SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Pluit, Garda Depan Benteng Vijhoek

| | | 0 komentar
Bagi warga Jakarta, siapa yang tidak mengenal Pluit? Pluit yang terletak di utara Jakarta ini kini dikenal sebagai kawasan hunian papan atas bagi masyarakat Jakarta.

Ini terlihat dari banyaknya pemukiman elit di wilayah ini serta keberadaan mal megah yang menghias seantero kawasan yang berdekatan dengan teluk Jakarta ini. Namun, tahukah anda asal mula kawasan ini dinamakan Pluit?

Peta Topographish Bureau Batavia tahun 1903 menjelaskan kawasan di sebelah utara Jakarta ini sejak dahulu memang sudah dikenal dengan nama Pluit atau Fluit. Jika mengacu pada kamus Belanda, Fluit bisa diartikan sebagai suling atau pluit wasit pertandingan.

Atau dapat juga diartikan sebagai roti panjang sempit. Namun, rupanya sejarah nama Pluit tidak ada hubungannya dengan suling, pluit wasit maupun roti panjang.

Menurut sejarawan Betawi, Alwi Shahab, sejarah penamaan Pluit bermula saat pasukan Belanda menggunakan sebuah kapal rusak untuk menghambat pasukan kesultanan Banten yang menyerang dari arah barat Jakarta.

"Pada tahun 1660, di pantai timur Muara Kali Angke diletakkan Fluitship (kapal lurus panjang) bernama Het Witte Paert yang sudah tidak laik untuk dipakai melaut" ungkap Alwi dalam catatannya.

Kemudian, kapal rusak tersebut diijadikan kubu pertahanan untuk membantu benteng Vijhoek yang terletak di pinggir kali Grogol sebelah timur kali Angke dalam rangka menanggulangi serangan-serangan sporadis yang dilakukan pasukan kesultanan Banten selama bertahun-tahun.

Kubu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan De Fluit oleh masyarakat setempat. Dan lambat laun dengan berlalunya waktu, penyebutan Fluit pun berubah menjadi Pluit.

Kini setelah masa kemerdekaan, jejak keberadaan kapal rusak yang dijadikan kubu pertahanan itu pun sudah tidak terlihat. Begitu pula dengan keberadaan Benteng Vijhoek yang sudah tudak tersisa.

Di sepanjang sisi aliran kali Grogol kini dipasangi pagar besi. Sejumlah jalan layang (fly over) pun menghiasi kawasan ini.
Kelurahan Pluit yang saat ini termasuk dalam bagian wilayah kecamatan Penjaringan telah berkembang pesat.

Pluit saat ini diisi oleh beragam perumahan elite dan mewah seperti Perumahan Pluit, Muara Karang, Pantai Mutiara. "Kebanyakan, penghuni perumahan di Pluit diisi oleh warga Jakarta turunan Tionghoa yang sukses menjadi pedagang Glodok" ujar seorang warga Pluit, Kimin beberapa waktu lalu.

Kimin yang menetap di Pluit sejak tahun 1970 ini mengungkapkan keturunan warga Betawi di Pluit tidak terlalu mengakar kuat seperti kawasan Jakarta lainnya di Kemang ataupun Kebayoran Baru. "Di sini rata-rata pendatang yang berdagang" ujar Kimin."

Selain perumahan elit, kini kawasan Pluit yang berbatasan dengan Teluk Jakarta di sebelah utara, kelurahan Penjaringan di sebelah Barat, kelurahan Kapuk di sebelah timur dan kelurahan Penjaringan di sebelah Barat juga dikenal dengan keberadaan Mal besar seperti Carrefour dan Pluit Village.

Pluit juga dikenal dengan sajian beragam makanan daerah, khususnya Tinghoa khas Sumatera Utara. Cepatnya perkembangan kawasan Pluit, karena wilayah ini termasuk sebagai kawasan startegis. Keberadaan Pluit berdekatan dengan pusat perdagangan Glodok dan Bandara Internasional Soekarno Hatta.
• VIVAnews

Melongok Masjid Pangeran Jayakarta

| | | 0 komentar
Kumandang adzan menggema dari Masjid As-Salafiyah bersamaan dengan terik mentari yang berada tepat di atas kepala. Ini adalah salah satu masjid tertua di Jakarta.

Masjid yang berada di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, ini merupakan masjid bersejarah yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan berusia lebih dari empat abad.

Konon, keberadaan Masjid ini tidak lepas dari nama Pangeran Achmad Djakerta (Pengeran Jayakarta), yang makamnya ada di sebelah masjid. Berdasarkan catatan sejarah, keberadaan masjid tersebut bermula ketika VOC menaklukkan Jayakarta (Mei 1619).

Saat itu JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur.

Karena terdesak Pangeran Achmad Djakerta (Pangeran Jayakarta) dan pasukannya bergerak mundur ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan.

Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua. Ini untuk mengelabui VOC yang akan mengira Pangeran Jayakarta telah tewas ke dalam sumur tua itu.

Benar saja, pasukan Belanda meyakinkan kalau sang pengeran telah masuk sumur dan meninggal dunia. Mereka kemudian menghentikan pengejaran dan menimbun sumur dengan tanah.

Pada keadaan lain, situasi tidak memungkinkan bagi Pangeran Jayakarta dan sisa pengikutnya untuk kembali, mereka memutuskan untuk berjalan terus ke selatan.

Sampailah mereka pada sebuah hutan jati di tepi Kali Sunter yang membelah hutan, yang kemudian dikenal daerah Jatinegara Kaum, dan memutuskan untuk tinggal.

Permulaan tahun 1620, Pangeran Jayakarta kemudian membangun masjid dekat Kali Sunter. Kegunaan masjid ini untuk menggalang kekuatan kembali.

Sebelum bernama Masjid As-Salafiyah, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta. Puluhan ulama, tokoh masyarakat dan jawara seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

VIVAnews bertemu dengan Oyon Suhendar, saat berkunjung ke Masjid As-Salafiyah, Senin 16 Agustus 2010. Menurut keterangan Oyon, masjid ini merupakan markas para gerilyawan melawan Belanda.

Hingga kini, Masjid As-Salfiyah telah mengalami delapan kali renovasi. Empat tiang utama dari kayu jati yang menjadi penyangga masjid merupakan penyangga aslinya.

Selain itu, disisi samping kiri masjid terlihat makam utama Pangeran Achmad Djakerta dan kerabat serta pengikutnya yang berada di dalam sebuah pendopo.

Makam Pangeran Jayakarta dan pengikutnya baru baru diumumkan pada 1956 bertepatan dengan HUT DKI ke-429. Hal itu dirasaikan sampai penjajah pergi. Karena sebelumnya selalu dirahasiakan.

"Masjid ini melambangkan pengorbanan semangat jihad Pangeran Achmad Djakerta untuk merebut Jayakarta dari penjajah," katanya.

Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya ini. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang VOC, Jatinegara Kaum kembali memegang peran penting sebagai pos terdepan.
Hal yang sama juga terjadi ketika balatentara Mataram melakukan dua kali penyergapan ke Batavia (1628 dan 1629). "Tepatnya tahun 1700 Pengeran Achmad Djakerta akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping Masjid," ujar Oyon.

Tercatat beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang dan tak diketahui dimana rimbanya. Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid.

Seperti nasib masjid tua lainnya, As-Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya.

Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya, tampaknya ukuran asli As-Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya.

Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di sisi selatan, barat, dan utara. "Biasanya jika ziarah dilakukan saat malam hari, namun khusus bulan Ramadhan ziarah tidak dilakukan pada malam hari," ungkapnya. Ia pun mengatakan, para penziarah umumnya memanjatkan doa serta meminta banyak keinginan agar terkabul.
• VIVAnews

3.000 Tewas di 'Kota Mati' Meksiko

| | | 0 komentar
Pembunuhan kebanyakan dilakukan oleh para anggota kartel terhadap para pesaingnya.

Lebih dari 3.000 orang tewas akibat baku tembak atau pembunuhan di kota Ciuda Juarez, Meksiko, sepanjang tahun 2010. Angka kematian ini terus bertambah dari tahun ke tahun menyusul tekad pemerintah untuk memberantas gembong perdagangan obat bius.

Menurut laporan pemerintah Meksiko seperti dilansir dari laman Associated Press, Sabtu 1 Januari 2011, sebanyak 3.111 orang tewas pada tahun 2010 di kota yang berbatasan dengan Texas, Amerika Serikat ini.

Angka pembunuhan tinggi di kota ini dimulai sejak bentrokan antara dua geng pengedar obat bius, Juarez dan Siloa, pecah pada 2008 yang menewaskan 1.587 orang. Angka pembunuhan terus meningkat pada 2009 dengan 2.643 orang tewas.

Menurut laporan juru bicara pengadilan Chihuahua, Arturo Sandoval, bulan paling berdarah di 2010 adalah Oktober dengan 359 orang tewas. Angka pembunuhan mulai meningkat di kota ini sejak Presiden Meksiko, Felipe Calderon, mencanangkan perang terbuka terhadap para kartel obat bius sejak pelantikannya Desember 2006 lalu.

Melihat angka pembunuhan yang besar ini, maka pantaslah jika Dewan Kota untuk Keamanan Publik, sebuah NGO Meksiko, mendaulat kota ini sebagai kota paling mematikan di dunia pada 2009. Peringkat ini masih terus dipegang oleh kota ini.

Pembunuhan kebanyakan dilakukan oleh para anggota kartel terhadap para pesaingnya ataupun polisi dan wartawan. Namun tidak jarang pula, anggota kartel ini membunuh secara acak dengan menembakkan peluru dengan membabi buta.

Akibat banyaknya pembunuhan di kota ini, warga kota yang menjadi korban memilih untuk hengkang dari medan pertempuran. Dilaporkan sekitar 200.000 orang dari 1,4 juta penduduk kota meninggalkan Ciuda Juarez. Mereka eksodus berbondong-bondong ke kota yang mereka anggap lebih aman dari pembunuhan dan pemerasan anggota geng. (sj)
• VIVAnews

Rakyat Kelaparan, Korut Bangun Vila Mewah

| | | 0 komentar
Pewaris kepemimpinan Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, membangun sebuah rumah dan tempat peristirahatan mewah di beberapa kota di negara itu. Pembangunan yang memakan biaya lebih dari US$150 juta atau sekitar Rp1,3 triliun ini dinilai bertolak belakang dengan keadaan rakyat Korut yang kelaparan.

Menurut laporan intelijen dan pantauan satelit Korea Selatan (Korsel), yang dilansir dari laman The Telegraph, Sabtu 1 Januari 2011, pembangunan dilakukan untuk mengimbangi peran besar yang akan diemban putra pemimpin Korut, Kim Jong-il di masa depan.

Jenderal termuda ini dikabarkan akan segera menggantikan ayahnya memimpin negara komunis Korut. Pembangunan dilakukan di kediaman Jong-un di Pyongyang dan di provinsi Hamgyong yang rencananya akan dibangun sebuah vila baru.

Dilaporkan, para warga setempat dipaksa untuk membantu pengerjaan rel kereta api dan jalan yang mengarah ke vila yang terletak di pusat mata air panas alami itu.

Intelijen Korsel juga melaporkan bahwa Korut juga tengah membangun sebuah galeri sedalam 90 meter di bawah laut, yang menampilkan kehidupan makhluk air di perairan dekat kota Songdown.

Korsel mengatakan bahwa pembangunan ini menambah jumlah vila mewah milik pemimpin Kim Jong-il yang kini mencapai sedikitnya 33 vila di seluruh negeri. Bahkan untuk menuju vila ini, Jong-il memiliki kereta dan stasiun pribadi.

Pembangunan yang bernilai triliunan rupiah itu dinilai tidak sesuai dengan keadaan rakyat Korut yang kelaparan. World Food Programme (WFP), Badan Pangan Dunia pada November melaporkan bahwa rasio makanan publik hanya memenuhi kebutuhan 68 persen penduduk Korut.

WFP mengatakan, sepertiga anak di Korut kekurangan gizi. Ibu hamil dan menyusui juga tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi mereka.

Hal ini jugalah yang membuat banyak warga Korut memilih hengkang dan desersi ke negara jiran serumpunnya, Korea Selatan. Korsel bahkan memberikan insentif dan penghargaan bagi warga Korut yang desersi.

Sejak tahun 1989 hingga 2009, telah lebih dari 14.000 orang yang memilih kabur ke Korsel. Tahun lalu, lebih dari 2000 orang memasuki Korsel melalui berbagai cara dan meminta kewarganegaraan.
• VIVAnews

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?