SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Menggali Misteri Aztec

| | | 0 komentar
Penggalian sebuah piramida keramat menguak misteri upacara ritual kerajaan yang bersimbah darah--namun, sejauh ini tidak ada petunjuk tentang sang raja yang sangat ditakuti.

Oleh ROBERT DRAPER
Foto oleh KENNETH GARRETT dan JESUS LOPEZ

Di tepi plaza Zocalo yang terkenal di Mexico City, di samping reruntuhan piramida keramat Aztec yang dikenal sebagai Templo Mayor, ditemukan sisa-sisa seekor binatang--mungkin anjing atau serigala. Binatang itu sudah mati 500 tahun yang lalu dan berada dalam sebuah lubang yang dindingnya dilapisi batu sedalam dua setengah meter. Mungkin sekali binatang itu tak bernama, dan tidak ada pemiliknya. Namun, anjing tak bernama itu tampak jelas memiliki arti bagi seseorang. Lehernya dikalungi manik-manik zamrud, sementara di telinganya terdapat sumbat berwarna hijau-biru. Dari mata kakinya bergelantungan gelang berhiaskan lonceng kecil-kecil yang terbuat dari emas murni.

Tim arkeologi yang dipimpin oleh Leonardo Lopez Lujan menggali binatang yang dijuluki Aristo-Canine (anjing bangsawan) itu pada musim panas 2008, dua tahun setelah proses penggalian dimulai pada saat ditemukan benda mencengangkan ketika tengah dilakukan pemasangan fondasi sebuah bangunan baru. Benda itu adalah monolit segi empat seberat 12 ton yang terbuat dari batu andesit berwarna agak merah muda, yang pecah menjadi empat keping batu besar, menampilkan kemiripan yang memukau dan menggentarkan hati dengan dewi bumi Tlaltecuhtli--lambang daur kehidupan dan kematian yang diyakini bangsa Aztec. Sosok dewi itu dalam posisi berjongkok untuk melahirkan sambil meminum darahnya sendiri, melahap ciptaannya sendiri. Ini adalah monolit datar Aztec ketiga yang ditemukan secara kebetulan di wilayah Templo Mayor. Selain itu, ditemukan juga Batu Matahari basal hitam seberat 24 ton (digali pada tahun 1790) dan Cakram Coyolxauhqui, dewi bulan seberat 8 ton (1978).

Setelah bertahun-tahun melakukan penggalian yang sangat melelahkan, di dalam sebuah lubang yang dalam di samping monolit itu Lopez Lujan dan anak buahnya menemukan beberapa benda persembahan Aztec yang sangat eksotis. Setelah melepaskan tambalan plester di lantai plaza, para penggali menemukan 21 pisau kurban dari batu api putih yang dicat merah: gigi dan gusi monster bumi Aztec, mulutnya terbuka lebar untuk menerima persembahan. Mereka menggali lebih dalam dan menemukan buntalan yang dibungkus dengan daun agave. Isinya berbagai macam alat pelubang kurban yang terbuat dari tulang jaguar, yang digunakan oleh pendeta Aztec untuk menumpahkan darah mereka sendiri sebagai persembahan untuk para dewa. Di samping alat pelubang itu tampak beberapa batang kopal--dupa pendeta, alat lain untuk menyucikan jiwa. Alat pelubang dan dupa itu dengan cermat disusun di dalam buntalan, bersama beberapa helai bulu burung dan manik-manik zamrud.

Lopez Lujan tercengang ketika mendapati bahwa beberapa meter di bawah buntalan ini terdapat persembahan kedua yang berada di dalam sebuah kotak batu. Isinya kerangka dua ekor elang emas--lambang matahari--yang tubuhnya menghadap ke arah barat. Di sekeliling burung itu terdapat 27 pisau kurban, 24 di antaranya dihiasi bulu binatang dan kain, seperti boneka berpakaian compang-camping, melambangkan sosok suci yang berkaitan dengan matahari yang sedang terbenam. Pada Januari yang lalu, tim itu berhasil menemukan enam persembahan di dalam lubang--yang terakhir terkubur sedalam tujuh meter di bawah permukaan jalan. Isinya guci keramik yang dipenuhi 310 manik-manik batu hijau, sumbat telinga, dan boneka perempuan. Penempatan setiap benda galian itu tampaknya diatur dengan pola yang cermat, yang menciptakan kembali seluruh kosmologi Kerajaan Aztec.

Di bagian terbawah kotak persembahan kedualah Lopez Lujan menemukan binatang yang dihias dengan teliti itu. Permukaan tubuhnya ditutupi kulit kerang dan sisa-sisa kepiting, ketam, dan siput--makhluk hidup yang dibawa ke lokasi ini dari Teluk Meksiko, serta dari Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik. Dalam kosmologi Aztec, menurut Lopez Lujan, tampilan ini menyiratkan lapisan pertama alam baka, dan si anjing bertugas memandu roh tuannya menyeberangi sungai yang berbahaya.

Tetapi, roh manusia yang mana? Sejak penaklukan Meksiko pada tahun 1521 oleh Hernan Contes dari Spanyol, belum pernah ditemukan sisa-sisa jenazah raja Aztec. Meskipun demikian, catatan sejarah mengatakan bahwa tiga orang penguasa Aztec telah dikremasi dan abu mereka dikuburkan di kaki Templo Mayor. Ketika monolit Tlaltecuhtli ditemukan, Lopez Lujan mengamati bahwa dewi yang ditampilkan itu mencengkeram seekor kelinci, yang menampilkan sepuluh titik di atasnya, di kaki kanannya yang bercakar. Dalam sistem penulisan Aztec, 10-Kelinci adalah tahun 1502. Menurut catatan dari masa tersebut, pada tahun itu berlangsung pemakaman penguasa kerajaan yang paling ditakuti, Ahuitzolt, dengan upacara megah.

Lopez Lujan yakin bahwa tempat pemakaman Ahuitzolt berada di dekat tempat ditemukannya monolit. Jika dugaannya benar, Aristo-Canine mungkin pemandu terselubung menuju masyarakat mistik yang kita kenal sebagai bangsa Aztec, namun yang menyebut diri mereka sendiri sebagai bangsa Mexica, yang warisannya membentuk inti identitas bangsa Meksiko. Jika Lopez Lujan menemukan makam Ahuitzolt, temuan itu akan merupakan puncak dari pencarian luar biasa selama 32 tahun tentang kerajaan yang paling sarat misteri dan paling disalahtafsirkan di Belahan Dunia Barat.

"Masa lalu dapat ditemukan di masa kini di seluruh penjuru Meksiko," kata Lopez Lujan. Hal ini khususnya benar tentang Kerajaan Aztec, yang hampir seluruhnya terdapat di bawah jejak kaki bangsa yang modern.

Tidak seperti suku Maya, peradaban pra-Columbia lainnya di Mesoamerika, bangsa Aztec secara eksklusif diidentifikasikan dengan Meksiko, dan dewasa ini bangsa Meksiko bangga akan hubungan mereka dengan masa lalu Aztec. Di tengah bendera Meksiko tampak elang Aztec, yang juga tercantum pada logo kedua maskapai penerbangan nasional. Dikenal pula Banco Azteca dan TV Azteca, dan tim sepak bola nasional mengenakan seragam yang menampilkan burung elang dan memainkan pertandingan kandang di Estadio Azteca. Dan tentu saja Mexico City--pusat kegiatan seluruh negara--merupakan penghormatan secara tersirat terhadap negara-kota Tenochtitlan dan terhadap keperkasaan bangsa Aztec.

Namun, memandang bangsa Aztec hanya dari sudut pandang keperkasaannya saja sungguh menyesatkan. Pertama-tama, bangsa Aztec yang perkasa itu hanya sanggup mempertahankan kerajaan mereka--persekutuan tiga negara-kota Tenochtitlan, Texcoco, dan Tlacopan--selama kurang dari satu abad, sebelum akhirnya diporakporandakan oleh para penakluk dari Eropa. Meskipun para penakluk itu menanamkan perasaan ketakutan dan kebencian di wilayah yang mereka taklukkan, dominasi mereka hanya berlangsung singkat. Mereka tidak membangun kuil dan menyebarkan tradisi budaya ke seluruh negeri seperti yang dilakukan bangsa Romawi purba atau suku Inca. Sebaliknya, bangsa Aztec berhasil mempertahankan sesuatu yang oleh para ilmuwan disebut "kerajaan murah," dan di wilayah ini, penduduk yang ditaklukkan diperbolehkan terus memimpin, asalkan mereka memberikan upeti--sarana perlindungan yang dipertegas oleh pamer kekuasaan secara berkala. Bangsa Aztec memilih untuk mengungkapkan kepiawaian mereka terutama di pusat kota Tenochtitlan. Namun, kota hebat itu dalam banyak hal ibarat museum yang menyimpan adat kebiasaan, berbagai citra, dan praktik spiritual yang dipinjam dari peradaban sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh ayah Lopez Lujan, ilmuwan Mesoamerika Lopez Austin, "Kesalahpahaman yang paling lazim adalah bahwa Aztec dianggap sebagai budaya yang benar-benar asli, padahal tidak."

Akan tetapi, gambaran kasar tentang bangsa Aztec yang haus darah adalah gambaran yang juga menyesatkan. Begitu menjijikkannya pernyataan bangsa Spanyol sang penakluk dalam menggambarkan sikap haus darah bangsa Mexica--misalnya, dikatakan bahwa 80.400 orang dibantai dalam satu kali upacara persembahan di kuil, jumlah yang sama dengan sebagian besar penduduk wilayah Meksiko Tengah--sehingga beberapa kelompok masyarakat dewasa ini merasa benar jika menepiskan anggapan bahwa cerita tentang persembahan itu adalah rekayasa bangsa Eropa saja. Namun, pandangan ini juga berlebihan. Uji kimia selama 15 tahun terakhir terhadap permukaan berpori di seluruh Mexico City mengungkapkan "jejak darah ada di mana-mana," kata Lopez Lujan. "Ditemukan batu kurban, pisau kurban, jasad 127 kurban--kita tidak bisa menyangkal adanya persembahan berupa manusia."

Tetapi, dengan cepat dia menambahkan bahwa kita bisa menemukan persembahan berupa manusia di banyak tempat di masyarakat purba. Suku Maya dan beberapa masyarakat sebelum era Aztec juga melaksanakan adat kebiasaan ini. "Ini bukan menunjukkan keganasan suatu masyarakat, melainkan suatu zaman--atmosfer mirip perang ketika agama di masa itu menuntut agar manusia dipersembahkan untuk memulihkan kembali para dewa," begitu hasil pengamatan Lopez Austin.

Kerajaan itu dimulai dari nol. Bangsa Aztec yang pertama, atau bangsa Mexica, konon bermigrasi dari utara--dari Aztlan, meskipun tanah air leluhur ini belum pernah ditemukan dan mungkin hanya legenda belaka. Mereka berbicara dalam bahasa Nahuatl yang digunakan oleh bangsa Toltec yang hebat, yang dominasinya di seluruh Meksiko Tengah berakhir pada abad ke-12. Namun, bahasa adalah satu-satunya yang membuat bangsa Mexica hebat. Mereka berkali-kali terusir dari beberapa permukiman di Cekungan Meksiko dan akhirnya terdampar di sebuah pulau di Danau Texcoco, pulau yang tidak seorang pun menginginkannya, yang pada tahun 1325 diproklamirkan sebagai Tenochtitlan. Karena hampir menyerupai rawa, Tenochtitlan tidak memiliki air yang bisa diminum, serta tidak punya batu dan kayu untuk membangun. Namun, penghuninya yang compang-camping, meskipun "hampir benar-benar tidak berbudaya," sebagaimana dikatakan oleh ilmuwan terkenal Miguel Leon-Portilla, mengimbanginya dengan sesuatu yang diistilahkannya "semangat tak kenal padam."

Para pemukim ini mulai menggali reruntuhan negara-kota Teotihuacan dan Tula yang pernah sangat hebat. Semua yang mereka lihat, mereka gunakan. Pada tahun 1430, Tenochtitlan tumbuh menjadi lebih besar daripada kedua kota tadi, urugan tanah dan saluran air yang menakjubkan, dipisahkan oleh kanal dan pematang menjadi empat kuadran yang semuanya mengitari pusat piramida bertangga-ganda dengan kuil kembar di puncaknya. Tidak satu pun dari perkembangan ini benar-benar asli, dan di situlah titik penghubungnya. Bangsa Mexica mencari jalan untuk menjalin hubungan leluhurnya dengan kerajaan masa lalu--terutama melalui berbagai upaya Tlacaelel, penasihat kerajaan yang bisa saja membual bahwa "tidak seorang pun raja masa lalu bertindak tanpa meminta pendapat atau bimbinganku." Pada paruh pertama abad ke-15, Tlacaelel memperkenalkan versi baru sejarah bangsa Mexica, yang menegaskan bahwa rakyatnya adalah keturunan Toltec yang perkasa dan memasukkan Huitzilopochtli--dewa matahari dan perang yang menjadi panutan mereka--ke dalam kelompok para dewa Toltec yang agung. Penasihat kerajaan itu melangkah lebih jauh lagi. Sebagaimana yang ditulis oleh Miguel Leon-Portilla, Tlacaelel menggariskan takdir kebangsawanan mereka sebagai "penakluk semua bangsa… menangkap kurban untuk dipersembahkan, sebab sumber segala kehidupan, yakni matahari, pasti padam seandainya tidak diloloh dengan darah manusia."

Begitulah, sang pendatang baru yang dicaci dari utara itu menapaki tangga kemuliaan. Mereka menaklukkan kota demi kota di Cekungan Meksiko. Di bawah pemerintahan Moctezuma I, pada akhir tahun 1440-an, bangsa Mexica dan sekutu mereka bergerak dengan mantap menjelajahi lebih dari 300 kilometer untuk meluaskan kerajaan ke selatan ke negara bagian yang dewasa ini dikenal sebagai Morelos dan Guerrero. Pada tahun 1450-an, mereka bergerak ke pantai Teluk di utara. Dan pada tahun 1465 Konfederasi Chalco, satu-satunya penguasa yang mampu bertahan di Cekungan Meksiko, berhasil ditaklukkan.

Pada masa pemerintahan penguasa Aztec yang kedelapanlah, Ahuitzotl, kerajaan meluas sampai mencapai titik keruntuhannya.

Wajahnya tidak dikenal. Sosok yang oleh Lopez Lujan diharapkan dapat ditemukan sisa-sisa jasadnya di dekat Templo Mayor tidak tampak dalam gambar mana pun. "Satu-satunya gambar penguasa Aztec yang kami punyai adalah Moctezuma II, dan gambar ini pun dibuat berdasarkan penjelasan orang Spanyol setelah dia wafat," kata Lopez Lujan, merujuk ke raja terakhir yang memerintah Meksiko menjelang penjajahan Spanyol. "Banyak hal kecil-kecil yang kami ketahui tentang kehidupan Moctezuma II. Tentang Ahuitzotl, hanya sedikit yang kami ketahui."

Hal-hal berikut inilah yang kami ketahui: Perwira militer berpangkat tinggi itu naik tahta pada tahun 1486 setelah kakaknya Tizoc kehilangan kendali atas kerajaan dan lenyap--mungkin akibat diracun, mungkin juga tewas di tangan adiknya sendiri. Namanya saja sudah berkonotasi kekejaman; dalam bahasa Nahuatl, ahuitzotl berarti sosok mirip berang-berang bengis yang dapat mencekik manusia dengan ekornya yang berotot. Kemenangan Ahuitzotl sebanyak 45 kali, kegemilangan masa pemerintahannya selama 16 tahun, dipuja-puji dengan indahnya dalam naskah raja muda Spanyol, dikenal sebagai Codex Mendoza. Pasukan tentaranya menaklukkan daratan di sepanjang pantai Pasifik, turun hingga kawasan yang saat ini dikenal sebagai Guatemala--dengan demikian "meluaskan kawasan kerajaan sampai batas-batas yang belum pernah dicapai sebelumnya," begitu menurut Carrasco. Beberapa pertempuran ini semata-mata merupakan pameran kekuasaan atau untuk menghukum penguasa daerah yang membangkang. Pada umumnya untuk memenuhi dua nafsu dasar: upeti untuk Tenochtitlan dan persembahan untuk para dewa.

Aturan pertama dominasi Aztec ditegakkan pada saat Ahuitzotl meraih kekuasaan: Rampas komoditas terbaik daerah yang ditaklukkan. "Para saudagar dan pedagang berperan sebagai mata-mata," begitu dijelaskan oleh Eduardo Matos Moctezuma, ahli arkeologi yang mengawasi penggalian besar-besaran di Templo Mayor yang dimulai pada tahun 1978. Setelah mereka melaporkan kekayaan yang dimiliki suatu kota, pasukan kerajaan menyiapkan serangan. "Ekspansi militer identik dengan ekspansi ekonomi," ujar Matos Moctezuma. "Bangsa Aztec tidak memaksakan agama. Mereka hanya mengincar harta."

Bahkan emas pun tidak memiliki nilai tinggi di masyarakat Mesoamerika jika dibandingkan dengan zamrud, yang melambangkan kesuburan--dan yang di Amerika tengah hanya dapat ditemukan di tambang Guatemala. Maka, tidaklah mengherankan bahwa Ahuitzotl menetapkan rute perdagangan di kawasan itu--merampas bukan saja batu permata hijau yang bentuknya berubah-ubah itu, tetapi juga, menurut Lopez Lujan, "bulu burung warna-warni, emas, kulit jaguar, dan kakao, yang ibarat uang yang tumbuh di pohon." Dengan kekayaan berlimpah ini, Tenochtitlan menjadi penguasa dunia perdagangan, sekaligus penguasa kebudayaan--"pusat kesenian terkaya saat itu seperti Paris dan New York di kemudian hari," ujar Lopez Lujan.

Perhiasan gemerlap Aztec menjadi bagian dari upacara spiritualitas Tenochtitlan yang sarat hiasan. Templo Mayor bukan semata-mata piramida berisi makam sebagaimana piramida yang didirikan bangsa Mesir purba, namun merupakan lambang gunung keramat Coatepec. Gunung itu adalah arena bagi para tokoh mitologi: dewa matahari yang baru bergabung, Huitzilopochtli, membunuh adik perempuannya yang seorang pejuang, dewi bulan Coyolxauhqui, dan melemparkan mayatnya ke kaki gunung. Dengan seringnya mempersembahkan prajurit pejuang, menurut keyakinan bangsa Mexica, para dewa akan kenyang dan daur kehidupan terus berlanjut. Tanpa persembahan semacam ini, para dewa akan lenyap dan dunia akan kiamat. "Gunung keramat itu sama pentingnya dengan salib dalam ajaran Kristen," ujar Carrasco. Bagi bangsa Mexica, sebagaimana bagi sebagian besar masyarakat Mesoamerika, "selalu terjadi kehancuran dan penciptaan kembali secara berulang."

Menghormati gunung keramat itu berarti menggiring para tahanan yang berpakaian warna-warni menaiki tangga piramida, memaksa mereka menampilkan tarian upacara, kemudian mencabut jantung mereka dan menggelindingkan mayat mereka menuruni tangga. Mengumpulkan tawanan yang diperlukan untuk dipersembahkan adalah kegiatan pengerahan yang berkelanjutan. Pertempuran ritual dipentaskan pada hari-hari tertentu, di kawasan yang netral, dengan tujuan tunggal menangkap tawanan, bukan meluaskan daerah kekuasaan. Sebagaimana yang menjadi perhatian ilmuwan Ross Hassig, setiap perang "secara resmi dimulai dengan membakar tumpukan kertas dan dupa di antara kedua pasukan." Bangsa Mexica tidak berbicara tentang "perang suci," sebab bagi mereka tidak ada perang jenis lain. Pertempuran dan agama tidak dapat dipisahkan.

Melebihi para penguasa sebelumnya, Ahuitzotl memperluas daerah kerajaannya ke selatan, menguasai perdagangan dari masyarakat Tarascan yang kuat hingga ke barat, dan memperketat kontrol di semua wilayah jajahannya. "Dia lebih berkuasa, lebih kejam," ujar ahli arkeologi Raúl Arana. "Apabila ada yang tidak bersedia mengirim upeti, dia mengirimkan pasukannya. Di bawah pemerintahan Ahuitzotl, bangsa Aztec melakukan segala hal secara besar-besaran. Dan mungkin secara berlebihan. Padahal, semua kerajaan ada batasnya."

Bangsa Mexica kehilangan pembangun kerajaan yang hebat itu di puncak dominasi mereka. Pada tahun 1502--10-Kelinci--Ahuitzotl lenyap, diperkirakan tewas akibat hantaman ke kepalanya tatkala menyelamatkan diri meninggalkan istana yang dilanda banjir. Banjir itu disebabkan oleh proyek pembangunan bendungan yang dilakukan secara terburu-buru yang diprakarsai oleh Ahuizotl untuk membendung aliran mata air dari kota di negara tetangga Coyoacan. Penguasa kota tersebut sudah memperingatkan Ahuitzotl tentang aliran mata air yang sangat tidak menentu itu. Sang raja menanggapi peringatan itu dengan menghukum mati si penguasa kota. Pada upacara pemakamannya, 200 orang budak dipilih untuk menyertai Ahuitzotl ke alam baka. Mereka didandani mengenakan pakaian bagus-bagus, membawa aneka barang untuk keperluan perjalanan ini, digiring ke Templo Mayor, dan di situ jantung mereka direnggut, lalu tubuh mereka dilontarkan ke api pembakaran jenazah. Sisa-sisa pembakaran tubuh mereka, dan tubuh tuan mereka, konon dikuburkan di depan Templo Mayor.

Di lokasi itulah ditemukan monolit Tlaltecuhtli dan Aristo-Canine. Tim Lopez Lujan berhasil menggali benda persembahan lain di daerah sekitarnya. Salah satu di antaranya ditemukan di bawah bangunan megah bergaya Tuscany yang dibangun untuk salah seorang tentara Cortes. Satu lagi ditemukan beberapa meter di bawah balok batu besar. Dalam kedua kasus tersebut, Lopez Lujan tahu di tempat mana dia harus mencari setelah menelusuri sumbu timur-barat yang sangat rumit, atau "garis khayal" pada peta situs penggalian. "Selalu ada simetri berulang seperti ini," ujar Lopez Lujan. "Hal ini seperti ketentuan yang wajib mereka patuhi."

Kegiatan tim arkeologi itu berlangsung lamban dan sama sekali tidak menarik. Beberapa di antaranya karena tantangan yang dihadapi dalam setiap penggalian di kota: mengurus surat izin dan menggali mengikuti lika-liku selokan pembuangan dan jalur kereta bawah tanah; menghindari kabel telepon, serat optik, dan kabel listrik yang ditanam di bawah tanah; serta menjaga keamanan di situs arkeologi yang terletak di salah satu kawasan pejalan kaki yang paling memikat hati di dunia. Namun, yang tidak kalah merepotkan adalah bahwa kru Lopez Lujan harus bekerja keras karena peninggalan Aztec ini sangat tinggi unsur presisi geografinya. Sambil berdiri di atas sebuah lubang yang pada Mei 2007 dari dalamnya digali sebuah kotak persembahan yang tidak lebih besar daripada laci sepatu, dia berkata, "Diperlukan waktu 15 bulan untuk menuntaskan seluruh proyek penggalian barang persembahan itu. Di dalam ruang yang sempit itu terdapat 10 lapisan dan tersimpan lebih dari 5.000 benda. Jumlahnya yang begitu banyak dan nilainya yang begitu luar biasa sungguh menakjubkan.

"Memang sepertinya acak, padahal tidak," kata Lopez Lujan lagi. "Segalanya diperhitungkan dengan cermat dari segi kosmologi. Tantangan bagi kami adalah menemukan nalarnya dan pola sebarannya dari segi ruang. Ketika Leopoldo Batres melakukan penggalian di sini [pada peralihan abad sebelumnya], dia hanya tertarik pada bendanya saja. Baginya, hasil penggalian itu merupakan lambang kemenangan. Yang kami dapati setelah bekerja di sini selama 32 tahun adalah bahwa bendanya sendiri tidak terlalu penting; yang lebih penting adalah hubungan antara benda-benda tersebut dari segi geometri."

Setiap temuan merupakan anugerah besar bagi Meksiko karena begitu banyak artefak berharga sudah dirampas oleh para penakluk dan diboyong ke Spanyol, dan dari situ disebarkan ke seluruh Eropa. Melebihi nilai keindahannya, temuan baru ini menonjolkan ketelitian bangsa Aztec--ketekunan yang dipertaruhkan karena ancaman sanksi yang sangat berat. Bagi bangsa Aztec, menyenangkan para dewa--dan dengan demikian juga keberlangsungan dunia--bergantung pada kerajaan yang selalu tumbuh dan selalu menuntut, yang pada akhirnya tidak bisa dipertahankan. Sebagaimana yang dikatakan Carrasco, "Ironinya adalah bahwa jika kerajaan terus meluaskan wilayahnya sampai tidak terbatas, maka kerajaan itulah yang kemudian menjadi batasnya. Jika daerah kekuasaan kerajaan berada jauh dari pusat, kerajaan tidak dapat menyediakan makanan dan transportasi bagi pasukan militernya dan tidak dapat melindungi para saudagarnya. Biaya pemeliharaan kerajaan menjadi sangat mahal. Dan bangsa Aztec tidak sanggup mengelolanya."

Sepuluh tahun sebelum kedatangan bangsa Spanyol, penerus Ahuitzotl, Moctezuma II, tampaknya tergiur oleh visi dan isyarat. Meskipun melanjutkan cara yang dianut pendahulunya untuk meluaskan wilayah jajahan, meskipun memiliki kekuasaan besar serta emas dan mahkota dari zamrud, ditambah lagi memiliki 19 orang anak dan kebun binatang yang dihuni aneka satwa eksotik serta "manusia kerdil, albino, dan manusia bungkuk"--meskipun memiliki itu semua, penguasa kesembilan kerajaan Aztec terperangkap oleh perasaan terancam yang sangat mencekam. Pada tahun 1509, menurut salah satu buku catatan, "pertanda buruk muncul di angkasa. Wujudnya seperti pelepah jagung yang menyala… tampak seperti mengalirkan api, setetes demi setetes, seperti luka di langit."

Kekhawatiran Moctezuma masuk akal. "Terdapat lebih dari 5.000 pejuang pribumi yang memberontak, yang ingin mempertahankan harta mereka dan menghendaki dihentikannya serangan bangsa Aztec terhadap masyarakatnya," kata Carrasco. Tanpa keinginan untuk melawan penguasa Aztec yang berkuasa, ke-500 orang Spanyol yang bersandar di dermaga Veracruz pada musim semi 1519, meskipun dipersenjatai dengan senjata api dan meriam dan kuda, bukan tandingan pasukan Aztec.

Alih-alih, kontingen Cortes tiba di Tenochtitlan pada tanggal 8 November, dikawal oleh ribuan warga Tlaxcalan dan tentara sekutunya. Meskipun bangsa Spanyol terpesona oleh pemandangan kota yang gemerlap di atas danau--"beberapa orang tentara bahkan bertanya apakah pemandangan yang mereka saksikan itu bukan mimpi," seperti yang diingat oleh salah seorang saksi mata--mereka tidak gentar oleh keperkasaan tuan rumah. Justru sebaliknya, Moctezuma-lah yang tampaknya merasa tidak percaya diri. Menurut legenda Mesoamerika, dewa agung berjanggut Quetzalcoatl--yang dibuang setelah berhubungan seks dengan adiknya--suatu hari kelak akan kembali melalui jalan air untuk memulihkan kekuasaannya. Hal ini selalu diingat oleh Moctezuma, yang memberi Cortes "harta Quetzalcoatl," busana dari ujung kepala sampai ujung kaki yang di bagian atasnya dihiasi oleh "topeng seekor ular bertatahkan batu hijau-biru."

Namun, apakah Moctezuma benar-benar menafsirkan bangsa Spanyol sebagai penjelmaan kedua dewa ular-berbulu, sebagaimana yang sudah lama diyakininya? Atau apakah secara kejam dia mendandani Cortes dengan busana khas dewa, dan akan segera dijadikan kurban persembahan? Isyarat itu merupakan ketaksaan terakhir bangsa Aztec. Setelah itu, fakta tidak terbantahkan lagi. Jalanan Tenochtitlan memerah bersimbah darah, dan pada tahun 1521 kerajaan itu pun runtuh.

"Kami termakan oleh bujukan yang mengatakan bahwa cepat atau lambat kami pasti bisa menemukan makam Ahuitzotl," kata Lopez Lujan. "Makin lama, kami menggali makin dalam." Namun, seberapa dalamnya pun ahli arkeologi ini menggali, dia tidak akan pernah bisa menyingkapkan inti misteri Aztec. Hal ini akan terus menguasai jiwa bangsa Meksiko modern--misteri yang ada untuk dirasakan dan bukan dilihat, yang di masa lalu bersifat primitif dan megah, yang mengimbau manusia fana untuk meraih kekuatan yang mampu mengubah kawasan rawa tak berguna menjadi kerajaan.


http://nationalgeographic.co.id/featurepage/178/menggali-misteri-aztec/1

Sulitnya si Pemulung Berobat ke Puskesmas

| | | 0 komentar
Linan (58) kali ini tak perlu khawatir lagi waktu istirahatnya bakal diganggu petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Pasalnya, dia sudah hafal kapan saja para petugas datang untuk mengusir penghuni kolong jembatan Guntur, di kawasan Pasar Rumput, Manggarai atau disebut “apartemen gantung”.

Linan dan penghuni lainnya harus main kucing-kucingan dengan petugas. Selepas pukul 7.00 WIB mereka harus mengosongkan jembatan, dan setelah pukul 12.00 WIB bisa dibilang waktu yang aman bagi penghuni untuk mandi, mencuci pakaian, dan tidur.

“Biasanya Trantib (baca: Satpol PP) datang antara pukul 09.00 sampe pukul 10.00 WIB. Kita naik ke atas, setelah pukul 12.00 WIB baru kita bisa santai (di kolong). Alasan mereka ngusir karena mau ada wali kota atau gubernur, mau mantau aliran sungai,” paparnya kepada okezone, belum lama ini.

Petugas Satpol PP biasa mengawasi kawasan sepanjang aliran sungai Ciliwung di daerah Pasar Rumput untuk ‘menertibkan’ para gelandangan, penjual dan penghuni ‘liar’. Mereka dianggap sebagai pemandangan yang tak sedap bagi Ibu Kota Negara Indonesia.

Ditangkap petugas adalah pengalaman yang tidak mau terulang kembali sepanjang hidupnya. Linan mengaku sudah dua kali digaruk petugas Satpol PP. Terakhir, saat Ramadan lalu, selain ditangkap Satpol PP, Linan juga harus merelakan gerobaknya dirampas.

Dia mengisahkan, ketika itu dia sedang mencari makanan untuk sahur dengan membawa gerobaknya. Di sekitar Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat tiba-tiba sekelompok petugas menghadangnya. Dia lari sebisa mungkin. Sayang, petugas yang mengejar menggunakan mobil jauh lebih cepat ketimbang dirinya. Linan pun terpaksa merelakan gerobak seharga Rp250 ribu miliknya dibawa petugas plus dirinya.

“Mereka menangkap saya, bilangnya mau didata ke kecamatan. Eh nggak tahunya mau dibawa ke Kedoya,” katanya.

Di tempat penampungan, dia merasa tidak nyaman. Tak ada yang bisa diperbuat selain makan dan tidur, walhasil penghasilan pun terhenti. Tidak ada lagi simpanan untuk keluarganya di Wonogiri. Keterampilan yang diberikan dianggap tidak akan berguna. Melihat kondisi tempat penampungan yang membuatnya tidak produktif, akhirnya dia memutuskan untuk melarikan diri.

“Kita di sana didata, yang muda diberikan pelatihan lanjutan. Umur saya sudah tua. Mau usaha apa dengan umur saya segini. Mending jadi pemulung,” katanya.

Sedikit mengutip hasil penelitian kuantitatif Djuwendah (2000), disebutkan bahwa 38 persen pemulung menjalani usahanya karena tidak memerlukan modal banyak dan keahlian khusus, 29 persen pemulung menjalaninya karena usaha ini tidak terikat waktu atau karena coba-coba, 18 persen pemulung merasa bahwa usaha ini lebih menguntungkan daripada usaha sebelumnya, dan hanya 21persen pemulung yang mengaku terpaksa melakukannya karena sulitnya mencari pekerjaan lain.

Alasan-alasan lain yang melatarbelakangi keputusan para pemulung untuk menjalani usaha ini merupakan rentetan dari keterbatasan keahlian dan sumber daya modal yang dimiliki dan sulitnya mencari pekerjaan sehingga pada akhirnya mereka memilih bekerja sebagai pemulung yang lebih mengandalkan kemauan dan kekuatan fisik.

Dahulu mungkin Linan memiliki kemauan dan kekuatan fisik yang memadai untuk menjadi pemulung. Tapi kini, tubuhnya yang menua mulai tak bersahabat dengan kondisi pekerjaan dan tempat tinggalnya di kolong jembatan.

Apalagi ketika angin malam menghantam tubuhnya yang kurus. Ketika tidur, dia harus melapisi tubuhnya dengan jaket agar udara malam tidak membuatnya sakit. Untung sakit yang selama ini dialaminya masih tergolong penyakit ringan.

Bahkan sedikit pun tak terbesit di benak Linan, apa yang mesti diperbuat jika suatu saat penyakitnya tergolong berat. Saat ini saja, untuk masuk angin dan sakit gigi cukup diatasi dengan membeli obat warung.

“Mau ke Puskesmas mesti pake KTP. Saya nggak punya KTP, ya beli obat aja di warung,” pungkasnya.
(lsi)

http://news.okezone.com/read/2010/10/25/338/385960/sulitnya-si-pemulung-berobat-ke-puskesmas

Ilham Aidit: Dijatuhkan Rakyat, Dia Pahlawan?

| | | 2 komentar
Wawancara Ilham Aidit, anak bungsu Dipa Nusantara Aidit, Ketua Komite Sentral PKI.

Pukul enam lebih 30 menit. Februari 1983. Pagi itu kawasan Upas Tangkuban Perahu masih menggigil. Pensiunan letnan jenderal berusia 58 tahun itu menghampiri seorang anak muda 22 tahun.

Lama dia menatap, lalu memeluknya. Erat sekali, baru melepasnya. Seperti seorang ayah merindu pada anak. “Kamu sekarang jadi apa?” tanya si jenderal. “Kepala operasi,” anak muda itu menjawab.

Sang jenderal meminta waktu bicara berdua. Anak muda itu mengangguk. Lalu mereka menyingkir dari keramaian, ke tebing Kawah Upas. “Bagaimana kuliahmu?” tanya si pensiunan sembari memandang kawah. “Lancar,” anak muda itu menjawab.

Jendral tua yang bermata nanar pagi itu adalah Sarwo Edhie. Dan si anak muda itu adalah Ilham Aidit. Sarwo Edhie adalah komandan pasukan khusus yang membasmi anggota dan petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) sesudah Gerakan 30 September 1965. Dan Ilham adalah anak bungsu Dipa Nusantara (DN) Aidit, Ketua PKI, yang mati dihabisi tentara di Boyolali, 23 November 1965.

Datang dari dua masa lalu yang berselisih, minat mencintai alam mempersatukan keduanya di Wanadri. Sarwo Edhie sebagai anggota kehormatan, dan Ilham kepala operasi organisasi itu.

Dan pada Februari 1983 itu, adalah pertemuan kedua mereka. Pertemuan pertama berlangsung 1981. Di tempat yang sama. Bulan yang sama. Saat itu Ilham menjadi anggota baru Wanadri dan Sarwo Edhie anggota kehormatan. Sarwo Edhie menyalami satu persatu-satu anggota baru, mulai dari ujung.

Ilham yang berdiri di barisan tengah, gemetar menunggu giliran. Dia tahu bahwa Sarwo Edhie paham bahwa dia adalah putra DN Aidit. Ketika tiba gilirannya, Sarwo Edhie langsung memeluk. Dari 74 anggota baru yang dilantik pagi itu, cuma Ilham yang dipeluk. Pelukan itu tanpa kata.

Baru pada pertemuan kedua itu mereka bicara dari hati ke hati. Sarwo Edhie bercerita tentang peristiwa 1965. “Kamu bisa menerima ini, kan?” tanya Sarwo Edhie. Ilham mengangguk. Dia merasa lega dengan obrolan pagi itu. “Itu awal mula rekonsiliasi pribadi,” kisah Ilham kepada VIVANews, Jumat, 22 Oktober 2010. Keduanya kemudian beberapa kali bertemu di Wanadri, sampai Sarwo Edhie meninggal, 9 November 1989.
Rekonsiliasi berikutnya kemudian dengan keluarga Sarwo Edhie, pada tahun 2004.

Digelar di Daarut Tauhiid--milik dai kondang AA Gym, di Gegerkalong, Bandung, Jawa Barat--pertemuan itu dihadiri menantu Sarwo Edhie, Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu sedang berjuang di putaran kedua Pemilu Presiden.
Hadir dalam pertemuan sejumlah anak-anak korban G 30 S PKI, DII/TII yang bergabung dalam Forum Silahturrahmi Anak Bangsa (FSAB).

Di situ, Ilham sempat bercerita kepada SBY soal pertemuannya dengan Sarwo Edhie. Mendengar cerita itu, tangan SBY memegang paha kiri Ilham, lalu bilang, “Kita harus menyelesaikan masa lalu, tapi dengan cara yang arif.”

Ilham mengangguk. Mereka lalu sepakat agar rekonsiliasi terus dilakukan.
Rekonsiliasi itu kembali digelar, 1 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Berlangsung di Gedung MPR di Senayan, rekonsiliasi itu dihadiri sejumlah anak pahlawan Revolusi. Amelia Yani (Putri Jenderal Ahmad Yani), Christine Panjaitan (Putri Mayjen Panjaitan), Sukmawati Soekarnoputri.

Hadir pula Ilham Aidit, Svetlana (anaknya Nyoto), Feri Omar (anak Mantan KSAU Omar Dhani). Dan yang menarik perhatian publik adalah kehadiran Tommy Soeharto, putra bungsu Jenderal (Purn) Soeharto, presiden Indonsia selama 32 tahun, yang memimpin penumpasan terhadap anggota dan petinggi PKI tahun 1965.

Dalam kata sambutannya, Tommy Soeharto menegaskan bahwa, “Kita tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita bisa mengubah masa depan bangsa kita sendiri. Atas nama pribadi saya mengucapkan maaf lahir batin."

Hadirin bertepuk tangan.

Masa lalu sejumlah anak mantan petinggi negara itu memang banyak yang kelabu. Ilham Aidit, misalnya, yang saat peristiwa G30S meletus masih kecil, harus lari dari satu rumah ke rumah yang lain, sebab diburu para tentara. Saat kecil, dia bahkan pernah nyaris ditembak.

Beruntung ada keluarga jauh yang memberi pertolongan, dan kemudian membesarkan Ilham bersama dua kakaknya, Iwan Aidit dan Irfan Aidit. Dua kakak perempuan mereka lari dan menetap di Perancis.

Atas pertolongan keluarga jauh itu, Ilham kuliah di Teknik Arsitektur Universitas Parahiyangan, Bandung. Tamat dari kuliah, Ilham yang ditolak jadi PNS itu, kemudian bekerja sebagai arsitek. VIVAnews mewawancarai Ilham, soal kontroversi apakah Soeharto pantas jadi pahlawan atau tidak.

Tanggal 1 Oktober 2010, Anda bertemu dengan anak-anak pahlawan revolusi dan anak Mantan Presiden Soeharto di DPR. Apa yang Anda rasakan dalam pertemuan itu?

Dengan Amelia Yani, dan Christine Panjaitan dan beberapa orang lain, kami sudah sering bertemu. Karena kami bergabung dalam organisasi FSAB. Sudah sering bertemu, saling kenal. Kalau dengan Tommy Soeharto, baru pertama kali bertemu di DPR itu.

Bagaimana perasaan Anda saat bertemu dengan Tommy. Canggung atau bagaimana?

Memang agak canggung. Tapi bukan karena dia anak Soeharto, tetapi lebih karena saya paham bahwa Tommy juga pernah menjadi bagian dari masalah penegakan hukum dan ekonomi di negeri ini. Dia punya beberapa kasus yang berhadapan dengan negara. Dia dan negara sama-sama pernah merebut uang di Bank Paribas di Inggris.

Saat bertemu Tommy Anda bersalaman?

Iya, kami bersalaman tapi tidak akrab.

Anda menyimpan dendam dengan anak-anak Soeharto?

Tidak. Saya kira ada juga anak Soeharto yang baik. Mbak Mamiek, misalnya, dia anak yang baik. Saya kira dia orang bersih, artinya tidak punya kasus seperti kasus korupsi, KKN, dan lain-lain. Saya belum pernah dengar dia punya kasus.

Kalau anak-anak jenderal yang lainnya itu, bagaimana Anda menilainya?

Saya salut dengan anak-anaknya Sarwo Edhie. Terlepas dari perilaku bapaknya, saya kira Edhie Prabowo, yang kini menjadi Pangkostrad itu, adalah tentara yang berprestasi. Saya sangat hormat dengan Beliau. Dengan anak-anak Pak Ahmad Yani dan Pak Panjaitan hubungan kami baik. Kami tidak diwarisi konflik orang tua kami.
Kini Soeharto ramai dicalonkan menjadi pahlawan, Ada yang setuju, ada juga menolak.

Anda sendiri bagaimana?

Saya jelas tidak setuju.

Alasannya?


Ada tiga alasannya. Pertama, saya kira ada banyak pelanggaran HAM yang terjadi saat Beliau memimpin militer Indonesia dan saat Beliau menjadi presiden. Peristiwa yang selalu disebut antara lain, G-30S, Peristiwa Tanjung Priok, Lampung, dan beberapa peristiwa lain. Peran Beliau dalam sejumlah peristiwa itu sangat signifikan. Nilai Beliau dalam soal HAM ini merah.

Tapi kan Soeharto tidak pernah diadili dan terbukti bersalah dalam kasus-kasus itu?

Tidak diadili, tidak berarti Beliau tidak bersalah atau tidak tahu. Terlepas dari salah atau tidak, ratusan ribu pengikut PKI dibunuh sesudah tahun 1965, termasuk ayah saya. Apa Beliau sama sekali tidak punya peran dalam gemuruh perburuan dan pembunuhan para pengikut PKI itu?.

Kalau ada, betapapun kecil peran itu, apa pantas Beliau jadi pahlawan? Apa pantas orang yang diduga tahu soal pembunuhan itu, dan punya kuasa untuk menghentikannya, tapi diam saja, kita angkat jadi pahlawan?

Apa alasan lain?

Presiden Soeharto dijatuhkan lewat unjuk rasa yang luar biasa masif di seluruh Indonesia. Unjuk rasa dilakukan hampir seluruh rakyat. Sampai-sampai mahasiswa panjat-panjat gedung dan menduduki atap gedung DPR. Apa pantas orang yang dijatuhkan dengan kehendak rakyat yang begitu besar, kita angkat jadi pahlawan? Dijatuhkan rakyat, kok diangkat jadi pahlawan? Apa pembenarannya?

Tapi bukankah jasa Soeharto dalam pembangunan ekonomi besar?

Pembangunan kita dibiayai oleh utang. Dan Anda tahu bahwa Profesor Soemitro Djojohadikusumo, ketika masih menjadi besan Pak Harto, menegaskan bahwa sekitar 30 persen dari utang kita itu bocor. Bocor ke mana? Menurut Pak Sumitro dan para ahli ekonomi, ya bocor karena KKN.

Apa yang bocor ini pantas dibanggakan sehingga jadi pahlawan? Dan kalau sukses pembangunannya, apa alasan seluruh rakyat Indonesia waktu itu turun ke jalan menjatuhkan Beliau? Karena pembangunannya gagal, kan?

Pendukung Soeharto bilang, dalam hal KKN Soeharto toh tak pernah divonis bersalah.

Tanggapan Anda?

Pengadilan untuk itu sudah ada, tapi Beliau sakit, sehingga kasusnya diendapkan dan kemudian dihentikan. Jadi, Beliau pernah diproses secara hukum. Lha, apa pantas Beliau yang pernah diproses hukum itu jadi pahlawan?

• VIVAnews

Ketemu Cinta Sejati di Danau Toba

| | | 0 komentar
Oleh Biqwanto Situmorang

Tak pernah terpikir untuk singgah di Danau Toba ketika Annette Horschmann, gadis Jerman, merencanakan liburan panjang berkeliling dunia setelah tamat sarjana hukum di kotanya, Koln.
Kala itu, pertengahan tahun 1993, ia berencana melakukan perjalanan wisata ke India, Thailand, Malaysia dan Indonesia, kemudian ke Selandia Baru dan diakhiri di Amerika Serikat.
"Namun ketika berada di Bali, saya seolah mendengar suara yang memanggil untuk berkunjung ke Danau Toba. Padahal saya baru mendengar nama itu setelah beberapa hari tinggal Bali, pada awal tur dunia saya," kenangnya.
Suara "panggilan" itu berdengung berkali-kali, sehingga Bu Anne, panggilannya saat ini, berupaya mengumpulkan berbagai informasi terkait Danau Toba. Setelah dirasa cukup menarik untuk dikunjungi, maka ia pun memulai perjalanan.
Karena seorang diri, maka ia memilih perjalanan darat dari bali menuju Danau Toba, Sumatera Utara. Sempat singgah di Yogyakarta, kemudian di Jakarta dan Bukit Tinggi.
"Di Bukit Tinggi ada seorang pemandu wisata yang mengatakan kepada saya bahwa saya akan menemukan jodoh di Indonesia. Saat itu saya katakan, tidak mungkin," katanya pekan lalu, ketika ditemui di restoran miliknya, Tabo, di Tuktuk, Samosir, Sumatera Utara.
Sebab, katanya, dari sisi tinggi badan yang mencapai 170 cm, tidak akan cocok dengan pemuda Indonesia yang umumnya jauh lebih pendek dari dirinya. Dan ia pun tak hirau dengan kata-kata pemandu wisata tersebut.
Perjalanan dilanjutkan hingga ke Danau Toba. "Dan wah ... alamnya begitu indah, danau biru yang sangat luas, begitu mempesona ... terasa ada ketenangan jiwa ketika memandangi danau dan menghirup udara segar pantai," katanya menggambarkan kesan pertama berada di Tuktuk, Samosir, sebuah kawasan wisata di Pulau Samosir, berseberangan dengan Parapat.
Ketika itu, katanya, ia sudah memiliki perasaan (feeling) akan lama tinggal di daerah itu, karena merasa betah dengan kondisi alamnya. Namun, kembali ia tak menghiraukannya.
Setelah beberapa minggu tinggal di Tuktuk, visa kunjungan wisata habis, maka Annette keluar dari Indonesia, dan terbang ke Penang, Malaysia. "Selama seminggu di Penang saya tidak sehat. Badan terasa sakit, tak ada gairah untuk bergerak maupun jalan-jalan, maunya tidur," katanya dengan bahasa Indonesia yang fasih dan lancar.
Setelah mengurus visa, lalu ia memutuskan kembali ke Danau Toba, dan ternyata penyakitnya sembuh, hidupnya bergairah kembali.
"Rupanya ada kerinduan ke Danau Toba, dan itu kemudian terobati," katanya, sambil tersenyum.
Sebelumnya ia sudah berkenalan dengan seorang pemandu wisata di Tuktuk, Antonius Silalahi. Pemuda ini lalu mengajaknya bekerjasama untuk menjalankan bisnis di bidang pariwisata.
"Setelah saya pikir-pikir, kenapa tidak dicoba? Lalu saya terima ajakannya, karena saat itu saya melihat wisatawan mancanegara memadati setiap sudut Tuktuk. Saya pikir ini peluang," katanya.
Pada periode itu, terjadi lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Utara (Sumut) dari sekitar 200.000 orang pada 1993 menjadi 265.000 orang pada 1994. Puncaknya pada tahun 1995 sebesar 300.000 orang, kemudian turun drastis pascakrisis ekonomi di Asia tahun 1997 yang diikuti jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, menjadi sekitar 90.000 orang pada 1999. Hingga saat ini kunjungan wisatawan asing belum pulih seperti era 90-an.
Lalu mereka sepakat mendirikan restoran "vegetarian" pada awal 1994. Silalahi menyediakan lahan dan Annette dengan sisa uang yang dimiliki membangun fisik dan peralatan yang diperlukan.
Pilihan restoran vegetarian rupanya cukup tepat. Sejak dibuka, restoran ini banyak pelanggan, terutama dari kalangan tua, karena pada saat itu sedang `trend` dan banyak wisatawan kakek dan nenek dari Eropa memilih berlibur ke Asia untuk melewati musim dingin.
Annette menjelaskan, para orang tua itu memilih berlibur ke Indonesia karena lebih murah dibanding biaya hidup tinggal di rumahnya di Eropa selama musim dingin, yang didukung oleh adanya sejumlah penerbangan langsung dari Eropa ke Indonesia, termasuk ke Medan.
Usaha restoran berkembang pesat, lalu mereka kemudian memperluas usaha dengan menyediakan roti (bakery). Mereka menjalankan bisnis ini secara profesional, walaupun di antara keduanya juga telah terjalin hubungan cinta.
Bagi orang Batak, hubungan cinta tidak bisa dilakukan secara terselubung, maka mereka mengesahkan hubungan mereka dengan pernikahan menurut adat Batak pada pertengahan tahun 1994. Untuk memenuhi adat, sebelumnya Annette diangkat menjadi orang Batak dan diberi marga Siallagan, dan namanya menjadi Annette boru Siallagan.
Walaupun kurang setuju, pihak kerabat dan kedua orang tua Annette bisa menerima keputusan putrinya, dan mereka datang dari Jerman menghadiri pesta pernikahan Annette dan Antonius Silalahi.
Sementara itu dari pihak pengantin pria, keluarga Silalahi, sangat bangga karena memiliki menantu orang asing.
"Setelah beberapa bulan menikah, saya baru teringat dengan pemandu wisata di Bukit Tinggi itu. Dan apa yang ia katakan sekarang menjadi kenyataan, saya mendapat jodoh orang Batak. Haa... haa... haa..," katanya terbahak.
Hingga kini, keluarga Silalahi-Annette dikaruniai dua putra dan seroang putri. Putra pertama Marco (15) kini sekolah SMA kelas I di Medan, yang kedua Julia, putri berusia 13 tahun sekolah SMP kelas II di Pangururan, dan di bungsu Hotto (11) SD kelas VI tinggal bersama mereka di Tuktuk.
Bagi Annette, sudah "happy" hidup di Danau Toba. "Bagi saya Danau Toba merupakan `true love`, cinta sejati," katanya.
"Hidup dan masa depan saya ada di sini. Keluarga saya ada di sini. Saya hidup bahagia bersama suami dan anak-anak," jawabnya, ketika ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Jerman suatu saat kelak.
"Nunga hudapot di son ngolukku," katanya dalam bahasa Batak yang fasih, yang berarti, ia sudah menemukan tujuan hidupnya di Tuktuk.
Ia mengatakan, setiap tahun, atau setidaknya sekali dalam dua tahun, ia bisa menemui kerabat dan orang tuanya di Jerman, demikian pula keluarganya di Jerman bisa mengunjungi dirinya di Tuktuk, sedikitnya sekali dalam dua tahun.
Karena keluarganya dari Jerman sering berkunjung ke Tuktuk, maka untuk menyediakan tempat menginap, Annette dan suaminya membangun paviliun dua kamar di samping restorannya. Kamar inilah cikal-bakal usaha cottage milik mereka hingga saat ini.
"Semuanya diawali dari sebuah restoran sederhana," katanya mengenang perjalanan usahanya sejak 16 tahun lalu dan kini menjadi sebuah cottages dengan puluhan kamar dengan variasi layanan standard hingga VIP. "Jika ingin informasi bisa menghubungi www.tabocottages.com," tambahnya.
Pada Minggu 24 Oktobe lalu, saat penutupan Pesta Danau Toba 2010, Annette memperolah penghargaan dari panitia Pesta Danau Toba dalam pelestarian lingkungan, karena kiprahnya membersihkan pantai Danau Toba dari eceng gondok.
Berawal tahun 2005, cerita ia, ketika eceng gondok memenuhi hampir seluruh pantai Tuktuk dan menimbulkan dampak tidak sedap bagi pariwisata daerah itu. Kala itu belum diketahui cara untuk menyingkirkan eceng gondok tersebut, selain mengangkatnya dari danau ke darat.
Annette mengajak beberapa orang untuk mengangkat eceng gondok itu, lalu mengumpulkannya dalam sebuah penampungan.
"Ternyata setelah dibiarkan selama sebulan eceng gondok itu berubah menjadi kompos, yaitu pupuk organik yang sangat baik untuk pertanaman," katanya.
Beberapa waktu kemudian, Vicky Sianipar dari komunitas Toba Dream dari Jakarta membuat program penghijauan tepian Danau Toba dengan menanam pohon.
"Vicky datang ke saya, butuh kompos dalam jumlah besar untuk menanam ribuan pohon. Lalu saya ajak lebih banyak lagi anak muda untuk mengangkat eceng gondok. Dalam waktu singkat pantai bersih, kondisi pariwisata membaik, sedangkan eceng gondok menjadi sumber penghasilan," katanya.
Hingga sekarang, banyak yang terlibat dalam forum pengelolaan eceng gondok bersama Annette, dan kini kompos tak lagi tumbuhan pengganggu tetapi merupakan pupuk dan media pertanaman yang sangat baik yang dibutuhkan petani.
Atas upayanya itu, Annette meraih penghargaan sebagai Most Inspiring Woman dari Monang Sianipar pada 2009, kemudian mendapat penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara 2010.
"Saya melakukan itu tidak untuk penghargaan, tetapi untuk memelihara kebersihan Danau Toba dan menjaga citra pariwisata. Kalau kemudian memberi manfaat ekonomi, itu keuntungan tambahan. Fokus saya Tuktuk adalah daerah pariwisata, harus bersih dari hal-hal yang mengganggu," katanya.
Bagi Annette, Danau Toba adalah surga (paradise). "Cuaca yang tidak panas dan tidak dingin, cocok untuk menikmati hidup, terutama bagi orang yang tua," katanya.
Oleh karena itu, katanya, walaupun kunjungan wisatawan asing ke Danau Toba anjlok tajam sejak tahun 1995, ada saja kelompok orang tua dari Eropa dan Amerika yang menginap di cottages miliknya.
Namun, ia sangat prihatin dengan kondisi pariwisata saat ini di daerah Tuktuk dan sekitarnya.
"Persaingan sangat keras dan menjurus tidak sehat. Karena sepinya tamu (wisatawan), terjadi perebutan tamu oleh sesama hotel. Terkadang wisatawan dibohongi, misalnya dikatakan layanannya memuaskan, padahal toilet saja tidak bersih. Hal ini sangat mengecewakan tamu," katanya.
Saat ini pelaku bisnis pariwisata di Tuktuk seolah menangis, merintih merindukan kedatangan wisatawan, katanya.
Ia menceritakan masa-masa mulai surutnya kunjungan wisatawan ke Danau Toba, dimulai dengan musibah tenggelamnya kapal penumpang Peldatari yang mengangkut pengunjung Pesta Danau Toba pada Juli 1997, usai penutupan pesta itu, dan menewaskan lebih 100 orang. Beberapa waktu kemudian terjadi kabut asap yang menyelimuti daerah Sumatera Utara dan pesawat Garuda Indonesia jatuh di Medan pada September 1997.
"Berita musibah itu berdampak besar. Dan seingat saya, mulai saat itulah kunjungan wisatawan ke Tuktuk menurun drastis," katanya.
Krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, serta jatuhnya Soeharto pada 1998, memperparah kondisi parwisata Danau Toba. Sejumlah penerbangan langsung dari Eropa ke Medan ditutup, termasuk oleh maskapai Garuda Indonesia. Akibatnya, kunjungan wisatawan asing ke Sumatera Utara anjlok tajam.
Di sisi lain, tak ada upaya untuk keluar dari krisis tersebut, baik oleh pemerintah maupun industri pariwisata.
"Tidak seperti di Bali, ketika bom terjadi tahun 2002, pemerintah dan semua kalangan bersama-sama berupaya memulihkan kondisi pariwisata Bali, termasuk dengan mengupayakan hari libur akhir pekan yang lebih panjang agar wisatawan domestik berkunjung ke Bali," katanya.
Malah, katanya, sejak 2004 visa kunjungan wisatawan saat kedatangan (visa on arrival) dikenai tarif 25 dolar AS untuk kunjungan selama 30 hari, dan tidak ada kepastian apakah bisa diperpanjang.
"Penerapan tarif visa ini sangat dikeluhkan wisatawan, banyak wisatawan tidak datang karena hal tersebut, terutama kalangan back-packer (petualang), sebab 25 dolar AS sangat berarti bagi mereka," kata Annette. Di samping itu, ada beberapa negara seperti Belanda tidak mendapat fasilitas visa on arrival tersebut.
Ia membandingkan, di Singapura dan Malaysia, visa on arrival tidak dikenai biaya dan berlaku selama tiga bulan, dan kemunggkinan akan diperpanjang sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing.
Di pihak lain, pelaku bisnis pariwisata seperti hotel, restoran dan penjual souvenir tidak berupaya memperbaiki kualitas layanan.
"Ada penjual souvenir yang sampai menarik tangan pelanggan, memaksa untuk membeli barangnya. Ini sudah keterlaluan," katanya.
Kualiutas akses jalan, juga minim perbaikan. Jalan raya yang mengelilingi Pulau Samosir, masih banyak yang berlubang dan sempit, dan tak ada rambu dan tanda lalulintas.
Masalah lain, soal jaminan kesehatan dan penukaran uang. "Tak ada rumah sakit, kalau wisatawan tiba-tiba sakit yang parah, harus dibawa ke Siantar, perlu waktu 2 jam perjalanan," katanya.
Fasilitas penukaran uang juga tidak ada, sementara pembayaran dengan kartu kredit tidak dilayani. "Hal ini menyulitkan wisatawan," katanya.
Walaupun sedemikian rumitnya permasalahan pariwisata yang dihadapi, Annette tetap yakin bahwa Danau Toba adalah surga pariwisata, yang sangat menarik bagi wisatawan.
Ia melihat, bandar udara di Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, yang hanya berjarak dua jam perjalanan darat ke Parapat, bisa menjadi pintu masuk baru wisatawan asing ke Danau Toba, selain dari Polonia, Medan, tentunya dengan akses penerbangan langsung dari luar negeri, misalnya dari Singapura, Kuala Lumpur, dan lain-lain.
"Bagaimana caranya agar penerbangan langsung dari luar negeri itu bisa terlaksana, itu menjadi tanggungjawab pemerintah sebagai fasilitator sarana pariwisata," katanya.
Selain itu, upaya promosi harus terus dilakukan, baik oleh industri pariwisata maupun oleh pemerintah. "Tak ada promosi, tak ada kunjungan wisatawan," katanya, dengan menjelaskan betapa sengitnya persaingan industri pariwisata dunia saat ini.
Masing-masing tujuan wisata sangat gencar mempromisikan dirinya, dengan mengikuti berbagai ajang promosi dan beriklan di media massa.
"Keindahan obyek wisata tak cukup untuk menarik wisatawan, tetapi harus dengan promosi dan jaringan kerja yang luas," katanya.
Oleh karena itu ia berkeinginan untuk ikut berpromosi pada ajang festival pariwisata Berlin, Jerman, pada 2011. "Saya akan sangat berterima kasih kalau ada yang berkenan membantu, sebab manfaatnya tidak hanya untuk saya tetapi untuk Indonesia. Saya ingin mengajak para orang tua di Jerman menghabiskan liburan musim dingin di Danau Toba," katanya.
Ia mengingatkan, bisnis pariwisata merupakan kerjasama berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, pengusaha hotel dan restoran, penyedia jasa perjalanan, hingga para penjual souvenir.
"Kita harus bersama-sama meningkatkan daya saing, dengan berbagai kemudahan yang disediakan pemerintah, serta perbaikan layanan oleh pelaku-pelaku wisata," katanya

http://oase.kompas.com/read/2010/11/02/08220252/Ketemu.Cinta.Sejati.di.Danau.Toba

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?