SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Ada Apa Dengan Perang Dunia

| | | 0 komentar
PERANG DUNIA I menandai mulai munculnya sejumlah besar gejala yang mematikan. Salah satu di antaranya adalah bahwa perang mulai menyerang tidak hanya pasukan tentara, tetapi juga rakyat sipil. Pengeboman pertama yang ditujukan kepada penduduk sipil adalah serangan pada tahun 1915 ke Inggris oleh pesawat zeppelin Jerman. Bom yang dijatuhkan dari pesawat zeppelin ini meminta korban nyawa banyak orang tak berdosa.
Kapal selam Jerman U-boat memulai operasi untuk menembaki kapal-kapal sipil yang melintasi Samudera Atlantik. Pada tanggal 7 Mei 1915, kapal lintas-atlantik terbesar di dunia, Lusitania, tenggelam tepat di dekat pantai Irlandia karena serangan kapal U-boat. Dari 2.000 orang penumpang Lusitania, sejumlah 1.195 orang tenggelam atau tewas dalam serangan tersebut.

Bencana perang lainnya adalah senjata kimia. Gas beracun, senjata yang pertama kali digunakan oleh Prancis dan kemudian juga oleh Jerman, menyebabkan kematian menyedihkan ribuan serdadu. Banyak serdadu menjadi buta karena gas tersebut, dan pasukan harus membagikan topeng anti gas sebagai alat pelindung. Rakyat sipil pun diberikan topeng anti gas untuk melindungi mereka dari ancaman yang seringkali mematikan ini. Bahkan anak-anak kecil pun binasa.

Medan paling ganas dari Perang Dunia I terlihat di Canakkale. Armada Prancis dan Inggris mendobrak garis pertahanan Kekhalifahan Utsmaniyyah dan memulai serangan ke arah Laut Hitam. Namun, armada terbesar di dunia ini terhenti dengan serta-merta saat berhadapan dengan pasukan meriam Turki.

Setelah menderita kekalahan di laut ini, Inggris mengirim pasukan darat ke Gallipoli. Tentara Turki menunjukkan jiwa kepahlawanan yang bersejarah dan memukul balik serangan ini. Setelah perang yang berlangsung selama berbulan-bulan, pasukan Inggris terpaksa menarik diri dari Canakkale. Sejumlah 250.000 serdadu Turki, ditambah dengan serdadu Anzac dan Inggris dalam jumlah yang hampir sama, menemui ajal mereka di sini.

Di pertempuran Gallipoli, tentara Kekhalifahan Utsmaniyyah Turki dengan gagah berani menghadang pasukan musuh yang dipimpin Inggris. Dalam pertempuran itu sekitar 250.000 serdadu Turki ditambah dengan serdadu Anzac dan Inggris dalam jumlah yang hampir sama, menemui ajal mereka.

Pada tahun 1918, Perang Dunia I akhirnya berakhir, setelah empat tahun serangan tanpa guna di tangan tentara Jerman, Prancis, dan Inggris. Namun perdamaian ini, yang dinyatakan pada jam 11 pagi, hari kesebelas dari bulan kesebelas, tidak membawa kebahagiaan untuk siapa pun.

Ratusan ribu serdadu menjadi cacat. Sebagian lainnya terbukti tidak mampu mengatasi dampak kejiwaan karena perang setelah tinggal di dalam parit yang penuh dengan lumpur, kotoran, dan mayat. Bentuk trauma yang dikenal sebagai “shell shock” atau “kejutan bom” sangat umum di antara para veteran perang, dan hal ini menyebabkan penderitanya mengalami serangan ketakutan dan goncangan yang berat. Rasa takut akan dibom, yang mereka alami setiap hari selama empat tahun berturut-turut, telah terukir di benak mereka. Ada beberapa penderita yang merasa harus segera bersembunyi hanya karena kata ‘bom’ disebutkan. Beberapa veteran bahkan merasa ngeri setiap kali mereka melihat seragam. Puluhan ribu serdadu juga kehilangan satu atau lebih anggota badannya dalam perang ini. Serdadu ini adalah tentara yang mata, dagu, atau hidungnya menjadi cacat selama pengeboman, sehingga topeng khusus diciptakan di Eropa untuk menyembunyikan wajah mereka yang cacat.

Derita yang parah akibat Perang Dunia I juga tercermin di dalam karya seni. Hasil karya sesudah perang menggambarkan kesakitan dan penyakit jiwa. Karya-karya ini tidak hanya mencerminkan keadaan jiwa sang seniman, namun juga keadaan jiwa seluruh generasi tersebut. Generasi yang merasakan akibat kesengsaraan perang yang sangat mendalam ini kemudian dijuluki “Generasi yang Hilang.”

Kehancuran yang diakibatkan oleh perang
Sebagaimana yang telah kita saksikan, perang adalah perantara kekejaman yang besar yang tidak bermanfaat bagi pribadi atau pun masyarakat. Perang adalah malapetaka kemanusiaan yang menimbulkan kepedihan besar dan menorehkan luka yang dalam kepada manusia, yang akan perlu waktu lama, jika dapat disembuhkan.

Allah, di lain pihak, telah memerintahkan manusia untuk menghindari perang dan mengutamakan perdamaian. Allah memberi kabar gembira untuk orang yang melakukan amal saleh:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Qashash, 28:83)
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (QS. Shaad, 38:28)

Jadi, apakah penyebab bencana ini, yang telah mengubah Eropa menjadi lautan darah? Mengapa para pemimpin negara-negara berkuasa menjerumuskan bangsa mereka ke dalam lembah kematian yang sia-sia ini?

sumber thomy265.wordpress.com

Tarakan, “Pearl Harbor” Indonesia yang Terlupakan

| | | 1 komentar
Sumber minyak mentah di bumi Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari sisi Amerika Serikat yang lebih membesar-besarkan kisah Perl Harbour. Tarakan, sebuah pulau kecil yang kaya minyak. Tarakan pernah menjadi surga bagi kolonialis Belanda. Begitu juga Jepang tatkala berhasil merebut pulau itu.

PULAU Tarakan di Kalimatan Timur bisa disebut sebagai “Pearl Harbour“-nya Indonesia. Drama pertempuran berdarah yang terjadi di pulau kecil ini adalah bagian penting sejarah Indonesia. Tetapi, sejarah itu terlupakan begitu saja. Pembahasan Perang Pasifik selama ini hanya seputar Pearl Harbor, perebutan Iwo Jima, kembalinya MacArthur ke Philipina, hingga bom atom Hirosima dan Nagasaki. Sejarah ala Paman Sam ini menggambarkan Amerika bangkit dari korban kekejaman agresor menjadi pahlawan perang.

Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu bala tentara Jepang pada dini hari, 11 Januari 1942. Diawali dengan serangan udara pesawat Jepang terhadap posisi pertahanan pasukan Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana.
Sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit angkatan laut Jepang, mendarat di pantai timur Tarakan dalam dua kelompok. Pihak Belanda berusaha bertahan, meski tanpa harapan untuk bisa mengusir tentara Nipon. Bermodalkan 1.300 serdadu Batalion VII KNIL, segelintir kapal perang ringan, pesawat tempur dan bomber.

Pulau kecil yang kaya minyak itu pun akhirnya bagaikan neraka. Sebelum pasukan Jepang mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar.,Dalam pertempuran tak seimbang itu, Belanda akhirnya kalah telak. Sebagian tentaranya tewas terbubuh, dibunuh dan lainnya menjadi tawanan. Tak sedikit pula korban di pihak sipil.
Namun, terjadilah balas dendam terhadap Jepang. Lagi- lagi Tarakan menjadi neraka. Pasukan sekutu yang berintikan tentara Australia dengan bantuan Amerika Serikat (AS) mulai menggempur posisi Jepang di Tarakan.

Demikianlah perang Tarakan seolah terlupakan. Menjelang Perang Pasifik berakhir, tepat 1 Mei 1945, Tarakan digempur oleh 20 ribu serdadu Australia melawan 2.000 angkatan laut Jepang. Drama kemanusiaan babak kedua terjadi di sana.
Gempuran pasukan sekutu terhadap pasukan Jepang, secara simultan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang dikuasi, mulai dari Malaya, Pattani, Philipina, Hongkong sampai wilayah Jepang sendiri. Hal ini menyebabkan bantuan dari negara induknya semakin sulit. Pasukan Jepang di Tarakan pun harus berjuang sendiri di tengah gempuran pasukan Australia yang telah lama menyimpan dendam kesumat. Pasukan sekutu yang sebelumnya berhasil diusir Jepang dari berbagai wilayah pendudukan di Asia, kembali bangkit.

Di Tarakan, pasukan Jepang tidak hanya kalah jumlah, tetapi teknologi persenjataan juga sudah ketinggalam dari yang dimiliki pasukan sekutu. Tetapi, jiwa patriotisme tentara Jepang yang pantang menyerah terhadap lawan, menjadikan di pihak tentara Australia banyak jatuh korban.

Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan dimakamkan di Tarakan. Ini merupakan sebuah tragedi bagi negeri Kangguru itu. Kabar memilukan bagi rakyat Australia terjadi ketika Letnan Thomas Derrick tewas di tangan penembak gelap tentara Jepang yang bersembunyi di hutan belantara Tarakan. Derrick dikenal sebagai sosok pemberani, pernah bertempur di Afrika, Papua, dan akhirnya gugur di Tarakan menjelang perang dunia kedua berakhir. Korban dari pihak Jepang sendiri juga cukup besar. Tercatat lebih dari 1.500 prajurit Jepang tewas saat merebut Tarakan dari tangan Belanda hingga pertempuran terakhir dengan pasukan Australia.

Kepulauan Nusantara, termasuk Asia Tenggara, pada dekade 1930- 1940 merupakan sumber utama bahan mentah bagi negara industri kapitalis Barat maupun Jepang. Bahan mentah, terutama pasokan bahan bakar minyak sangat vital bagi industri dan mesin perang mereka di Asia-Pasifik.
T
ak pelak lagi, konfrontasi berujung pada perang terbuka di Pasifik memang ditujukan untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak. Sasaran utama tersebut meliputi ladang-ladang minyak di Kalimantan Timur, Palembang di Sumatera dan Cepu di Jawa Tengah.

sumber .vivaborneo.com

Tersangka ‘Teroris’ yang Bebas Berkeliaran: Tabung Gas 3 Kg

| | | 0 komentar
Terlalu sering kita mendengar kisah tragis tentang meledaknya tabung Gas ukuran 3 Kg. Terlalu bosan pula kita mendengar ‘petuah’ para penyelenggara ini tentang cara menggunakan kompor & tabung ‘jatah’ ukuran 3 Kg.

Tabung gas ukuran 3 Kg adalah jenis tabung yg diproduksi atas pesanan pemerintah demi tercapainya program alih minyak tanah ke Gas. Sudah menjadi kebiasaan, setiap ada proyek dari pemerintah, apalagi ini termasuk mega proyek, selalu saja ada pihak2 yang ‘nakal’ yang coba coba cari untung dari kelemahan program ini.

Kelemahan ? Lihatlah, salah satu langkah utama dalam menjalankan program alih minyak tanah ke Gas ini adalah pembagian secara gratis seperangkat kompor komplit, yang diperuntukkan bagi warga pedesaan dan atau warga kota yg berekonomi lemah, yang sebelumnya selalu mengandalkan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk masak memasak. Sebagaimana biasa, pemerintah tidak atau kurang melakukan kontrol terhadap peralatan yang diperuntukan bagi rakyat kecil/ pedesaan.Padahal kompor gas tidaklah sesederhana kompor minyak tanah yang sistim kerjanya mudah dipahami oleh orang paling bodoh sekalipun. Belum lagi sifat mudah terbakarnya yang menimbulkan kerawananan kerawanan baru, hingga setiap ketidak standaran alat Gratisan ini punya potensi ancaman kebakaran dan atau ledakan. Timbulnya ketidak standaran tabung, slang dan regulator sangat dimungkinkan oleh sistim pengadaanya yg Dibagikan Secara Gratis. Sesuatu yang diperoleh secara Gratis menjadikan si penerima merasa sungkan ( tidak enak hati ) kalau ternyata barang yang diterimanya cacat atau tidak sesuai standar. Sehingga, munculnya resiko kebakaran dan atau ledakan tinggal soal waktu belaka.

Sikap nrimo dari kaum marginal inilah yang segera dimanfaatkan oleh oknum2 pengusaha nakal yg ingin meraup untung dengan mensiasati kompor & tabung gratisan ini. Apa saja yg mereka curangi ? Yang mudah ditelusuri secara awam adalah pengurangan isi tabung. Yang seharusnya 3 Kg menjadi berkurang hingga tinggal 2,5 atau 2,25 Kg. Yang sulit dtelusuri adalah dari pihak produsen Kompor -Tabung serta perangkat pendukungnya seperti, regulator, slang dll.Kesulitan untuk mengetahui kestandaran alat kompor &tabungnya ini adalah karena itu merupakan pekerjaan khusus dari petugas yang terlatih yang memahami hal2 teknis tentang apa dan bagaimana bentuk selang dan regulator yg memenuhi standar keamanan/ layak pakai.

Lihatlah, Belakangan marak diberitakan oleh media massa, tentang munculnya beberapa Agen Gas yang nakal yang secara amatiran melakukan penguran isi Gas tabung 3 Kg (Bersubsidi) lalu dipindahkan ke Tabung ukuran 12 Kg ( non Subsidi).

Ini jelas merugikan negara dan masyarakat konsumen. Konsumen 3 Kg rugi dalam dua hal . Pertama, ia mendapat Gas yang tidak utuh. Kedua, ia mendapat tabung yang telah dibuka segelnya untuk proses transfer Gas oleh pengusaha yg yang nakal tersebut ,sehingga patut dicurigai bahwa tabung tersebut telah berkurang tingkat kestandarannya akibat terbukanya segel dan terjadinya proses transfer tsb, sehingga resiko kecelakaanpun meningkat.

Kalau densus 88 sedang disibukkan oleh tingkah polah para ektreemis -teroris yang bisa meledakkan sebuah tempat tanpa diduga kapan dan dimana terjadinya hingga menbuat hati kita cemas dan was was, maka saat ini pun muncul sumber kecemasan baru dari “oknum teroris” yang bahkan keberadaannya amat dekat dengan kita . Selalu berada di sekitar kita. Sewaktu waktu bisa muncul muncul aksi terornya. Jleger..!! DDuarr..!. Ada ledakan hebat. Ada aksi teroris..?

“Iya, Mas…Teroris nya berbaju hijau muda. Kecil, imut imut. Banyak sekali temennya, merata di seluruh Indonesia. TABUNG GAS 3 kG….!!! “


sumber kompasiana

Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah

| | | 0 komentar
” Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

“Terkadang kita terus berpikir, apa yang ditinggalkan dari kita setelah kita mati…..”

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?