SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Tarakan, “Pearl Harbor” Indonesia yang Terlupakan

| | | 1 komentar
Sumber minyak mentah di bumi Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari sisi Amerika Serikat yang lebih membesar-besarkan kisah Perl Harbour. Tarakan, sebuah pulau kecil yang kaya minyak. Tarakan pernah menjadi surga bagi kolonialis Belanda. Begitu juga Jepang tatkala berhasil merebut pulau itu.

PULAU Tarakan di Kalimatan Timur bisa disebut sebagai “Pearl Harbour“-nya Indonesia. Drama pertempuran berdarah yang terjadi di pulau kecil ini adalah bagian penting sejarah Indonesia. Tetapi, sejarah itu terlupakan begitu saja. Pembahasan Perang Pasifik selama ini hanya seputar Pearl Harbor, perebutan Iwo Jima, kembalinya MacArthur ke Philipina, hingga bom atom Hirosima dan Nagasaki. Sejarah ala Paman Sam ini menggambarkan Amerika bangkit dari korban kekejaman agresor menjadi pahlawan perang.

Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu bala tentara Jepang pada dini hari, 11 Januari 1942. Diawali dengan serangan udara pesawat Jepang terhadap posisi pertahanan pasukan Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana.
Sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit angkatan laut Jepang, mendarat di pantai timur Tarakan dalam dua kelompok. Pihak Belanda berusaha bertahan, meski tanpa harapan untuk bisa mengusir tentara Nipon. Bermodalkan 1.300 serdadu Batalion VII KNIL, segelintir kapal perang ringan, pesawat tempur dan bomber.

Pulau kecil yang kaya minyak itu pun akhirnya bagaikan neraka. Sebelum pasukan Jepang mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar.,Dalam pertempuran tak seimbang itu, Belanda akhirnya kalah telak. Sebagian tentaranya tewas terbubuh, dibunuh dan lainnya menjadi tawanan. Tak sedikit pula korban di pihak sipil.
Namun, terjadilah balas dendam terhadap Jepang. Lagi- lagi Tarakan menjadi neraka. Pasukan sekutu yang berintikan tentara Australia dengan bantuan Amerika Serikat (AS) mulai menggempur posisi Jepang di Tarakan.

Demikianlah perang Tarakan seolah terlupakan. Menjelang Perang Pasifik berakhir, tepat 1 Mei 1945, Tarakan digempur oleh 20 ribu serdadu Australia melawan 2.000 angkatan laut Jepang. Drama kemanusiaan babak kedua terjadi di sana.
Gempuran pasukan sekutu terhadap pasukan Jepang, secara simultan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang dikuasi, mulai dari Malaya, Pattani, Philipina, Hongkong sampai wilayah Jepang sendiri. Hal ini menyebabkan bantuan dari negara induknya semakin sulit. Pasukan Jepang di Tarakan pun harus berjuang sendiri di tengah gempuran pasukan Australia yang telah lama menyimpan dendam kesumat. Pasukan sekutu yang sebelumnya berhasil diusir Jepang dari berbagai wilayah pendudukan di Asia, kembali bangkit.

Di Tarakan, pasukan Jepang tidak hanya kalah jumlah, tetapi teknologi persenjataan juga sudah ketinggalam dari yang dimiliki pasukan sekutu. Tetapi, jiwa patriotisme tentara Jepang yang pantang menyerah terhadap lawan, menjadikan di pihak tentara Australia banyak jatuh korban.

Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan dimakamkan di Tarakan. Ini merupakan sebuah tragedi bagi negeri Kangguru itu. Kabar memilukan bagi rakyat Australia terjadi ketika Letnan Thomas Derrick tewas di tangan penembak gelap tentara Jepang yang bersembunyi di hutan belantara Tarakan. Derrick dikenal sebagai sosok pemberani, pernah bertempur di Afrika, Papua, dan akhirnya gugur di Tarakan menjelang perang dunia kedua berakhir. Korban dari pihak Jepang sendiri juga cukup besar. Tercatat lebih dari 1.500 prajurit Jepang tewas saat merebut Tarakan dari tangan Belanda hingga pertempuran terakhir dengan pasukan Australia.

Kepulauan Nusantara, termasuk Asia Tenggara, pada dekade 1930- 1940 merupakan sumber utama bahan mentah bagi negara industri kapitalis Barat maupun Jepang. Bahan mentah, terutama pasokan bahan bakar minyak sangat vital bagi industri dan mesin perang mereka di Asia-Pasifik.
T
ak pelak lagi, konfrontasi berujung pada perang terbuka di Pasifik memang ditujukan untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak. Sasaran utama tersebut meliputi ladang-ladang minyak di Kalimantan Timur, Palembang di Sumatera dan Cepu di Jawa Tengah.

sumber .vivaborneo.com

Tersangka ‘Teroris’ yang Bebas Berkeliaran: Tabung Gas 3 Kg

| | | 0 komentar
Terlalu sering kita mendengar kisah tragis tentang meledaknya tabung Gas ukuran 3 Kg. Terlalu bosan pula kita mendengar ‘petuah’ para penyelenggara ini tentang cara menggunakan kompor & tabung ‘jatah’ ukuran 3 Kg.

Tabung gas ukuran 3 Kg adalah jenis tabung yg diproduksi atas pesanan pemerintah demi tercapainya program alih minyak tanah ke Gas. Sudah menjadi kebiasaan, setiap ada proyek dari pemerintah, apalagi ini termasuk mega proyek, selalu saja ada pihak2 yang ‘nakal’ yang coba coba cari untung dari kelemahan program ini.

Kelemahan ? Lihatlah, salah satu langkah utama dalam menjalankan program alih minyak tanah ke Gas ini adalah pembagian secara gratis seperangkat kompor komplit, yang diperuntukkan bagi warga pedesaan dan atau warga kota yg berekonomi lemah, yang sebelumnya selalu mengandalkan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk masak memasak. Sebagaimana biasa, pemerintah tidak atau kurang melakukan kontrol terhadap peralatan yang diperuntukan bagi rakyat kecil/ pedesaan.Padahal kompor gas tidaklah sesederhana kompor minyak tanah yang sistim kerjanya mudah dipahami oleh orang paling bodoh sekalipun. Belum lagi sifat mudah terbakarnya yang menimbulkan kerawananan kerawanan baru, hingga setiap ketidak standaran alat Gratisan ini punya potensi ancaman kebakaran dan atau ledakan. Timbulnya ketidak standaran tabung, slang dan regulator sangat dimungkinkan oleh sistim pengadaanya yg Dibagikan Secara Gratis. Sesuatu yang diperoleh secara Gratis menjadikan si penerima merasa sungkan ( tidak enak hati ) kalau ternyata barang yang diterimanya cacat atau tidak sesuai standar. Sehingga, munculnya resiko kebakaran dan atau ledakan tinggal soal waktu belaka.

Sikap nrimo dari kaum marginal inilah yang segera dimanfaatkan oleh oknum2 pengusaha nakal yg ingin meraup untung dengan mensiasati kompor & tabung gratisan ini. Apa saja yg mereka curangi ? Yang mudah ditelusuri secara awam adalah pengurangan isi tabung. Yang seharusnya 3 Kg menjadi berkurang hingga tinggal 2,5 atau 2,25 Kg. Yang sulit dtelusuri adalah dari pihak produsen Kompor -Tabung serta perangkat pendukungnya seperti, regulator, slang dll.Kesulitan untuk mengetahui kestandaran alat kompor &tabungnya ini adalah karena itu merupakan pekerjaan khusus dari petugas yang terlatih yang memahami hal2 teknis tentang apa dan bagaimana bentuk selang dan regulator yg memenuhi standar keamanan/ layak pakai.

Lihatlah, Belakangan marak diberitakan oleh media massa, tentang munculnya beberapa Agen Gas yang nakal yang secara amatiran melakukan penguran isi Gas tabung 3 Kg (Bersubsidi) lalu dipindahkan ke Tabung ukuran 12 Kg ( non Subsidi).

Ini jelas merugikan negara dan masyarakat konsumen. Konsumen 3 Kg rugi dalam dua hal . Pertama, ia mendapat Gas yang tidak utuh. Kedua, ia mendapat tabung yang telah dibuka segelnya untuk proses transfer Gas oleh pengusaha yg yang nakal tersebut ,sehingga patut dicurigai bahwa tabung tersebut telah berkurang tingkat kestandarannya akibat terbukanya segel dan terjadinya proses transfer tsb, sehingga resiko kecelakaanpun meningkat.

Kalau densus 88 sedang disibukkan oleh tingkah polah para ektreemis -teroris yang bisa meledakkan sebuah tempat tanpa diduga kapan dan dimana terjadinya hingga menbuat hati kita cemas dan was was, maka saat ini pun muncul sumber kecemasan baru dari “oknum teroris” yang bahkan keberadaannya amat dekat dengan kita . Selalu berada di sekitar kita. Sewaktu waktu bisa muncul muncul aksi terornya. Jleger..!! DDuarr..!. Ada ledakan hebat. Ada aksi teroris..?

“Iya, Mas…Teroris nya berbaju hijau muda. Kecil, imut imut. Banyak sekali temennya, merata di seluruh Indonesia. TABUNG GAS 3 kG….!!! “


sumber kompasiana

Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah

| | | 0 komentar
” Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

“Terkadang kita terus berpikir, apa yang ditinggalkan dari kita setelah kita mati…..”

Kemurahan Alam Tengger yang Menakjubkan

| | | 0 komentar

Jam menunjukkan pukul 04.15. Dari atas Gunung Pananjakan (2.774 meter di atas permukaan laut) terlihat warna kuning membias di ufuk timur. Perlahan-lahan disusul warna jingga. Semakin lama membias warna merah. Tatkala Matahari menampakkan diri, langit pun terang.

Pada saat berbarengan terjadi perubahan di kawasan Laut Pasir atau Segara Wedi. Dari semula gelap, berangsur tampak gumpalan kabut putih berarak-arak. Kabut makin tipis dan terlihatlah Gunung Bromo (berwarna perak kecoklatan).
Di sebelahnya Gunung Batok terlihat hijau dengan galur-galur vertikal. Demikian pula Pegunungan Tengger yang mengelilingi Gunung Bromo terlihat hijau, kuning sehingga kontras dengan warna Bromo yang putih perak kecoklatan.

Sekitar 90 menit eksotika kawasan itu terlihat jelas. Kemudian, datanglah kabut putih menyelimuti sebagian kawasan itu. ”Anda beruntung cuaca bagus sehingga bisa melihat kawasan Bromo dengan terang,” ujar Misnan, penyewa kuda di Laut Pasir.
Javier Ginebreda (24), turis dari Barcelona, Spanyol, mengaku mendapat dua hal terindah dalam hidupnya. ”Menyaksikan Spanyol menjadi pemenang Piala Dunia sama bagusnya dengan menyaksikan lanskap Bromo dan Semeru,” kata Javier.

Gunung Bromo (2.392 mdpl) merupakan obyek wisata di Jawa Timur yang sudah dikenal secara internasional. Lokasinya bisa ditempuh dari empat penjuru, dari Lumajang, Malang, Pasuruan, atau Probolinggo. Dua jalur terakhir sudah lebih tertata, sedangkan jalur Lumajang dan Malang kurang didukung akses jalan dan sarana lain yang memadai.
Jalur Pasuruan bisa ditempuh dari Kota Pasuruan-Tosari-Pananjakan-Bromo sekitar 71 kilometer. Adapun dari Probolinggo-Tongas-Ngadisari-Bromo jaraknya 64 kilometer.

Semua mobil pribadi harus berhenti di Tosari atau Ngadisari. Dilanjutkan ke Bromo-Pananjakan dengan wajib menyewa jip Hardtop Rp 300.000 maksimal untuk 5 orang. Jika mau sampai di Padang Savana, ditambah Rp 200.000. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga menyediakan asuransi bagi turis lokal Rp 4.500 dan asing Rp 24.000.
Di Tosari maupun Ngadisari tersedia hotel dengan tarif sekitar Rp 400.000 maupun home stay bertarif Rp 150.000-Rp 250.000 per kamar per malam.

Keunikan Bromo adalah Laut Pasir seluas 5.250 hektar yang hampir mengelilingi gunung tersebut. Ada banyak obyek wisata gunung berapi, seperti Gunung Kelud dan Ijen (Jawa Timur), Tangkubanparahu (Jawa Barat), Merapi (Jawa Tengah), tetapi yang memiliki hamparan laut pasir demikian hanya Bromo.

Tentu saja eksotika Bromo tidak hanya dilihat dari Pananjakan saat pagi hari. Dari titik Bromo bisa dilihat Pegunungan Tengger yang juga penuh pesona. Terlihat Gunung Batok yang memiliki galur-galur tertata rapi dan bagian atasnya datar menyerupai helipad. Puncak Gunung Semeru yang runcing sesekali menyembulkan asap.

Jika mau meluangkan waktu, bisa pergi ke Padang Savana yang berada di sisi utara Bromo, hamparan padang rumput yang luas. Saat angin bertiup, akan terlihat seperti lapisan buih yang berkejar-kejaran. Dan saat didekati, hamparan putih berubah jadi kuning karena rumput itu kering.
Di Padang Savana, sebelah-menyebelah adalah bukit yang hijau. Di sebelah kanan dari arah Bromo terlihat gundukan-gundukan bukit yang berundak-undak berwarna hijau seperti taman yang rumputnya dipangkas dengan mesin pemotong rumput. Masyarakat menyebutnya bukit Teletubbies karena bentuknya mirip dengan rumah film TV boneka Teletubbies. Segala pesona ini masih dilengkapi bunga warna-warni yang tumbuh secara alami dan kicau pelbagai macam jenis burung.

Tentu saja menaiki puncak Gunung Bromo adalah tujuan utama wisata. Tidak sulit untuk mencapai puncaknya. Setelah berhenti di tempat parkir mobil di Segara Wedi, pengunjung berjalan sampai ke puncak sekitar 2,5 kilometer. Bisa juga menunggangi kuda yang disewakan Rp 50.000 sekali jalan. Kemudian naik setinggi sekitar 292 meter, termasuk lewat 249 anak tangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Sesampai di puncak, pengunjung akan menyaksikan lingkaran kawah, yang dari dasarnya menyemburkan asap putih berbau belerang.

Pemberdayaan ekonomi

Puncak pesona Bromo terjadi saat berlangsung tradisi upacara Kasada—dan tahun ini akan jatuh pada 24-25 Agustus. Upacara ini berupa mempersembahkan hasil produksi pertanian, ternak, dan uang ke kawah Gunung Bromo dari masyarakat subkultur Tengger.

Masyarakat subkultur Tengger adalah masyarakat yang secara tradisional dan turun-temurun tinggal di kawasan Pegunungan Tengger. Mereka menempati lebih dari 20 desa yang tersebar di empat kabupaten, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. ”Orang Tengger pasti mengikuti upacara Kasada. Ini upacara adat yang terlepas dari apa pun agamanya,” kata Trisno Sudigdo, Ketua Koperasi Wisata Bromo Tengger Sejahtera.

Salidi, warga Desa Ranu Pani, mengatakan, semua orang Tengger harus ikut Kasada karena sebagai keturunan Jaka Anteng dan Rara Seger. Kalau sampai tidak ikut Kasada, akan kuwalat (terkutuk). Tua-muda, bahkan anak-anak, selagi masih kuat, akan pergi ke kawah Bromo untuk mempersembahkan sesaji. Bagi masyarakat Tengger, Bromo adalah gunung suci.

Secara ekonomis, masyarakat Tengger juga memperoleh manfaat dari keberadaan Bromo sebagai obyek wisata. Melalui koperasi, mereka memonopoli angkutan jip Hardtop dan penyewaan kuda. Mereka juga memperoleh dampak ekonomis dari pengelolaan home stay, perdagangan, dan jasa.

Trisno, yang berpendidikan S-2, suatu tingkat pendidikan yang sangat langka di masyarakat Tengger, punya obsesi agar Bromo lebih memberdayakan ekonomi masyarakat Tengger. Oleh karena itu, ia merancang wisata kuliner Tengger.
Selain Kasada, ada upacara masyarakat Tengger yang bisa dijadikan obyek wisata, sebutlah upacara unik Karo, Unan-unan, perkawinan, dan Nyewu. Sedangkan tradisi Gegeni—menerima tamu di sekitar tungku perapian—mestinya bisa jadi obyek wisata juga.

sumber kompas.com

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?