SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Saat Banda Lebih Berharga dari New York

| | | 0 komentar
Pada satu masa, Pulau Run, sebuah pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku, bernilai lebih tinggi daripada kota New York di Pulau Manhattan yang kala itu dinamakan Nieuw Amsterdam.

Itulah ironi sejarah, pada paruh terakhir abad ke-17, bangsa Inggris dan Belanda berulang kali terlibat perebutan daerah penghasil rempah. Semasa itu, sekantong rempah bernilai lebih mahal dari sekantong emas dengan bobot yang sama!

Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) bersaing ketat dan sering terlibat konflik terbuka. Bahkan, terjadi pembantaian warga Inggris di benteng Belanda di Ambon yang dikenal sebagai Amboyna Massacre yang memicu kemarahan Inggris.

Letnan Kolonel (Pur) TNI AL C Kowaas, yang melanglang buana pada tahun 1964 bersama KRI Dewa Rutji, mengisahkan barter wilayah antara Inggris dan Belanda atas Pulau Run dan Nieuw Amsterdam hingga dampaknya tiga abad kemudian.

Perebutan rempah oleh bangsa Eropa di masa silam bisa diibaratkan persaingan di abad ke-20 dan ke-21 untuk memperebutkan sumber minyak Timur Tengah oleh negara maju dan sesama bangsa Arab.

”Pada tahun 2600 sebelum Masehi bangsa Mesir diketahui menggunakan rempah dari Asia untuk para pekerja yang membangun piramida agar memberi kekuatan tertentu. Dari bukti arkeologis diketahui rempah-rempah itu berasal dari Maluku. Konon urusan rempah ini turut membuat bangsa Aria hijrah ke wilayah Anak Benua, yakni India,” ujar Kowaas yang buku perjalanannya dengan Kapal Dewa Rutji akan diterbitkan ulang oleh Penerbit Buku Kompas.

Catatan perjalanan Marco Polo ke Asia menjadi acuan bagi bangsa-bangsa Eropa yang berusaha mencari jalan ke Asia dan sumber rempah-rempah. Ketika itu, pada masa Medieval, perdagangan di Timur Jauh dan Timur Tengah dikuasai bangsa Tionghoa, Arab, India, dan di Eropa para saudagar Venisia.

Setelah Khalifah Barat, yakni wangsa Umayah, dikalahkan bangsa Spanyol dan Portugis di Semenanjung Andalusia, barulah bangsa-bangsa di Eropa Barat berlomba mencari jalan ke Timur Jauh, negeri sumber rempah.

Bandar Malaka direbut Portugis tahun 1511 sebagai pembuka jalan ke Kepulauan Maluku. Pada tahun 1512, Banda dan Maluku akhirnya ditemukan pelaut Portugis. Terbukalah perdagangan langsung bangsa Barat ke sumber rempah-rempah.

Pertarungan Spanyol dan Portugis berlangsung hingga seabad lamanya. Pada peralihan abad ke-16, kekuatan maritim sudah beralih kepada dua kekuatan baru: Inggris dan Belanda.

Inggris dengan EIC-nya bersaing ketat dengan VOC di Samudra Hindia hingga kepulauan Nusantara.

”VOC akhirnya menguasai Kepulauan Banda dan Maluku di abad ke-17. Namun, Pulau Run dan Ai di Banda dikuasai EIC. Itu sangat mengganggu VOC yang ingin menguasai perdagangan rempah Nusantara,” Kowaas menerangkan lebih lanjut.

Setelah berulang kali terjadi pertikaian dan Perang Anglo-Belanda kedua (1664-1667), dicoba dicari kompromi antara EIC dan VOC dalam perjanjian Breda.

Disepakati VOC menyerahkan koloni Nieuw Amsterdam kepada EIC. Sebaliknya, EIC menyerahkan Pulau Run dan koloni Suriname ke tangan VOC. Peristiwa itu dikukuhkan dalam sebuah traktat tahun 1674.

Di atas kertas, VOC untung besar karena seluruh kepulauan rempah berada di bawah kendalinya. Akan tetapi, EIC yang mendapat Nieuw Amsterdam, yang kemudian mereka beri nama New York, berpikir untuk jangka panjang dengan membangun sebuah kota perdagangan.

Sejarah modern berbicara lain. Selepas revolusi industri, kemakmuran didapat dari menjual produk akhir yang langsung dinikmati konsumen ataupun mengembangkan sektor jasa seperti terjadi di New York.

Banda, seperti bagian lain dari Republik Indonesia, masih mengandalkan ekonomi dari menjual bahan mentah dan tidak menambah nilai ekonomis hingga menjadi barang siap konsumsi. Pala, cengkeh, karet, kina, teh, dan kopi semua dijual dalam produk mentah demi segera mendapat keuntungan yang tidak seberapa. Selanjutnya, produk siap konsumsi kembali diimpor bangsa Indonesia dengan harga lebih mahal!

Kini, tiga abad lebih, barter Banda dan New York berlalu. Kepulauan Banda semakin sunyi, sedangkan New York menjadi salah satu pusat perdagangan dan kebudayaan dunia. Sebuah ironi sejarah. (Iwan Santosa)
Editor: aegi | Sumber : Kompas Cetak

BANYUWANGI GEMPAR.... Mati Selasa Kliwon, Tali Pocong Dicuri

| | | 0 komentar
Warga Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, digegerkan oleh peristiwa pencurian tali pocong, Rabu (11/8/2010). Para pencuri tali pocong itu sangat nekat karena membongkar kuburan Sapani (70), warga setempat yang baru sehari dikuburkan, Selasa (10/8/2010).

Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, pelaku pencurian diperkirakan lebih dari tiga orang. Pasalnya, pelaku mencuri semua (tiga buah) tali pocong yang mengikat mayat tersebut, yaitu di bagian atas kepala, badan, dan kaki. Tiga orang pencuri itu diduga akan menggunakan tali pocong hasil curian masing-masing untuk semacam jimat.

Adapun peristiwa tersebut diketahui pada hari Rabu (11/8/2010) sekitar pukul 09.00 WIB oleh salah seorang pengunjung makam, Thoyib. Kala itu Thoyib hendak nyekar di pusara saudaranya yang berada di pemakaman desa tersebut.

Saat melewati lokasi makam, ia merasa curiga melihat beberapa papan kayu yang berserakan. Setelah diamati dengan seksama, ternyata papan-papan kayu tersebut adalah papan penutup yang biasanya dikubur bersama jenazah saat dimakamkan.

Kecurigaan Thoyib semakin bertambah ketika melihat makam almarhum Sapani dalam kondisi amburadul. Di makam yang tanahnya masih basah itu terlihat banyak bekas galian yang tak selesai. Batu nisan makam Sapani juga copot dari tempatnya.

Maka, tanpa banyak cakap, Thoyib langsung melaporkan temuannya ke juru kunci makam. Setelah itu, keluarga Sapani pun dihubungi. Pihak keluarga segera datang ke makam.

“Kami mendapat laporan dari Pak Thoyib dan langsung memeriksa ke sini. Ternyata benar, makam kondisinya semrawut. Akhirnya kami membongkar makam dan memeriksa mayat. Alhmadullilah, mayat bapak saya masih utuh,” ujar Sujito, anak sulung Sapani.

Proses penggalian kembali makam tersebut disaksikan oleh ratusan warga, perangkat Desa Bagorejo, dan beberapa petugas Polsek Srono. Tak berselang lama diketahui bahwa hanya tiga tali pocong yang hilang, sedangkan kondisi jenazah masih utuh.

Pihak keluarga dan banyak warga setempat maupun perangkat desa merasa tidak habis pikir dengan peristiwa tersebut. Selain mempertanyakan motif pencurian, mereka juga menyayangkan karena mayat yang baru sehari dikubur telah diobrak-abrik, apalagi dilakukan di bulan Ramadhan.

“Saya tidak menyangka bahwa di zaman modern seperti sekarang ini masih ada yang melakukan perbuatan seperti itu,” sesal Djoko Purnomo, Kades Bagorejo.

Menurut keterangan yang diperoleh, Sapani meninggal dunia karena sakit di hari Selasa Kliwon (kalender Jawa), atau sehari menjelang datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Biasanya, makam orang yang meninggal pada hari itu akan dijaga warga atau keluarganya.

Langkah tersebut dilakukan setidaknya sampai tujuh hari tujuh malam. Pasalnya, sebagian orang Jawa, khususnya di Banyuwangi, masih percaya bahwa orang yang meninggal dunia pada hari Selasa Kliwon bagian tubuhnya atau kain kafannya dapat berguna sebagai ajimat sehingga menjadi incaran para penganut ilmu hitam.

Namun, warga yang tak percaya hal seperti itu tidak menjaga makam seseorang yang meninggal pada Selasa Kliwon, termasuk makam Sapani. Ternyata, makam yang dijaga tersebut dibongkar orang, kemudian tiga tali pocongnya dicuri. (uni)
Editor: Abi | Sumber :Surya

Ba'asyir Tetap Bungkam

| | | 0 komentar
Tersangka kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir tetap tidak bersedia menjawab segala pertanyaan yang akan disampaikan penyidik Bareskrim Polri dalam pemeriksaan lanjutan hari ini, Rabu (11/8/2010).
Ba'asyir diperiksa terkait pelatihan militer kelompok teroris di Aceh Besar. "Beliau akan tetap konsisten," ucap koordinator Tim Pembela Muslim, Ahmad Michdan, di Mabes Polri, Rabu (11/8/2010).
Dikatakan Michdan, sikap Ba'asyir tidak bersedia memberi keterangan kepada penyidik adalah untuk kali ketiga. Ba'asyir pernah menjawab ketika dikonfirmasi tentang pemberitaan media asing. "Itu sebelum bom bali," ujar Michdan.
Kabareskrim Mabes Polri Komjen Ito Sumardi mengatakan, pihaknya sedang mengklarifikasi bukti-bukti yang dimiliki dalam pemeriksaan. Pihaknya tidak akan memaksa yang bersangkutan jika tidak bersedia menjawab. "Tidak masalah. Itu hak tersangka," ujar dia.
Seperti diberitakan, Ba'asyir menolak menjawab lantaran menganggap Tim Densus 88 maupun penyidik Polri adalah perpanjangan tangan dari negara Amerika Serikat maupun Israel. "Kalau menjawab beliau mengangap akan kerja sama dengan negara-negara tadi," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Edward Aritonang, kemarin.

sumber kompas

Jepang Minta Maaf Telah Jajah Korea

| | | 0 komentar
Pemerintah Jepang, Selasa (10/8/2010), meminta maaf karena telah menjajah semenanjung Korea di masa lalu menjelang ulang tahun ke-100 aneksasi itu pada 29 Agustus ini.

Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, menyatakan penyesalan yang mendalam atas penderitaan yang terjadi pada masa penjajahan Jepang tahun 1910-1945. Permintaan maaf itu juga bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Korea Selatan (Korsel) 15 Agustus ini. Korsel merdeka tahun 1954.

Kan menyatakan penyesalannya yang mendalam dan permintaan maaf yang tulus atas kerusakan dan penderitaan luar biasa pada masa kolonial itu. "Pada masa pemerintah kolonial yang bertentangan dengan keinginan mereka... orang-orang Korea tercabut dari bangsa dan budaya mereka dan rasa kebanggaan etnis mereka terluka," kata Kan dalam pernyataan itu.

sumber kompas

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?