SPANDUK Rp. 6.500,-/m Hub: 021-70161620, 021-70103606

Warga Diancam Oknum Pemerintah Agar Menolak Greenpeace

| | | 0 komentar
Sejumlah aktivis Greenpeace membatalkan keputusan mereka untuk meninggalkan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar, Riau dengan tetap bertahan di kamp perlindungan iklim menyusul didapatkannya dukungan dari warga setempat.

"Kami menarik keputusan kemarin dan menyatakan tetap bertahan di rawa gambut ini karena diminta warga," kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, di Semenanjung Kampar, Riau, Minggu (15/11).

Sebelumnya, ratusan warga dari Semenanjung Kampar mendatangi Kamp Perlindungan Iklim Greenpeace yang berada di tepi Sungai Kampar dan menyatakan dukungan agar para penggiat lingkungan itu tidak ke luar dari daerah itu.

Menurut warga, jumlah masyarakat yang menolak kehadiran Greenpece di Semenanjung Kampar dan melakukan demonstrasi sehari sebelumnya jauh lebih sedikit dibanding warga yang mendukung.

Karena sejak para penggiat lingkungan itu hadir dan kemudian mendirikan kamp yang bertujuan menyelamatkan hutan Indonesia, membawa dampak positif bagi warga khususnya terkait ancaman kerusakan hutan alam di daerah itu.

Bustar membantah jika aksi dukungan warga tersebut merupakan manuver terhadap perlawanan masyarakat yang tidak menginginkan Greenpeace. Pihaknya juga mengaku tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk aksi dukungan tersebut.

Pihaknya juga telah berkonsultasi baik dengan kuasa hukum atau kepolisian setempat dan keputusan Greenpeace untuk tetap bertahan di area lahan gambut itu bukan merupakan tindakan yang melawan hukum.

"Opini terjadi penolakan di tengah masyarakat merupakan hal yang tidak benar, namun sepenuhnya diserahkan kepada keputusan aparat hukum setempat," katanya.

"Secara profesional, jika polisi ingin mengusir kami silakan, tapi kami akan tetap bertahan bersama masyarakat," tegasnya.

Di lokasi itu warga mendukung Greenpeace setelah sehari sebelumnya mereka ikut berdemonstrasi. Mereka mengaku menyesal dan menyatakan ketidaktahuan kalau mereka telah diperalat.

Suwandi (20), warga Desa Teluk Meranti, mengatakan, beberapa hari sebelum aksi penolakan itu digelar tekanan dan ancaman yang didapat warga dari aparatur pemerintah setempat cukup tinggi.

Bagi mereka yang berstatus sebagai guru honor akan diberhentikan dan bagi mereka yang berstatus pegawai negeri sipil diancaman mutasi jika tidak mendukung hengkangnya Greenpeace dari kawasan hutan alam itu.

"Warga telah dibodohi, diadu domba dan diperalat. Jika mereka tetap mengusir Greenpeace maka PT Riau Andalan Pulp and Paper juga harus diusir karena telah merusak hutan kami," ujarnya.


BNJ

Editor: bnj

Sumber : ANT

Pascaorde Baru, Masa Subur Teroris di Indonesia

| | | 0 komentar
Reformasi yang bergulir dalam sistem politik Indonesia pada 1999, secara tidak langsung ikut berperan dalam memberikan ruang gerak bagi para pelaku teror ke Indonesia. Mereka berbondong-bondong masuk ke Indonesia untuk menyusun kekuatan.

Berdasarkan data dari kepolisian, sebanyak 464 tersangka teroris telah berhasil dibekuk jajaran kepolisian RI pada rentang waktu 10 tahun. Yaitu dari 1999 silam hingga kini.

Banyaknya jumlah tersangka teroris yang ditangkap menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil teroris terbesar di dunia. Tak hanya beraksi di Indonesia, para teroris asal Indonesia juga disinyalir ikut berpartisipasi di Timur Tengah dan belahan bumi lain, seperti Filipina.

Dari deretan nama teroris yang berhasil ditangkap, praktis hanya Noordin M Top dan Ali yang berasal dari luar negeri. Lainnya merupakan warga pribumi. Mereka ditangkap karena terlibat dalam sejumlah aksi pengeboman. Di antaranya :

1. Pengeboman Plaza Hayam Wuruk dan Masjid Istiqlal pada 1999

2. Pengeboman Gereja GKPI dan Gereja Katolik Medan serta Kedubes Filipina pada 2000.

3. Plaza Atrium Senen pada 2001

4. Peledakan beberapa gereja di malam Natal pada tahun 2000 dan 2001.

5. Peledakan di Kuta Bali dan Mc Donald Makassar pada 2002.

6. Peledakan di JW Marriot pada 2003.

7. Peledakan Kedubes Australia pada 2004.

8. Bom Bali II pada 2005,

9. Bom JW Marriott dan Ritz Carlton pada 2009.

Para tersangka teror sebagian tewas saat menjalankan aksinya, berhasil ditangkap hidup, maupun mati. Keterangan di atas berasal dari Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, Senin (12/10/2009). "Kepolisian tidak akan lengah dan tetap bekerja. 10 tahun tim tetap mengikuti pergerakan teroris di lapangan," ujar dia.

Nanan menjelaskan, dari 464 tersangka teroris, 40 orang tewas saat penggerebekan oleh tim Densus 88. Sedangkan teroris yang ditangkap hidup sebanyak 12 orang. Selain itu, Densus juga memulangkan 24 orang karena tidak terlibat dalam terorisme usai diperiksa oleh penyidik.

Klasifikasi lain, teroris yang telah divonis dipengadilan sebanyak 334 orang, telah bebas usai menjalani hukuman sebanyak 204, dan masih menjalani hukuman sebanyak 130 orang.

Khusus untuk kasus pengeboman Mega Kuningan pada 2009, polisi telah menangkap 21 tersangka. 11 tersangka ditangkap dalam keadaan tewas dan 10 tersangka berhasil ditangkap hidup-hidup.

Mereka yang tewas adalah Dani Dwi Permana, Nana Ichwan Maulana, Air Setyawan, Eko Sarjono, Ibrohim, Budi Bagus Pranoto alias Urwah, Noordin M Top, Ario Sudarsono, Susilo, Syaifudin Zuhri, dan Syahrir.

Adapun yang berhasil ditangkap hidup adalah Amir Abdillah, Aris Susanto, Indra Arif Hermawan, M Jibril, Ali, Rohmad Puji Prabowo alias Bejo, Supono alias Kedu, Putri Munawwaroh, Fajar Firdaus, dan Sonny Jayadi.

Meski sudah diberantas Densus 88 Antiteror, namum keberadaan kelompok teroris di Indonesia masih kuat. Itu karena mereka menggunakan dua metode dalam melestarikan organisasinya. "Yaitu dengan metode dakwah dan metode aksi militer," ujar dia.

Dalam kaitan itu, Abu Bakar Ba?asyir bertugas di wilayah dakwah dan pendidikan. Adapun wilayah lain digarap Abdullah Sungkar dan para penerusnya, seperti almarhum Amrozi Cs dan Noordin M Top. "Sepeninggal Noordin masih ada Zulkarnaen dan Jajak. Mereka rekan seangkatan Noordin, tapi usianya lebih muda," terangnya.

Teroris Bangkit, Setelah "Tidur" 14 Tahun

| | | 0 komentar
Setelah tidur selama hampir 14 tahun, aksi teror kembali menyeruak di Tanah Air yang dimulai dengan aksi bom Masjid Istiqlal, pada 1999 silam. Teror pun terus bergulir hingga kini.

Dalam rentang waktu tahun 1985 hingga 1999 tercatat sejumlah aksi pengeboman di Indonesia. Namun skalanya dan dampaknya relatif kecil.

Pengeboman Masjid Istiqlal terjadi pada 19 April 1999 kuat dugaan bom Istiqlal bermotif mengadu domba antar-umat beragama. Pelakunya adalah Eddy Ranto alias Umar. Dia adalah lulusan sebuah sekolah teknik kejuruan, jurusan elektronika, di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Pria beristri dua ini pernah bekerja sebagai staf bagian perawatan anak perusahaan otomotif Astra. Gawatnya, Eddy disebut aparat sebagai pemimpin sebuah gerakan Islam bernama AMIN (Angkatan Mujahiddin Islam Nusantara). Belakangan polisi lebih senang menyebut mereka Kelompok Amir.

"Tapi insiden ini lebih condong ke bentuk state terorism. Hingga kini dalang pengeboman belum diketahui identitasnya," ujar pengamat terorisme Al Chaidar kepada okezone di Jakarta.

Teror bom pun berlanjut dimana-mana

Setelah pengeboman Masjid Istiqlal, teror menggunakan bom seolah menjadi tradisi di Indonesia. Tercatat pada tahun 2000 saja terdapat empat peristiwa pengeboman di Tanah Air. Jumlah peristiwa pengeboman serupa juga berlanjut pada tahun 2001. Baru pada tahun 2002, jumlah peristiwa pengeboman turun menjadi tiga kasus. Pada tahun 2003 dan 2004 jumlah pengeboman di Indonesia stagnan tiga kasus.

Baru para tahun 2005 jumlahnya naik menjadi lima kasus. Namun pada rentang waktu empat tahun kemudian teror bom absen di Indonesia. Pada 17 Juli 2009 ledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton kembali mengejutkan publik. Apalagi jumlah korbannya cukup besar. Sembilan meninggal dan puluhan luka-luka.

Berikut daftar kasus pengeboman di Indonesia:

Tahun 2000

1. Bom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. Dua orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.

2. Bom Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.

3. Bom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.

4. Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.

Tahun 2001

1. Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. 5 orang tewas.

2. Bom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.

3. Bom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.

4. Bom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.

Tahun 2002

1. Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.

2. Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.

3. Bom restoran McDonald's, Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.

Tahun 2003

1. Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3 Februari 2003, Bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada korban jiwa.

2. Bom Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 27 April 2003. Bom meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan ringan.

3. Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka.

Tahun 2004

1. Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang. (BBC)

2. Bom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. (Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)

3. Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.

Tahun 2005

1. Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005

2. Bom Tentena, 28 Mei 2005. 22 orang tewas.

3. Bom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.

4. Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.

5. Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

Tahun 2009

1. Bom Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Sembilan orang tewas dan puluhan luka-luka.(

sumber okezone

Candi Borobudur Korban Aksi Terorisme

| | | 0 komentar
Setelah insiden pembajakan pesawat Garuda DC 9 Woyla oleh anggota Komando Jihad pada tahun 1981, aksi teror lanjutan terjadi di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 15 Januari 1985.

Sebuah ledakan cukup dahsyat menghancurkan tujuh stupa pada candi peninggalan Dinasti Syailendra itu. Peledakan Candi Borobudur hingga kini masih menyisakan misteri siapa otak pelakunya.

Memang ada nama Ibrahim alias Mohammad Jawad yang disebut-sebut sebagai dalang pengeboman. Namun sosoknya tetap misterius, karena hingga kini aparat belum berhasil meringkusnya.

Pengeboman Candi Borobudur juga disebut-sebut berkaitan dengan kasus kecelakaan ledakan bom di bus Pemudi Express di Banyuwangi pada 16 Maret 1985 dan peledakan Gereja Sasana Budaya Katolik Magelang beberapa waktu setelahnya.

Polisi lantas menangkap Abdulkadir Ali Alhabsyi dan Husein Ali Alhabsy. Keduanya dituding sebagai pelaku peledakan. Abdulkadir lantas divonis Pengadilan Negeri Malang dengan hukuman penjara 20 tahun. Husein sendiri dihukum seumur hidup sebelum kemudian mendapat grasi dari Presiden BJ Habibie. Husein sendiri menolak tuduhan atas keterlibatannya dalam peledakan Borobudur dan menuding Mohammad Jawad, sebagai dalangnya.

Dalam persidangan, jaksa menuduh bahwa tindakan pengeboman terhadap Candi Borobudur merupakan aksi balas dendam Abdulkadir dan kawan-kawan terhadap peristiwa Tanjungpriok berdarah pada 1983, yang menewaskan puluhan nyawa umat Islam.

Albdulkadir membenarkan motivasi peledakan itu sebagai ungkapan ketidakpuasannya atas peristiwa berdarah itu. Namun, keterangan itu sempat diragukan karena Mohammad Jawad, orang yang disebut Husein sebagai dalangnya, tidak pernah ditemukan oleh aparat.

Peristiwa itu juga meragukan dipandang dari konteks politik kala itu, ketika sejumlah elit politik yang bercokol di punggung rezim Orde Baru memberlakukan politik anti-Islam. Peledakan candi yang disebut satu dari tujuh keajaiban dunia itu dianggap sebagai rekayasa dari kelompok anti-Islam untuk menyudutkan kelompok Islam.

Motif itu semakin kentara karena Abdulkadir mengaku dia tidak mengetahui persis rencana pengeboman. Dia dan ketiga kawan lain pada awalnya hanya sekadar diajak oleh Mohammad Jawad untuk berekreasi. Sebelum kemudian dia berhasil dibujuk untuk mengebom Candi Borobudur. (ful)(ahm)

sumber okezone

populer

Layak dibaca

IKUT TAMPIL....... BOLEH....?