi bagian dari Bung Karno karena makamnya ada di Blitar.

Sebuah prasasti akan dipasang di rumah kelahiran Presiden pertama Indonesia tersebut pada 6 Juni mendatang. Jalan yang sekarang berubah menjadi Jalan Pandean IV/40, Surabaya, tersebut semula merupakan rumah kontrakan keluarga Bung Karno dengan nama Jalan Lawang Seketeng.

Rencana pemasangan prasasti oleh Soekarno Institute sengaja digelar pada 6 Juni 2011 karena disamakan dengan tanggal kelahiran Soekarno, yakni 6 Juni 1901.


Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/06/02/02382730/Budayawan.Soekarno.Lahir.di.Surabaya

Sadis, Lempar Perempuan dari Pesawat Terbang

| | | 0 komentar
Pengadilan Argentina menjatuhkan hukuman kepada tiga mantan pejabat militer atas tuduhan pembunuhan sadis terhadap lima perempuan selama 'Perang Kotor' di negara itu. Pembunuhan dilakukan dengan melempar para perempuan yang masih hidup dari pesawat yang tengah mengudara.

'Perang Kotor' mengacu pada pembersihan terhadap warga negara pembangkang yang dilakukan pemerintahan militer Argentina antara 1976 dan 1983.

Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan pengadilan, para terdakwa dituduh terlibat dalam sejumlah 'penerbangan maut'. Hakim Sergio Torres telah menjatuhkan hukuman penjara kepada ketiga terdakwa sekaligus membekukan asetnya.

Mereka yang menjadi korban pembunuhan antara lain, seorang biarawati asal Prancis, Suster Leonie Duquet, dan empat perempuan yang tergabung dalam 'Ibu-ibu dari Plaza de Mayo', kelompok pejuang hak asasi manusia yang didirikan para perempuan keluarga korban pembunuhan atau korban hilang selama kediktatoran militer.

Rezim militer menculik Duquet dan biarawati lain asal Prancis, Alice Domon, pada Desember 1977. Dalam operasi yang sama, mereka juga menculik 10 perempuan anggota kelompok Plaza de Mayo, termasuk sang pendiri, Azucena Villaflor.

Terkubur sejak 1978, sisa-sisa jasad Duquet, Villaflor dan tiga perempuan lain, teridentifikasi pada 2005. Sementara itu, jasad Domon tidak pernah ditemukan.

Kelompok hak asasi manusia setempat mengatakan bahwa ratusan korban era kediktatoran militer dibunuh dengan cara dilempar hidup-hidup ke laut dari pesawat yang sedang mengangkasa. Sementara itu, 5.000 lainnya juga dibunuh dan disiksa di Sekolah Mekanik Angkatan Laut the Naval Mechanics School (ESMA).

Pengusutan kasus kejahatan perang di masa lampau itu telah dimulai sejak awal 2009 dan diharapkan akan berakhir pada beberapa bulan ke depan.

Salah satu yang tengah menghadapi dakwaan pengadilan adalah Alfredo Astiz. Pria 59 tahun yang memiliki julukan 'Malaikat Maut' ini dituduh bertanggung jawab atas kematian Duquet dan Domon. Saat perang, ia bertugas menyusup ke kelompok Plaza de Mayo untuk memilih target yang akan diculik.

Berdasar data pemerintah setempat, sedikitnya 9.000 orang diculik, disiksa dan dibunuh dalam apa yang dikenal sebagai 'perang kotor' di Argentina. Namun, sejumlah aktivis percaya jumlah korban mencapai 30 ribu orang. (art)

www.vivanews.com
http://dunia.vivanews.com/news/read/224433-sadis--lempar-wanita-dari-pesawat-terbang

Hamza, Bocah 13 Tahun yang Jadi Martir Suriah

| | | 0 komentar
Foto Hamza menunjukkan raut wajah yang lembut, tanpa dosa, pipinya tembem. Namun, meski sudah dimandikan dan ditaburi kelopak bunga mawar, tanda-tanda kekerasaan tidak bisa disembunyikan di tubuhnya.

Peluru menembus badannya, lehernya patah, lututnya lepas dan alat vitalnya dimutilasi. Anak itu bernama Hamza Ali al-Khateeb, 13 tahun. Ia tewas sebagai martir.

Hamza adalah korban termuda penindasan kejam tentara Suriah terhadap para demonstran yang mencoba menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Keluarganya belum mau berkomentar soal nasib tragisnya, namun, mereka mengunggah rekaman mayatnya di situs YouTube, lengkap dengan keterangan detil luka-luka mengerikan di tubuhnya. Karena itulah, ayah Hamza ditahan aparat Minggu lalu. Hingga kini keberadaannya belum diketahui.

Dalam video tersebut ditunjukkan, dua peluru menembus dua lengan Hamza sampai dada. "Lihat bukti-bukti kekejaman ini, kata narator video itu. "Lihat memar di wajahnya."

Hamza ditangkap aparat dalam sebuah aksi protes di Jiza, sebuah desa di provinsi yang membangkang, Dar'a di Suriah, 29 April 2011 lalu. Selama berbulan-bulan keluarganya menunggu dia pulang, sembari dilanda kecemasan, nasib apa yang akan menimpanya.

Hamza akhirnya pulang. Tanpa nyawa. Keluarganya makin miris melihat tubuhnya yang rusak -- bukti kekejaman yang dialaminya. Di tengah luka-luka sundutan rokok, terlihat juga dua luka akibat tertembus peluru. Namun, tak pasti apa yang membuat nyawanya melayang.

Tak hanya keluarganya yang berduka, masyarakat pun terluka. Tak heran, jika kemudian bocah ini menjadi simbol kuat pemberontakan di Suriah.

Ribuan pengunjuk rasa yang turun ke jalan Kota Damaskus yang sebelumnya dilumuri darah, meneriakkan namanya. Sementara, anak-anak di Aleppo memanjat atap-atap rumah untuk merayakan 'Hari Hamza'.

Tak hanya itu, di Kota Hama, 116 mil dari ibu kota, kerumunan besar demonstran memadati alun-alun utama kota, membawa foto Hamza.

Video kematian Hamza yang menyebar di internet dan kemudian disiarkan di stasiun televisi, Al Jazeera -- membuat kemarahan rakyat Suriah makin bergolak.

Di laman jejaring sosial, muncul grup 'We are all Hamza Ali al-Khateeb, the Child Martyr' atau 'Kami Semua adalah Hamza Ali al-Khateeb, Bocah yang Menjadi Martir'. Grup ini sudah menjaring 58.000 pendukung, sementara versi Bahasa Inggrisnya meraup 3.000 pendukung.

Radwan Ziade, aktivis hak asasi manusia yang kini hidup dalam pelarian mengatakan pada Washington Post, Hamza adalah simbol Revolusi Suriah. "Kematiannya adalah tanda kekejaman sadistis rezim Assad dan aparatnya," kata dia.

"Kekejaman, penyiksaan, adalah hal yang biasa di Suriah. Ini bukan hal baru atau aneh. Tapi yang membuat Hamza spesial, ia tewas mengenaskan di usia 13 tahun. Ia masih anak-anak."

Gejolak penggulingan President Bashar al-Assad kini memasuki minggu ketujuh. Jurnalis asing dilarang keras masuk ke negara itu. (Daily Mail, umi)

www.vivanews.com
http://dunia.vivanews.com/news/read/223952-hamza--bocah-13-tahun-yang-jadi-martir-suriah

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?